Profil Pondok Pesantren Fatuhiyah, Demak Jawa-Tengah


PROFIL PONDOK PESANTREN FATUHIYAH, DEMAK - JAWA TENGAH

Nama Pesantren : Pondok Pesantren Fatuhiyah, Demak
Pendiri : Abdurahman bin KH. Qasidil Haq
Tahun Berdiri : 1905
Pengasuh : KH. M. Hanif Muslih, Lc.
Alamat : Kampung Suburan Barat, Kelurahan Mranggen, Kec. gen, Kab. Demak, Jawa Tengah
No. Telephone : 0538-21053
Website :  https://scontent-sit4-1.xx.fbcdn.net
Jumlah Santri : 3.871 orang
Pendidikan :
1). Taman Pendidikan al-Quran (TPA)
2). Taman Kanak-Kanak (TK) masyitoh
3). Madrasah Ibtidaiyah (MI)
4). Madrasah Tsanawiyah 1 (MTS 1) (putra) dan MTS 2 (putri)
5). Madrasah Aliyah 1 (MA 1) (putra) dan MA 2 (putri)
6). Sekolah Lanjutan Pertama (SLTP)
7). Sekolah Menengah Umum (SMU); 8). Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)
Biaya :

Profil

Sebagai pesantren salaf, Pondok Pesantren Futuhiyah, Mranggen, menjadikan Al-qur’an sebagai kajian pertama. Pesantren yang didirikan oleh KH. Abdurahman bin KH. Qasidil Haq pada tahun 1905 hingga kini masih menerapkan pengajaran secara sorogan, bandongan, dan watonan. Metode tersebut masih tetap  mereka pertahanakan terutama untuk mengkaji berbagai kitab. Kitab kuning yang kini masih dan tetap menjadi kajian utama hampir seluruh pesantren.

Sebagai pesantren yang lahir dalam kancah perjuangan fisik, KH. Abdurahman dalam mengawali pembangunan Futuhiyah dengan mendirikan langgar, melalaui langgar ini mantan Pengasuh Pondok Pesantren Penggaron Semarang mendidik para santrinya dengan intensif. Di langgar ini pula sebagai bangunannya juga digunakan sebagai pondok untuk para santri.

Ketika KH. Abdurahman mengawali pendirian pondok pesantren, belum ada nama pondok seperti ini, dulu hanya dikenal dengan pondok suburban, suburban adalah nama kampung tempat pondok ini berada. Nama futuhiyah itu baru muncul setelah KH. Muslih, putra kedua KH. Abdurahman menjadi pengasuh pondok. Nama futuhiyah itu sendiri sebenarnya nama salahsatu pondok pesantren yang menjadi induk dari enam pondok pesantren lainnya di kampung Syukuran, Mranggen. Ketujuh pondok pesantren tersebut menempati lahan tanah seluas 7,5 Ha.

Pondok pesantren ini telah banyak mengalami pasang surut seirama dengan dinamika masyarakat sekitarnya. Ketika pecah perang kemerdekaan, proses belajar dan mengajar para santri pada tahun 1945 sempat dipindahkan ketempat lain. Saat itu pesantren diajadikan markas Hizbullah. Baru sesudah 1950, proses belajar mengajar sembari menempati pondok, seperti sedia kala.

Pesantren Futuhiyah mengalami kemajuan, ketika kepemimpinan pondok dipegang KH. Muslih. Namun, pondok ini pernah suram, ketika demak dan sekitarnya dilanda kekeringan (1962-1964). Jumlah santri mukim yang semula 600 orang, pada musim kering tinggal 200 orang.

Masyarakat Sekitar

Futuhiyah hingga bentuknya seperti sekarang ini, tak bisa melepaskan diri dari Desa Mranggen. Desa yang terletak di Kabupaten Demak ini juga dikenal sebagai ibu kota kecamatan. Tak heran jika desa ini memiliki karakteristik yang berbeda dengan desa lainnya di kecamatan Mranggen. Sebagai ibu kota Kecamatan Mranggen menjadi pusat pemerintahan, sosial, ekonomi, budaya, dan keagamaan. Untuk mencapai wilayah tersebut tidak terlalu sulit. Desa itu bisa dijangkau dari Semarang, ibukota Jawa Tengah. Hingga mobilitas penduduknya sangat tinggi.

Ketika berdirinya futuhiyah, Mranggen dikenal daerah “hitam” dan “rawan”. Namun kini, Mranggen telah berubah menjadi “desa santri”. Di daerah ini terdapat 10 buah pondok pesantren besar dan kecil. 7 buah diantaranya, adalah Pondok Pesantren Futuhiyah yang berlokasi di dukuh suburban.

Organisasi Kelembaggan

Kekeluargaan menjadi ciri khas pengelolaan Pondok Pesantren Futuhiyah. Pengelolaan pondok ditangani oleh sebuah yayasan. Periode pertama, kepemimpinan KH. Abdurahman, sebagai pendiri. Periode kedua, kepemimpinan KH. Utsman. Ia memegang kepemimpinan pondok, sejak ayahnya yang masih hidup. Alih kepemimpinan ini dilakukan, karena ayahnya mulai udzur. Kepemimpinan Ustman sempat diselingi tiga tahun oleh kepemimpinan adiknya, KH. Muslih yang sedang menimba ilmu di Pondok Pesantren Lasem bersama KH. Murodi. Hal itu terjadi karena Utsman sibuk di Nahdlatul Ulama, sebuah organisasi keagamaan milik warga nadliyyin. Setelah Ustman bisa meluangkan waktu untuk mengurus pondok, KH. Muslih kembali melanjutkan pendidikannya termasuk, Jawa Timur. KH. Utsman sudah tidak lagi sibuk di organisasi akhirnya mendirikan sendiri pondok putri, terletak di Jalan raya Mranggen yang diberi nama “An-nurriyah”.

Muslih melanjutkan kepemimpinan pondok pesantren setelah KH. Ustman wafat 1967. Kini pengelolaan Pondok Pesantren Futuhiyah dilakukan oleh sebuah yayasan yang diketuai oleh KH. Ahmad Muthohar, adik KH. Muslih. Sedangkan penanggung jawab sehari-hari pondok pesantren diberikan kepada KH. Lutfi Hakim Muslih dan adiknya KH. Hanifuddin Muslih. Kedua orang kiai itu putra KH. Muslih.

Kegiatan Pendidikan

Pendidikan sekolah

Jenis pendidikan sekolah yang dikelola Pondok Pesantren Futuhiyah meliputi pendidikan keagamaan dan umum. Pendidikan itu antara lain:
  1. Taman Kanak-kanak Al-quran/Taman Pendidikan Al-quran (TKA/TPA)
  2. Taman Kanak-kanak (TK) Futuhiyah
  3. Madrasah Ibtidaiyah (MI)
  4. Madrasah Tsanawiyah 1 (putra) dan 2 (putri)
  5. Madrasah Aliyah (MA) 1 (putra) dan 2 (putri/putra)
  6. Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP)
  7. Sekolah Menengah Umum (SMU)
  8. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)
  9. Fakultas Sekolah Insitut Islam Wali Songo (IIWS) cabang Semarang, perguruan tinggi ini semula namanya universitas nahdlatul ulama.

Kurikulum yang di gunakan pendidikan formal tersebut, mengacu pada kurikulum Departemen Agama untuk MI, MTs, dan MA.  Sedangkan untuk SLTP dan SMU menggunakan kurikulum Departemen Pendidikan Nasional. Khusus untuk MA, di samping menggunakan kurikulum Departemen Agama, juga menggunakan kurikulum pondok, kurikulum khusus ini terutama sekali untuk pendalaman kitab kuning. Meski demikian kurikulum Departemen Agama porsinya lebih banyak.

Pendidikan Pondok

Sebagai pondok pesantren yang bercorak kombinasi antara salaf dan khalaf, futuhiyah tetap mempertahankan ciri khas pendidikan pesantren salaf. Ciri khas itu antara lain, pengajian kitab-kitab kuning dengan metode pengajaran sorogan, bandogan dan wetonan. Cuma keikutsertaaan para santri dalam pendidikan tersebut bersifat suka rela.

Dari ribuan santri pondok pesantren futuhiyah, hanya 20% yang mengikuti metode sorogan dan bandogan. Itu pun semuanya laki-laki. Santri yang mengikuti pengajian sorogan sebanyak 825 orang, sedangkan bandongan/wetonan sebanyak kitab yang digunakan dalam pengajian tersebut, terdiri dari kitab pegangan wajib dan anjuran untuk menambah wawasan.

Adapun materi yang diberikan:
  1. Ulumul Qur’an, kitab pegangan wajib Al-Qur’anul Karim dan kitab anjuran Al-Itqan
  2. Tafsir, kitab pegangan wajib Al-munir, dan kitab anjuran Ibn katsir
  3. Hadits, Bulughul Maram dan Mukhtar al Bukhary
  4. Ulumul Hadist, Tafsir /Mustholah Hadits dan kitab anjuran Ulumul Hadits wal
  5. Musthalahuh

Fiqih, Kifayah Akhyar dan anjuran Fathul Wahab
  1. Ushul Fiqih, Al Bayan Fil Qur’an
  2. Akidah, Jawahir Kalamiyah
  3. Akhlaq, Ihya’ Ulumuddin
  4. Nahwu, Az Zurumiyiah, Milhatul I’rob, dan Alfiyah Ibn Malik
  5. 10.Sharaf, Amtsilah Tashrifiyah.

3. Kegiatan Ekstrakurikuler

Kegiatan ekstrakurikuler/keterampilan diselenggarakan di Pondok Pesantren Futuhiyah baru sekitar 1972, ketika Departemen Agama memperkenalkan pendidikan keterampilan di lingkungan pondok pesantren. Kegiatan keterampilan yang diselenggarakan di pondok ini meliputi menjahit, mengetik, mengelas, peternakan, UPGK, komputer, pertukangan, bahasa Inggris, kepemimpinan, dan jurnalistik.

Latihan jurnalistik ini sempat melahirkan sebuah majalah MISAN sebagai bagian dari program pengembangan Unit Dokumentasi dan Pelayanan Informasi (UDPI).

Santri dan Kiai

Jumlah santri yang belajar di Pondok Pesantren Futuhiyah berjumlah 3871 orang. Terdiri dari 2323 santri laki-laki (60%) dan 1548 santri perempuan (40%). Mereka menempuh berbagai jenis dan jenjang pendidikan yang berada di pesantren Futuhiyah.

Jumlah santri sebanyak itu diasuh dan dibimbing oleh 279 orang ustadz/guru dengan latar belakang pendidikan yang beragam. Sebagian guru merangkap mengajar di dua sekolah yang berbeda jenis pendidikannya dengan jenjang yang sama. Seperti guru MTs merangkap mengajar di SLTP, begitu juga guru MA merangkap mengajar di SLTA. Dari jumlah guru sebesar itu, 20 orang lulusan SLTA, 5 orang PGA, 10 orang D3, 239 orang S1, dan 5 orang S2.

Sarana dan Prasarana

Komplek Pondok Pesantren Futuhiyah memiliki berbagai sarana dan prasarana, baik untuk kegiatan belajar-mengajar maupun kegiatan administrasi. Adapun sarana dan prasarana yang ada : 105 ruang belajar, 20 ruang kantor, 10 ruang pimpinan/kyai, 10 ruang perpustakaan, 2 masjid, 14 asrama putra dan 4 asrama putri. Semua fasilitas tersebut menempati tanah seluas 4 Ha, di atas tanah seluas 5 Ha.

Program Pengembangan

Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi komitmen pondok pesantren Futuhiyah. Untuk itu, pesantren ini dalam mengembangkan programnya selalu mendorong para santri agar siap menjadi anggota masyarakat yang adaptif terhadap berbagai perubahan yang terjadi di masyarakat. Untuk itu pesantren terus mengupayakan agar para santri bisa memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi dalam berbagai bidang. Bagi mereka yang berhasrat menjadi pemimpin agama, pihak pondok pesantren akan memberikan rekomendasi kepada santri untuk melanjutkan belajar di pondok pesantren yang bermutu. Di samping itu, Futuhiyah juga akan membuka program pendidikan tinggi Ma’had Ali dengan lama pendidikan 3-4 tahun.

Selain mendapatkan ijazah formal, para santri yang menyelesaikan dan menguasai keterampilan hingga tingkat kemampuan tertentu mendapat piagam/sertifikat. Ini semua dilakukan agar para santri mempunyai kompetensi yang unggul.

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama