Salah Sangka Soal Adzan Subuh Atau Magrib Saat Puasa


SALAH SANGKA SOAL AZAN SUBUH ATAU MAGHRIB SAAT PUASA

Oleh: Kiyai Abdul Wahab Ahmad

Kadang terjadi kasus di mana seseorang masih menikmati sahur sebab menyangka belum subuh, ternyata sudah subuh cuma azannya tak terdengar atau muazzinnya telat mengumandangkan azan. Kadang juga ada yang salah sangka sudah berbuka duluan sebab dikira sudah azan maghrib ternyata bukan azan atau jam yang dipakai muazzinnya terlalu cepat. Sahkah puasanya?

Dalam kasus prasangka yang terbukti salah ini, ada kaidah fikih لَا عِبْرَةَ بِالظَّنِّ الْبَيِّنِ خَطَؤُهُ (prasangka yang terbukti salah tak diperhitungkan secara hukum). Jadi persangkaannya bahwa waktu subuh belum masuk atau maghrib sudah masuk di sini tak berpengaruh apa-apa. Dia tetap dianggap makan di waktu puasa dengan sengaja.

Berikut ini di antara teks nukilan kitab fikih yang menjelaskan praktek kaidah tersebut dalam kasus puasa ini:

الأشباه والنظائر للسيوطي (ص: 157)
[الْقَاعِدَةُ الثَّالِثَةُ وَالثَّلَاثُونَ: لَا عِبْرَةَ بِالظَّنِّ الْبَيِّنِ خَطَؤُهُ]
مِنْ فُرُوعِهَا:... أَوْ غُرُوبَ الشَّمْسِ، فَأَكَلَ، ثُمَّ بَانَ خِلَافُهُ

نهاية الزين (ص: 189)
(و) يجب (إمْسَاك فِيهِ) أَي فِي رَمَضَان لَا فِي غَيره على متعمد الْفطر وَهُوَ المُرَاد بقوله (إِن أفطر بِغَيْر عذر) وعَلى من لم يبيت النِّيَّة فِيهِ (أَو بغلط) كمن تسحر ظَانّا بَقَاء اللَّيْل أَو أفطر ظَانّا الْغُرُوب فَبَان خِلَافه

Hukum batal di atas apabila yang dia sangka sebelumnya tentang waktu subuh dan waktu maghrib memang terbukti salah. Namun apabila masih ragu apakah benar waktu subuh sudah tiba saat dia makan ataukah waktu maghrib belum tiba saat dia berbuka? sedangkan keraguan ini tak bisa hilang sebab sama sekali tak terdengar azan setelahnya dan dia tak punya jadwal shalat dan juga tak punya jam untuk mencatat kejadiannya untuk dikroscek di waktu selanjutnya, maka lain ceritanya.

Untuk kasus keraguan seperti ini maka ada kaidah fikih yang berbunyi الأصل العدم (keadaan asal suatu hal itu tak ada) dan الأصل بقاء ما كان على ما كان (hukum asal sesuatu itu dianggap tetap seperti sediakala). Maksud kedua kaidah ini adalah status hukum suatu hal dianggap tetap seperti sedia kala sebelum dengan yakin terbukti sebaliknya. Dalam kasus ini, maka penerapan kaidah ini dalam kasus puasa ditafsil:

1. Sahurnya tetap diperbolehkan meskipun ada keraguan waktu subuh sebab hukum asalnya tetap dianggap masih belum subuh sampai dia yakin sudah masuk subuh betulan.
2. Berbukanya tetap dilarang dan puasanya batal apabila dilakukan dalam keadaan demikian. Hal ini sebab status hukumnya tetap dianggap belum maghrib hingga dia yakin betul kalau saat itu sudah maghrib.

Berikut ini di antara teks nukilan kitab fikih yang menjelaskan praktek kaidah tersebut dalam kasus puasa ini:

عمدة السالك وعدة الناسك (ص: 117)
وإذا أكلَ معتقداً أنهُ ليلٌ فبانَ أنهُ نهارٌ، أو أكل ظاناً للغروبِ واستمرَّ الإشكالُ وجبَ القضاءُ، وإنْ ظنَّ أن الفجرَ لمْ يطلعْ فأكلَ واستمرَّ الإشكالُ فلا قضاءَ.

تحفة المحتاج في شرح المنهاج وحواشي الشرواني والعبادي (3/ 449)
أَنَّهُ يَجُوزُ الْأَكْلُ مَعَ الشَّكِّ آخِرَ اللَّيْلِ

Kesimpulannya diterangkan dalam uraian Syaikh Khatib as-Syarbini berikut:
الإقناع في حل ألفاظ أبي شجاع (1/ 236)
وَحَاصِل ذَلِك أَنه إِذا أفطر أَو تسحر بِلَا تحر وَلم يتَبَيَّن الْحَال صَحَّ فِي تسحره لَا فِي إفطاره لِأَن الأَصْل بَقَاء اللَّيْل فِي الأولى وَالنَّهَار فِي الثَّانِيَة فَإِن بَان الصَّوَاب فيهمَا صَحَّ صومهما أَو الْغَلَط فيهمَا لم يَصح
"Kesimpulannya bahwa bila dia berbuka atau sahur tanpa tahu dengan pasti waktunya dan keadaan sebenarnya tatap tak jelas, maka sah di kasus sahurnya tetapi tidak dalam kasus berbukanya sebab hukum asalnya adalah tetapnya malam di kasus pertama dan tetapnya siang di kasus kedua. Apabila kemudian jelas terbukti benar dalam keduanya, maka hukum puasanya sah. Apabila jelas terbukti salah dalam keduanya, maka hukum puasanya batal".

*Maaf tak sempat menerjemah semuanya.

Semoga bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama