KISAH BENTAKAN UNTUK SANG RAJA


KISAH BENTAKAN UNTUK SANG RAJA

Di suatu hari raya, Sultan Ayyub (1205-1249 M) penguasa Mesir kala itu keluar dari benteng menemui rakyatnya menggunakan pakaian kebesaran nan indah dikelilingi para prajurit beserta para menteri membungkuk hormat padanya.

Di tengah segala kemegahan yang dimilikinya tersebut, tiba-tiba sebuah bentakan keras datang dari arah seorang tua ke arahnya,

“Wahai Ayyub!”

Semua mata tertuju pada sang pemilik suara keras itu. Alangkah beraninya orang ini!

“Apa yang akan kau katakan pada Tuhanmu kelak, apabila dia bertanya ‘Bukankah telah kuberikan kekuasaan Mesir atasmu? Kemudian kau melegalkan minuman keras?’

Sang Raja menjawab dengan lembut dan rasa takut,

“Apakah terjadi seperti itu, wahai Syeikh?”

“Ya! Di tempat toko fulan masih menjual minuman keras dan hal-hal haram lainnya! Dan kau sekarang seenaknya berada dalam kekayaanmu?”

“Oh, itu bukan perbuatanku, tapi itu dari masa pemerintahan ayahku dulu.”

“Wahai Ayyub! Kalau begitu kau sama saja seperti golongan orang-orang yang berkata, [Sesungguhnya kami mendapati ayah-ayah kami dalam kepercayaan ini (menyembah berhala) ] (QS. Az-Zukhruf :22)” (ucapan penyembah berhala ketika ditanya apa alasan mereka menyembah berhala)

Seketika itu juga, Sultan Ayyub segera memberi perintah untuk menutup toko tersebut.

Siapakah orang tua yang sangat berani msnegur penguasa tersebut? Bahkan mempermalukannya di muka umum, di hari raya dengan membentaknya.

Beliau adalah Al Imam Al’Izz bin Abdussalam (1181-1262 M) seorang ulama terkemuka di saat itu yang memiliki gelar SULTHONUL ‘ULAMA (Rajanya para ulama).

Salah satu muridnya bertanya padanya setelah kejadian tersebut,

“Wahai guru, bagaimana hal itu bisa terjadi?”

“Anakku, aku melihatnya berada dalam kesombongan, maka akupun mempermalukannya supaya sifat sombong itu tidak membahayakan dirinya.”

“Apakah Anda tidak takut?”

“Demi Allah, wahai anakku. Saat aku berbicara kuhadirkan KEAGUNGAN ALLAH dalam ucapanku sehingga dia layaknya seekor kucing di hadapanku.”

Seperti itulah sikap seorang ulama yang hatinya memiliki hubungan erat pada Allah. Baginya, tiada yang pantas ditakuti selain Allah, sehingga hal lain akan tampak kecil baginya. Bukan hanya itu, bahkan tegurannya bukan sekedar ingin menghinakan sang raja, tapi berupa tarbiyah (didikan) untuk menghilangkan penyakit sombong yang ada dalam hati sang raja tersebut, demi kebaikannya sendiri.

#ath thohirooh

Wallahu a'lam Bishowab

Allahumma sholli ala sayyidina muhammd nabiyyil umiyyi waala alihi washohbihi wasalim,,.
  

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama