Mencari Tuhan Yang Benar


MENCARI TUHAN YANG BENAR

(Kajian #AWAramadhan18 ke 2: Klasifikasi Sifat Ketuhanan)

Oleh: Kiyai Abdul Wahab Ahmad

Sebelumnya kita sudah membahas bahwa kewajiban pertama seorang manusia adalah mengenal Allah dengan baik sehingga kita sampai pada keyakinan bahwa Allah adalah Tuhan yang memang layak disembah. Kali ini kita akan membahas tentang apa saja kriteria Tuhan yang sejati yang layak disembah itu? Sejarah manusia mengajarkan pada kita begitu banyak oknum yang dianggap sebagai Tuhan oleh manusia, mulai dari benda mati, roh, bintang dan planet, sosok manusia tertentu hingga bayangan abstrak di benak masing-masing orang. Mana yang benar dari seluruh sesembahan itu? Bagaimana cara kita memililah dan memilihnya? Dan, apakah bayangan yang ada dalam benak kita tentang sosok Tuhan sudah benar?

Sebelum kita menjawab seluruh pertanyaan ini, Mari kita beralih sejenak pada contoh yang lain untuk memudahkan. Apabila kita melihat sebuah pesawat yang begitu menakjubkan, begitu canggih dan begitu besarnya lalu timbul pertanyaan dalam benak kita siapakah yang membuatnya? Maka untuk mencarinya kita harus punya kriteria tentang perusahaan yang kira-kira menciptakan pesawat tersebut, misalnya: perusahaan tersebut pasti perusahaan besar dengan jumlah omset yang luar biasa, pasti punya area pabrik yang sangat luas dan pasti punya teknologi yang terkini.

Apabila ada perusahaan yang mengklaim sebagai pembuat pesawat tersebut tetapi ternyata perusahaannya miskin, area pabriknya sempit dan teknologi yang dipakainya jadul, maka kita akan berkesimpulan bahwa perusahaan tersebut tak mungkin pencipta pesawat yang menakjubkan itu. Kriteria ini adalah kriteria pasti yang tidak bisa ditawar tawar lagi kebenarannya dan tak perlu dikroscek kevalidannya. Tak mungkin perusahaan miskin membuat pesawat luar biasa, tak mungkin perusahaan dengan lahan sempit membuat pesawat besar dan tak mungkin perusahaan dengan teknologi jadul mampu membuat pesawat canggih dengan teknologi terkini. Kita sebut kriteria ini sebagai kriteria wajib.

Tetapi apabila ada perusahaan yang mengklaim sebagai pencipta pesawat itu sifat-sifatnya adalah menghadap ke arah barat, catnya warna biru dan lantainya 7 tingkat, maka informasi ini tak bisa kita pastikan kebenarannya sebelum dikroscek. Informasi seperti ini bisa saja benar dan bisa saja tidak benar sebab sama sekali tidak esensial sebagai kriteria utama perusahaan pembuat pesawat hebat tadi. Kita sebut kriteria ini sebagai kriteria yang boleh-boleh saja atau tidak wajib.

Sekarang, setelah kita paham soal contoh di atas, kita kembali ke permasalahan awal. Berdasarkan kajian yang komprehensif terhadap Nash al-Qur'an-Hadis serta pengamatan yang cermat terhadap kejadian dan karakteristik alam semesta yang menjadi tanda-tanda kekuasaan Allah ini, para ulama yang jenius dari kalangan Asy'ariyyah mengklasifikasikan/memetakan kriteria ketuhanan menjadi empat kriteria besar, yaitu:

1. Sifat yang pasti ada dalam sosok Tuhan. Mereka menyebutnya sebagai sifat wajib.
2. Sifat yang tidak mungkin ada dalam sosok Tuhan. Mereka menyebutnya sebagai sifat mustahil.
3. Sifat yang bisa saja ada dan bisa saja tidak ada dalam sosok Tuhan. Mereka menyebutnya sebagai sifat jaiz.
4. Sifat yang menjadi tanda kesempurnaan sosok Tuhan. Mereka menyebutnya sebagai sifat kamalat.

Seluruh sifat yang pasti dimiliki oleh sosok Tuhan yang sejati ini berjumlah 20 sifat. Seluruhnya mempunyai karakter sebagai berikut:

1. Akal dan nash secara pasti menetapkan adanya sifat-sifat itu pada diri Tuhan.
2. Akal dan nash secara pasti meniadakan lawan atau kebalikan dari sifat-sifat itu dari Tuhan.
3. Sifat-sifat itu menjadi syarat ketuhanan (شرط الألوهية) yang apa bila satu saja dari sifat itu tidak ada, maka Dzat yang bersangkutan tidak mungkin disebut sebagai Tuhan dan karenanya tidak layak disembah atau dipertuhankan.

Kedua puluh sifat itu adalah: (1) Ada (2) Terdahulu/ada tanpa awal mula (3) Kekal/ada tanpa akhir (4) Berbeda dari makhluk/tiada kesamaan dengan apapun (5) Mandiri/tidak butuh apapun (6) Esa/tidak ada yang setara (7) Kuasa (8) Kehendak (9) Pengetahuan (10) Hidup (11) Pendengaran (12) Penglihatan (13) Firman (14) Yang Berkuasa (15) Yang Berkehendak (16) Yang Mengetahui (17) Yang Hidup (18) Yang Mendengar (19) Yang Melihat (20) Yang Berfirman.

Jadi, kata “wajib” dalam istilah "sifat wajib" dalam bab ini maksudnya adalah sifat yang pasti ada dan tidak mungkin tidak ada, bukan dalam arti wajib menurut istilah fiqh (hukum taklifi). Biasanya orang non-Asy'ariyah salah paham soal ini hingga menyangka bahwa penetapan sifat-sifat wajib ini sebagai "ngatur-ngatur Tuhan disuruh wajib begini dan wajib begitu". Ini adalah kesalahpahaman yang konyol tapi anehnya banyak terjadi. Sama sekali tak ada hubungannya antara sifat wajib dan ngatur-ngatur Tuhan sebab wajib yang dimaksud dalam bab ini bukanlah wajib dalam istilah hukum taklifi di mana kita mewajibkan Tuhan untuk melakukan sesuatu. Hanya orang bodoh yang mampu berpikir dirinya bisa mengatur-ngatur Tuhan dan hanya orang bodoh pulalah yang bisa salah sangka bahwa para ulama Asy'ariyah yang jenius dan nota bene mayoritas ulama itu sudah ngatur-ngatur Tuhan.

Sifat wajib (pasti ada) itu kemudian diklasifikasi lagi menjadi beberapa jenis sesuai karakter masing-masing sifat itu.

1. Sifat pertama disebut sebagai sifat "nafsiyah" yang berarti sifat yang berkaitan langsung dengan eksistensi Dzat Allah. 
2. Sifat kedua hingga keenam disebut sebagai sifat "salbiyah" yang berarti penegasian/penafian terhadap sesuatu yang tak mungkin bagi Allah, semisal sifat qidam (terdahulu) yang menafikan adanya awal, baqa’ (kekal) yang menafikan adanya akhir dan seterusnya. 
3. Sifat ketujuh hingga ketiga belas disebut sebagai sifat "ma’ani" yang berarti sifat yang eksistensinya mandiri yang disandang oleh Dzat Allah. 
4. Adapun sifat keempat belas hingga kedua puluh disebut dengan sifat "ma’nawiyah" yang berarti sifat yang eksistensinya timbul sebagai konsekuensi dari adanya sifat ma’ani atau dengan kata lain adalah kondisi Dzat ketika memakai sifat ma’ani tersebut, misalnya: Allah disebut Maha berilmu karena punya sifat ilmu, disebut Maha Mendengar karena punya sifat pendengaran dan seterusnya

Semua oknum yang mengklaim dirinya Tuhan atau diklaim sebagai Tuhan haruslah mempunyai kedua puluh sifat ini. Apabila ada satu saja yang kurang, berarti ia tak layak dipertuhankan.

Kebalikan dari sifat yang pasti ada ini adalah sifat yang pasti tak ada dalam sosok Tuhan (sifat mustahil). Seluruh oknum yang mengklaim dirinya Tuhan atau diklaim sebagai Tuhan haruslah tidak punya satu pun dari sifat mustahil ini. Apabila ada satu saja yang ada, maka oknum tersebut tak layak dipertuhankan. Jumlah sifat mustahil ini ada dua puluh juga sebagai kebalikan dari sifat wajib di atas.

Selain kedua puluh sifat yang pasti ada dan pasti tak ada dalam diri Tuhan itu, Allah juga mempunyai sifat yang bisa saja ada dan bisa saja tidak (jaiz), maksudnya adalah sifat yang tidak esensial sebagai syarat ketuhanan yang berarti tidak mempunyai ketiga karakter seperti di atas. Sifat non-esensial ini hanya ada satu, yakni: “Allah bebas melakukan apapun yang mungkin secara akal atau tidak melakukannya”. Meskipun hanya satu sifat, tapi perincian sifat ini tak terbatas jumlahnya. Ada atau tidaknya sifat jaiz ini tak berpengaruh pada status ketuhanan Allah.

Selain ketiga klasifikasi pasti ada (wajib), pasti tidak ada (mustahil) dan bisa ada bisa tidak (ja'iz) di atas, masih ada klasifikasi yang keempat, yakni sifat kamalat atau sifat-sifat kesempurnaan semisal sifat dermawan, penyayang dan seterusnya. Jumlah sifat kalamat ini hanya Allah saja yang tahu. Dari perspektif manusia, kita bisa bilang bahwa jumlah sifat kamalat tak terbatas jumlahnya.

Imam as-Sanusi dalam Syarah Umm al-Barahin menjelaskan tentang sifat ini secara ringkas sebagai berikut:

فَمِمَّا يَجِبُ لِمَوْلاَناَ جَلَّ وَعَزَّ عِشْرُوْنَ صِفَةً. أَشَارَ بِمِنْ التَّبْعِيْضِيَّةِ إِلىَ أَنَّ صِفَاتِ مَوْلاَناَ جَلَّ وَعَزَّ الْوَاجِبَةَ لَهُ لاَ تَنْحَصِرُ فِي هَذِهِ الْعِشْرِيْنَ، إِذْ كَمَالاَتُهُ تَعَالىَ لاَ نِهَايَةَ لَهَا. لَكِنَّ اْلعَجْزُ عَنْ مَعْرِفَةِ مَا لَمْ يَنْصِبْ عَلَيْهِ دَلِيْلٌ عَقْلِيٌّ وَلاَ نَقْلِيٌّ لاَ نٌؤَاخَذُ بِهِ بِفَضْلِ اللهِ تَعَالىَ. 
"Termasuk sebagian apa yang pasti ada (wajib) bagi Tuhan kita Yang Maha Agung adalah 20 sifat. Dia (penulis kitab matan) mengisyaratkan dengan kata “مِنْ” yang bermakna sebagian untuk [menegaskan] bahwa sifat-sifat Tuhan kita Yang Maha Agung yang pasti ada bagi-Nya tidak hanya terbatas pada yang dua puluh ini saja karena kesempurnaan-Nya tidaklah terbatas. Tetapi ketidakmampuan untuk mengetahui apa yang tidak ada dalilnya, baik dalil akal atau pun nash, tidaklah membuat kita disiksa berkat kemurahan Allah Ta’ala."

Pemetaan sifat seperti ini diterangkan dalam hampir seluruh kitab-kitab Asy'ariyah yang berbicara tentang soal klasifikasi sifat. Hal ini sudah menjadi pengetahuan umum di kalangan Asy'ariyyin. Andai tak takut terlalu panjang, saya bisa menukil banyak sekali kutipan terkait ini dari kitab-kitab mereka.

Jadi, ada berapa seluruh sifat Allah menurut Asy'ariyah? Jawabannya adalah tak terbatas. Ucapan orang-orang tentang sifat wajib 20 itu hanya penyederhanaan saja yang sesungguhnya hanya berisi klasifikasi sifat yang pasti ada saja. Sejatinya masih ada klasifikasi yang lain yang tak ia sebutkan. Dengan demikian, sudah jelas sekali kesalahpahaman orang-orang yang menyangka bahwa Asy'ariyah hanya membatasi sifat Allah menjadi 20 saja atau 41 saja. Tampak sekali kalau mereka ini tak membaca kitab-kitab Asy'ariyah tetapi sudah berani berkomentar yang tidak-tidak mengenai manhaj akidah mayoritas ulama ini.

Pernyataan yang sering juga dilontarkan mengenai klasifikasi ini adalah pemetaan seperti ini bid'ah sebab tak pernah ada di masa Rasulullah dan Sahabat. Orang yang menyatakan ini tampak sekali kalau jauh dari ilmu. Seluruh pemetaan ilmiah memang hanya ada belakangan sebagai hasil ijtihad para ulama agar umat dapat mempelajari agama dengan mudah. Pemetaan hadis menjadi sahih, hasan dlaif; pemetaan hukum islam menjadi hukum taklifi dan hukum wadl'i; pemetaan cabang-cabang ilmu dan seluruh pemetaan lainnya tak ada di masa Nabi dan para sahabat. Mereka yang mempermasalahkan pemetaan ini hanya memperlihatkan kalau mereka belum mengenal medan ilmu yang mereka komentari.

Lalu bagaimana hubungan pemetaan sifat-sifat ini dengan Ama'ul Husna yang berjumlah 99 itu? Dan bagaimana pula perincian dari seluruh sifat yang disebut dalam pemetaan di atas? Insya Allah kita akan bahas itu semua pada kajian-kajian berikutnya.

Semoga bermanfaat.

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama