Profil Pondok Pesantren Al-Falah Kediri


PROFIL PONDOK PESANTREN AL-FALAH KEDIRI

Nama Pesantren : Pondok Pesantren Al-Falah
Pendiri : KH. Ahmad Djazuli Ustman
Tahun Berdiri : 1925
Pengasuh : KH. Zainuddin Djazuli
Alamat : Ploso, Mojo, Kediri, Jawa Timur
No. Telephone : 0254-479032
Website : https://www.facebook.com
Jumlah Santri : 1.832 orang
Pendidikan : MI, MTs
Biaya : –

Sejarah

Berawal dari keinginan mengamalkan ilmu pengetahuan agama yang didapatnya dari Mekkah, KH. A. Djazuli Ustman merintis berdirinya sebuah pondok pesantren. Bersama dengan Muhammad Qomar, salah seorang santrinya, ia merintis berdirinya pesantren dengan cara sangat sederhana. Ia memulainya dengan sebuah pengajian, yang ia rintis sejak masih berada di KarangKates.

Pengajian tersebut, ia mulai pertengahan 1924 dengan menggunakan sistem sorogan. Ketika memulai hanya ada 12 orang santri. Namun tak lama kemudian, santri yang ingin mengaji semakin bertambah. Sehingga setengah tahun kemudian, tepatnya 1 januari 1925, KH. A. Djazuli Ustman mendirikan sebuah madrasah dan pondok pesantren. Ia memanfaatkan serambi masjid untuk kegiatan belajar-mengajar para santri.

Tanpa terasa santri yang belajar dengan KH. A. Dzajuli membengkak menjadi 100 orang. Sebuah kantor kenaiban pun muncul, ia pakai sebagai tempat belajar. Cuma yang menjadi persoalan, seiring dengan bertambahnya santri, fsilitas kenaiban tersebut tidak bisa lama-lama dipakai sebagai tempat belajar santri. Aparat kantor kenaiban sering terganggu dengan aktivitas para santri. Untuk itu, pada 1939, KH A Dzajuli segera membangun kompleks A, sebuah asrama berlantai dua yang dilengkapi dengan mushalla.

Seirama dengan pergantian pemerintah penjajah dari Belanja ke Jepang, juga membawa suasana kelabu bagi pondok pesantren ini. Tentara Jepang sangat mencurigai kegiatan pondok pesantren. Gerak-gerik kiainya mereka awasi. Pengajian berlangsung dalam suasana tidak bebas. Kalaupun di laksanakan secara sembunyi-sembunyi pada malam hari. Kondisi demikian makin di perburuk dengan masuknya agresi Belanda ke I pada tanggal 18 september 1948. Para santri yang memiliki semangat jihad, terlibat pertempuran untuk mengusir belanda, mereka bahu-membahu dengan TNI.

Operasional Pondok Pesantren tersebut kembali normal, setelah agresi Belanda berlalu. Setelah dua tahun vakum, kehadiran Pondok Pesantren Al Falah mengisi kekosongan pendidikan yang hancur lebur karena pertempuran. Simpati warga Kediri, mereka tunjukan dengan mengirim anak-anaknya nyantri di pesantren KH A Dzajuli.

Masyarakat Sekitar

Masyarakat sekitar pondok (Ploso) pada awalnya tergolong masyarakat abangan (jauh dari agama). Ketika awal berdiri, banyak masyarakat yang mencemooh Pondok Pesantren Al Falah, apalagi para pejabat dan Bandar judi, yang status quonya mulai terganggu. Mereka sering menyebarkan isu-isu sesat terhadap pesantren ini.

Fenomena semacam ini memang menjadi tantangan berat bagi Pesantren Al Falah. Namun para pengurusnya tak pernah gentar. Justru tanyangan itu membulatkan tekat mereka untuk mengubah masyarakat abangan menjadi masyarakat yang islami. Hasilnya seperti sekarang ini. Pesantren terus berkembang, dan kehidupan islami tercipta dengan sendirinya di sekitar pondok pesantren.

Pesantren yang terletak di bibir sungai berantas, banyak mengambil keuntungan dari letak geografis tertentu. Sungai yang terkenal deras airnya dan terus mengalir sepanjang musim, banyak memberikan kehidupan kepada para santri serta masyarakat sekitarnya. Di pinggir sungai inilah  terletak desa ploso, 15 km dari kota Kediri. Potensi wilayah seperti ini sangat berpengaruh terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat.  Umumnya mereka memanfaatkan tanah yang subur di sekitar Sungai Brantas untuk bercocok tanam.

Organisai Kelembagaan

Pondok pesantren Al-Falah Ploso menganut sistem manajeman tradisional dalam arti, kepemimpinan tunggal yang tersentral pada figur seorang kiai memegang otoritas yang sangat tinggi dalam pengelolaan pesantren. Manajemen semacam itu terus berlangung  sampai pada jaman KH Zainuddin Dzajuli, putra Kiai Dzajuli. Pondok pesantren ini merupakan lembaga pendidikan dan pengajaran model salafiyah (standar Salafiyah Nasional)

Penyelenggaraan Pendidikan

Program pendidikan dan pengajaran di Pondok Pesantren Al Falah, secara umum terdiri dari:
  1. Program akademik
  2. Penerimaan siswa baru
  3. Pembenahan jalannya proses belajar mengajar dengan penertiban absensi.
  4. Persiapan menghadapi ujian perttengahan dan akhir tahun
  5. Bidang perpustakaan
  6. Prakarya
  7. Sebagai pondok pesantren salafiyah materi pelajaran yang diberikan sekitar  pengetahuan agama islam yang bersumber pada kitab kuning. Sedangkan pengajarannya menggunakan metode sorogan, wetonan dan bandongan. Sebagaimana umumnya pondok pesantren salafiyah. Cuma pesantren Al Falah ini juga mengadopsi sistem pendidikan madrasah atau klasikal.

Ada tiga jenjang pendidikan di pesantren Al Falah, yaitu:

1. Madrasah Ibtidaiyah dengan lama belajar 3 tahun.

Pada jenjang pendidikan ini, materi pendidikan di prioritaskan pada pembinaan akhlaq (mental), pengembangan wawasan sosial anak, menulis halus huruf arab, tajwid dan pengenalan dasar gramatikal bahasa Arab (nahwu).

2. Madrasah Tsanawiyah dengan lama belajar 4 tahun

Pada jenjang pendidikan ini, sarana utamanya pada penguasaan ilmu nahwu, dimana takhiran (ulasan) dan marojinya (referensi) banyak di ambil dari kitab nahwu yang sudah termasyhur dan di selesaikan dalam satu tahun. Disamping itu, juga di pelajari fiqih,faro’id Risalatul Mahid, dan Qowa’idul I’rob. Pada tingkat IV Tsanawiyah materi yang di berikan lebih dipriolitaskan pada pemahaman Balaghoh (kesusastraan), Manthiq (logika), Usul Fiqih, Mustholah Hadist, dan Hisab/falaq.

Majelis Musyawarah Riyadlotut Tholabah

Lama pendidikan pada jenjang ini berlangsung 5 tahun, dengan kajian kitab dan alokasi waktu belajarnya sebagai berkut:
  1. Tingkat 1, dengan kajian kitab Fathul Qarib berlangsung selama satu tahun
  2. Tingkat 2, dengan kajian kitab Fathul Mu’in,selama 1 tahun,
  3. Tingkat 3, dengan kajian kitab Fathul Wahab selama 3 tahun.
  4. Program Bahtsul Masil, Halaqoh dan kegiatan ilmiyah lainnya.
  5. Pendidikan ektra kulikuler yang harus diikuti semua santri yaitu:
  6. Latihan keterampilan berorganisasi.
  7. Baca tahlil, yasin, muhafadhah, diba’iyyah dan mujahaddah setiap malam jumat.
  8. Praktek megajar
  9. Kegiatan lainnya yang berminat seperti Qira’atul Qur’an, kaligrafi dan seni bela diri.

Keadaan Santri, Kiai, dan Ustadz/Guru

Pada tahun ajaran 2000/2001, santri yang belajar di Pondok Pesantren Al Falah berjumlah 1.832 orang. Mereka tersebar di Ibtidaiyah 547 siswa, dan Tsanawiyah 1.285 siswa. Mereka di tampung di 43 kelas.

Adapun para pengasuh yang membimbing para santri berjumlah 122 orang dengan status sebagai kiai, badal dan ustadz/guru. Latar belakang pendidikan para pengasuh sangat beragam mulai dari SLTA sampai perguruan tinggi.

Sarana dan Dana

Untuk  menunjang kegiatan pendidikan, Pondok Pesantren Al Falah Ploso memiliki sarana dan prasarana sebagai berikut: 45 ruang belajar, 1500 set meja kursi, 54 papan tulis, 4 ruang kantor, 1 masjid/mushalla, satu perpustakaan, 46 kamar asrama putra dan 20 kamar asrama putrid.

Untuk membiayai seluruh kegiatan operasional pendidikan Pondok Pesantren Al Falah Ploso murni mengandalkan dari pemasukan uang pangkal, SPP serta iuran santri lainnya.

Pengembngan Pesantren

Sejalan dengan berputarnya waktu Pondok Pesantren Al Falah Ploso senantiasa melakukan peningkatan dan pengembangan fasilitas gedung, peralatan dan sebagainya, baik secara kualitas maupun kuantitas. Perbaikan dan penyempurnaan juga ditingkatkan dalam bidang sistem pendidikan seperti kurikulum, metode interaksi dan lain-lain.

Semoga Informasi ini bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama