Monday, July 2, 2018

Tarim, Kota Seribu Penghafal Al-Qur'an

Rate this posting:
{[['']]}

Tarim, Kota seribu penghafal AlQuran

Semenjak kecil, aku sama sekali tak pernah mempunyai cita-cita untuk menjadi seorang Hafidz Quran, membayangkan aja nggak pernah. Semua bermula dari sebuah harapan ibuku. aku masih ingat, waktu itu di teras rumah beliau pernah curhat :

" Ummi pengen punya anak yang hafal Alquran. Salah satu dari kalian kelak harus ada yang menghafal Alquran, biar bisa menjadi pemberi syafaat bagi keluarga kita kelak di hari kiamat.. "

" Kalo gitu biar 'Amal' aja mii.. " aku menyodorkan nama adikku yang nomer dua, perempuan. Aku sama sekali gak tertarik dan gak berminat. Hatam Quran aja cuma setahun sekali di bulan puasa, gimana mau ngafalin ?

Beberapa tahun kemudian ekspektasi Ummiku itu mulai menjadi sebuah realita. Tahun 2012 Allah 'mendamparkanku' di Kota Tarim. Dan 'jurusan' yang aku ambil disini menuntutku untuk menghafal AlQuran -selain kitab Riyadhussholihin yang 'wajib' di hafal juga-, tiap hari satu halaman. Dengan metode itu, hafalan quranku hatam pada tahun ke-4 ku disini. Tanpa perjuangan yang heroik, dramastis, dan menegangkan. Gitu-gitu aja, tau-taunya udah hatam. Hehe

Adik perempuanku yang aku tunjuk namanya waktu itu datang ke Tarim dua tahun kemudian. meski begitu dia hatam menghafal Quran lebih cepat dariku, di tahun itu juga dia hatam hanya dalam hitungan bulan , itu karena dia masuk jurusan yang hanya fokus ngafalin Quran aja. guru pembimbingnya adalah ustadzah dari Suriah, Santriwati-nya Syaikh Said Ramadhan AlBouthi.

Sedangkan Adikku Ibrohim sampai sekarang masih disini, sebentar lagi hafalannya juga hatam, tinggal beberapa juz saja. Yang diharapkan cuma satu, tapi Allah malah ngasih tiga. Karena itu, jangan pernah meremehkan harapan seorang ibu , sekali berharap - apalagi sampai berdoa -, seribu impianpun bisa digapai begitu saja. Seperti yang diamini para ulama, niat dan harapan tulus itu adalah kunci pembuka 70 pintu taufiq dan pertolongan Allah..

Jadi bisa dibilang kami ini adalah 'korban' dari keberkahan harapan tulus seorang ibu, dan tentunya 'korban' keberkahan kota Seribu wali ini.
Sedari dulu, Tarim memang dikenal sebagai 'Surga' bagi para penghafal Alquran. Hampir semua ulama Tarim yang diceritakan sejarahnya dalam Kitab Almasyra' Arrawi biografi mereka diawali dengan : Wulida fii Tarim wa hafidza Alquran Alkarim ( dilahirkan dan menghafal Alquran di Tarim ).

Di Tarim menghafal Alquran bukanlah sebuah prestasi yang 'waw' dan keren, mungkin saking banyaknya penghafal Alquran disini. Sedari kecil, bocah-bocah Tarim sudah diwajibkan menghafal Quran di Qubbah Abu Muroyyim, Tempat ngafalin Quran yang super legendaris itu, atau di cabang-cabangnya yang tersebar di masjid-masjid yang ada di Tarim. Jadi jangan heran kalo di Tarim penghafal Quran itu keliatan 'biasa-biasa' aja, sopir taksi, tukang kayu, tukang jual baju, sampai penjaga toko banyak dari mereka adalah hafidz Quran.

Bahkan -seperti yang sering diceritakan Syaikhina Habib Umar - di Tarim pernah ada seorang Ummy (gak bisa membaca dan menulis) yang hafal Alquran ! Gara-garanya dia rajin hadir di Masjid Seggaf untuk mendengar Hizb Para penghafal Quran. ( Hizb ini mirip seperti Muroja'ah hafalan Quran bersama, membentuk lingkaran halaqoh, yang satu baca yang lain mendengar, begitu terus secara bergantian ).

Juga diceritakan Habib Umar, ada seorang awam tukang buat kopi yang rajin ikut Ndarusan Quran bersama Habib Alwy Bin Shihab pada waktu Tahajjud di Masjid Assurur selama 50 Tahun ! Dan sama sekali gak pernah Absen meskipun satu malam !

" itu baru orang awamnya " Habib Umar mengomentari kisah itu " gimana Ulama-ulamanya ??"

Bagi ulama-ulama Tarim, Alquran seakan sudah mendarah daging dalam diri mereka. Disini ada seorang ulama yang punya kebiasaan unik waktu tidur : Nglindur Alquran ! Ketika tidur ia membaca Alquran tanpa ada salah satu hurufpun ! Hebatnya lagi, di malam kedua ia akan membaca 'terusan' dari halaman yang telah ia baca di malam sebelumnya. Begitu seterusnya sampai-sampai ia menghatamkan Quran pada waktu tidur sebanyak ratusan kali !

Tarim Juga pernah mempunyai Habib Muhammad Bin Hasan Jamalullail, yang di bulan Ramadhan gak pernah baca Quran ketika berpuasa, alasannya karena waktu baca Quran, - saking nikmatnya- ia merasakan 'Rasa' Madu di mulutnya, karena takut puasanya 'kurang' sah, akhirnya beliau hanya membaca Quran di malam hari.

Untuk jumlah Hataman Quran perharinya, Ulama-ulama disini nyaris tak tertandingi. Al-Imam Abdurrahman Assegaf -moyang para Ahlu Bait bermarga Assegaf - punya angka hataman yang mencengangkan, setiap harinya beliau bisa menghatamkan Quran sebanyak 8 kali, 4 kali di siang hari dan 4 kali di malam hari ! ( ada dua Ulama yang mempunyai jumlah hataman yang sama, Ibnul Katib : disebutkan Imam Nawawi dalam Attibyan dan Abu Abdillah Assalmi : disebutkan Alhafidz Ibnu Hajar dalam Nataij Alafkar ). bahkan - seperti yang dituturkan Habib Umar - ada salah satu Habaib dari Wadi 'Amd yang rajin menghatamkan Quran 16 kali sehari ! 8 kali di siang hari dan 8 kali di malam hari ! Namanya Habib Muhammad Bin Shaleh Alathos, ulama yang sezaman dengan Habib Ali Alhabsy.

Melihat angka-angka itu, aku merasa sangat berdosa jika mengingat aku yang dulu pernah berbangga kalo hatam Quran sekali saja di bulan puasa..

Untuk antum-antum yang ingin menghafal atau sekedar menguatkan hafalan Quran di Tarim, Darul Madinah Bisa menjadi pilihan yang sangat tepat, Darul Madinah ini adalah Cabang dari Darul Musthafa yang hanya difokuskan untuk hafalan Quran, isinya adalah pelajar-pelajar terpilih yang ditarget untuk menghatamkan hafalan Quran dalam jangka 10 bulan, dari Syawal sampai Rajab. Letaknya di Tarim juga, tepatnya di ujung kiblat distrik Aidid.

Disini juga ada dua hal yang konon bisa cepat mendatangkan 'futuh' dalam menghafal Quran : Ngafalin Quran di Qubbah Abu Muroyyim atau ikutan Hizb Quran di Masjid Assegaf.

Kota ini memang memiliki cuaca panas dan terik, tapi dengan adanya ribuan penuntut ilmu dan penghafal Alquran dari seluruh penjuru bumi, di tambah keberadaan ribuan ulama dan awliya berwajah tenang dan teduh - mereka yang bagaikan Hujan yang menyirami setiap tempat yang mereka singgahi -, Tarim tetap bisa menjadi Kota yang tenang, sejuk, mendamaikan dan menentramkan untuk siapa saja..

لله قوم إذا حلت بمنزلة * حل السرور و حل الجود إذ ساروا

تحيا بهم كل أرض ينزلون بها * كأنهم لبقاع الأرض أمطار

** Ismael Amin Kholil, Tarim , 7 Mei.

Wallahu a'lam Bishowab 

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa bariik wa salim

Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment