Tuesday, July 3, 2018

Biografi Habib Umar Bin Hud Al Athos

Rate this posting:
{[['']]}

Biografi Habib Umar Bin Hud Al Athos

Habib Umar Bin Hud Al Athos adalah seorang ulama dan konon beliau juga seorang wali quthub usianya lebih dari 100 tahun dilahirkan di penghujung abad ke 19 di Hadramaut, Yaman Selatan. Sejak usia muda beliau telah datang ke Indonesia. Mula-mula tinggal di Kwitang, Jakarta Pusat. Beliau berdakwah sambil berjualan kain di Pasar Tanah Abang. Kemudian membuka pengajian dan majelis maulid di Cicurug, Sukabumi, Jawa Barat.

Riwayat Hidup dan Keluarga

Lahir

Al Allamah Al Arifbillah Al Quthub Al Habib Umar bin Muhammad bin Hasan bin Hud Al Attas dilahirkan oleh seorang wanita shalihah bernama Syarifah Nur binti Hasan Al Attas di Huraidhah, Yaman Selatan pada tahun 1313 H (1892 M).

Suatu saat Al Allamah Arifbillah Al Habib Ahmad bin Hasan Al Attas, seorang Waliyullah besar di kota Huraidhah menyampaikan bisyarah perihal kehamilan Syarifah Nur. Berkata Habib Ahmad “Ia akan melahirkan seorang anak laki-laki yang panjang usianya, penuh dengan keberkahan serta akan banyak orang yang datang untuk bertawassul dan bertabarruk padanya, hendaklah ia diberi nama “Umar”, sebagai pengganti kakaknya yang juga bernama Umar, yang telah wafat ketika berada di Indonesia bersama ayahnya.” Maka benarlah apa yang dikatakan Habib Ahmad, beliau diberi umur yang panjang, usia beliau mencapai 108 tahun dan seluruh usianya itu senantiasa berada dalam keberkahan.

Silsilah Nasab

Habib Muhammad, ayah Habib Umar telah lebih dulu tinggal di Indonesia, setelah sebelumnya selama 20 tahun beliau mengabdikan dirinya menjadi imam di Masjid Syaikh Abdul Qadir Al Jailani yang berada di kota Huraidhah.

Habib Umar mempunyai beberapa orang saudara, diantaranya Habib Umar (kakaknya yang telah meninggal sebelum beliau lahir) dan Habib Salim yang mengasuh beliau ketika kecil.

Di sana beliau tinggal bersama Ibunya, Sedangkan Ayahnya berada di Indonesia. Dengan sabar Beliau mengurus Ibundanya yang lumpuh dan sudah terbaring di Kasur selama bertahun- tahun. Setelah Ibundanya meninggal dunia tepatnya ketika Beliau berumur 16 tahun beliau diminta datang ke Indonesia oleh Ayahandanya.

Wafat

Beliau berpulang ke hadirat Tuhan Yang Agung pada Rabu malam Kamis, tanggal 11 Agustus 1999 M (1420 H) pada usia 108 tahun. Beliau dimakamkan di pemakaman Al Hawi, Cililitan, Kalibata, Jakarta sesuai dengan wasiat beliau.


Perjalanan Mencari Ilmu

Pada tahun 1950-an, ia ke Mekkah dan bermukim selama beberapa tahun. Tapi, sayangnya, saat hendak kembali ke Indonesia, ia tertahan di Singapura. Pasalnya, pada awal 1960-an terjadi konfrontasi antara RI – Malaysia, sementara Singapura merupakan bagian negara itu. Habib Umar baru kembali ke Tanah Air setelah usai konfrontasi, pada awal masa Orde Baru.

Tapi, rupanya banyak hikmah yang diperolehnya di balik kejadian tersebut. Karena, selama lebih dari lima tahun di Malaysia dan Singapura, ternyata ia sangat dihormati oleh umat Islam setempat, termasuk Brunei Darussalam.

Seperti dikatakan oleh pihak keluarga, Habib Umar bukan saja dihormati oleh Sultan Johor, juga sultan-sultan lainnya di Malaysia. Sedangkan di antara pejabat Malaysia yang sering mendatangi kegiatan Habib Umar di Indonesia, di antaranya Menteri Pendidikan Naguib Tun Razak.

Sedangkan dari Singapura, Achmad Mathar, Menteri Lingkungan Hidup juga beberapa kali mendatangi Habib Umar. Juga menteri dari Brunei, termasuk beberapa anggota kerajaannya. Sedangkan menurut Haji Ismet, mereka itu umumnya datang ke Habib Umar, bukan pada saat-saat peringatan maulid.

Silsilah Keilmuan

Di Indonesia, beliau kemudian menimba ilmu kepada ulama-ulama yang diantara guru-guru beliau adalah:

1. Habib Muhammad (ayah)
2. Al Habib Abdullah bin Muhsin Al Attas (Keramat Empang, Bogor)
3. Al Habib Muhsin bin Muhammad Al Attas (Al Hawi, Jakarta)
4. Al Habib Alwi Al Attas Azzabidi (Jakarta)
5. Habib Alwi bin Muhammad Al Haddad (Bogor)
6. Habib Muhammad bin Idrus Alhabsyi (Gubah Ampel, Surabaya)
7. Habib Muhammad bin Ahmad Al Muhdhar (Bondowoso)

Penerus Beliau

Keturunan

Diantara anak-anak beliau adalah:
  • Al Habib Husain
  • Al Habib Muhammad
  • Habib Salim
  • Syarifah Raguan.
  • Alwi Edrus Alaydrus (cucu)


Murid

KH Zainuddin MZ

Certa Karomah dan Keramat Habib Umar Bin Hud Al Athos

Suatu saat ada seorang yang minta nomer Togel pada Habib

Umar Bin Hud Al Athos, namun beliau tidak langsung menghardik dan memarahinya , dengan sifat arif dan santunya beliau menerimanya dan memberikan nomer togel pada orang tersebut namun dengan satu syarat.
"Saya  akan berikan engkau nomor togel , dengan syarat jika engkau menang undian segeralah bawa uang itu kepadaku." Jawab Habib Umar.

Ke esokan harinya seorang  laki-laki tadi datang dengan wajah sumringah dan bungah dengan berkata
"Habib, saya berhasil menang togel tembus bib . Ini uangnya." Katanya berseri-seri.
Penuh ketenangan  Habib Umar minta muridnya mengambil sebuah baskom, lalu katanya, "Perhatikan apa yang aku perbuat." Lalu beliau menggenggan uang segepok itu dan memerahnya di atas baskom. Aneh! Dari genggaman tangan Habib Umar mengucurkan darah segar, mengalir memenuhi baskom. "Lihatlah, apa yang telah engkau dapatkan dari undian itu." Katanya.
Melihat kejadian itu laki-laki tadi sontak kaget dan langsung bertaubat minta maaf sama Habib Umar Bin Hud Al Athos untuk tidak mengulanginya lagi.

Ada cerita lain mengenai karomahnya.

Pada suatu hari datanglah seorang lelaki membawa air agar didoakan sebagai obat. Tapi baru saja ia mengetuk pintu, Habib Umar sudah menyuruhnya pulang. Tentu ia bersikeras dan bertahan menunggu di depan pintu. Akhirnya Habib Umar keluar. Katanya, "Pulanglah, air yang engkau bawa itu sudah bisa menyembuhkan."
"Tapi, Bib..."

"Pulanglah. Bukankah engkau sudah ditunggu oleh keluargamu?"
Mendengar jawaban Habib Umar yang begitu santun dan lembut, orang itu sungkan juga. Akhirnya dengan keyakinan yang kuat ia pulang membawa air dalam botol tersebut, dan menuangkannya ke dalam gelas untuk diminum oleh keluarganya yang sakit.Ajaib! Tak lama kemudian keluarga yang sakit tersebut sembuh. Setelah sembuh, mereka bertamu ke rumah Habib Umar untuk bersilaturrahmi. 

Di saat lain, ketika Habib Umar tengah menggelar taklim di masjid, masuklah seorang lelaki berwajah putih bersih. "Wahai Habib Umar, bisakah aku minta nasi kebuli?" tanya lelaki itu.
Permintaan aneh itu tentu saja membuat terkejut seluruh jamaah. Namun, dengan tersenyum Habib Umar berkata arif, "Pergilah ke belakang, dan bersantaplah." Maka lelaki itu pun segera pergi ke dapur.

Tak lama kemudian taklim itu pun usai, dan Habib Umar bersama para jemaah menyusul ke dapur. Mereka melihat lelaki itu tenah menyantap nasi kebuli dengan sangat lahap.
"Siapakah dia? "dia tamu kita, dia adalah Nabi Khidlir." Jawab Habib Umar.
Tidak semua Ulama besar mendapat kesempatan dikunjungi Nabi Khidlir. Dan kunjungan Nabi Khidlir itu menunjukkan betapa Habib Umar sangat alim dan shaleh.

Menurut beberapa Habib yang kenal dekat dengan Habib Umar, karamah yang dimilikinya itu berkat keikhlasan dalam merawat ibundanya. Selama 40 tahun, dengan tekun, ikhlas dan sabar, beliau merawat sang ibu hingga akhir hayatnya.

Habib Ismail bin Yahya, seorang pengurus Naqabatul Ashraf, alah satu lembaga penyensus para habib, juga menyatakan, karamah tersebut berkat keikhlasan Habib Umar merawat ibundanya. Bahkan karena lebih mementingkan merawat sang ibu, suatu saat Habib Umar tidak sempat menghadiri pengajian-pengajian di luar rumah, termasuk masjid Riyadh, Kwitang, yang digelar Habib Ali Al-Habsyi.

Ulama besar yang dikenal sangat sederhana dan tawaduk ini wafat pada tahun 1999 dalam usia 108 tahun, meninggalkan tiga putra : Habib Husein, Habib Muhammad dan Habib Salim. Selama hidupnya, almarhum selalu menekankan pentingnya mencintai dan meneladani Rasulullah saw. Sebagai ulama yang shaleh, seperti halnya habaib yang lain, beliau juga suka menggelar maulid. Dalam maulid enam tahun lalu, sebelum wafat Habib Umar memotong 1600 ekor kambing untuk menjamu puluhan ribu jamaah.

Habib Umar dimakamkan di kompleks pemakaman Al-Hawi, Condet, Jakarta Timur. Upacara pemakamannya kala itu dihadiri puluhan ribu jemaah. Bahkan saking banyaknya jamaah yang ingin menyalalatkan jenazahnya, salat jenazah dilakukan sampai tiga kali dengan tiga orang imam.
Sampai sekarang makam  Habib Umar Bin Hud Al Athos tidak pernah sepi dari penziarah dari berbagai daerah yang ingin mengalap barokah Allah SWT lewat wasilah dan doa yang dipanjatkanya.  Walaupun Habib Umar Bin Hud Al Athos sudah lama Wafat namun ajaranya tidak pernah hilang ditelan bumi . Murid dan pra pecinta Habib Umar Bin Hud Al Athos selalu senantiasa untuk mengamalkan ajaran dan wejangan yang pernah diberikan oleh Beliau. Dan senantiasa untuk mendakwahkan ajaran beliau sesuai dengan ajaran Baginda Nabi besar Muhammad SAW.
 
Wallahu a'lam Bishowab 
 
Allahuma shollii 'alaa sayyidina muhammad wa 'ala aalihi wa shohbihi wa bariik wa salim
 
Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment