Profil Pondok Pesantren At Taqwa Trenggalek


PROFIL PONDOK PESANTREN AT TAQWA TRENGGALEK

Nama  Pontren : At Taqwa
Lokasi : Desa Kedunglurah, Pogalan-Trenggalek Jawa Timur 6637
Pendiri : KH. Abdullah Umar
Tahun Berdiri : 1900-an
Pimpinan Sekarang : Kyai Umar Shaleh
Jumlah Santri : 960 orang
Jumlah Ustadz/Ustadzah : 66 orang
Lembaga Pendidikan : Madrasah Diniyah Awaliyah, Madrasah Diniyah Wustha, Madrasah Diniyah Ulya, Pengajian Pondok
Ciri Khas/Kajian Utama : Bidang Fiqih

Profil

Keberadan PP At-Taqwa dirintis oleh KH. Abdullah Umar yang memiliki nama asli Mursam, di Dukuh Jatigepluk, Desa Kedunglurah, Kecamatan Pogala, Kabupaten Trenggalek. Pada awal berdirinya, pengajian untuk para santri dilakukan disebuah langgar sederhana. Di langgar itulah, KH. Abdullah Umar mengajarkan ilmu-ilmu agama kepada murid-murid atau santri-santrinya, baik dari kalangan sanak famili ataupun putra-putra tetangganya.

Keadaan masyarakat pada waktu itu memang memeluk agama islam. Namun dalam kehidupan sehari-harinya jauh dan amaliyah keagamaan yang dianutnya. Mereka tergolong masyarakat “kejawen” atau “mojopahitan”. Pada saat itu kejahatan merajalela. Perbuatan-perbuatan yang dikenal dengan istilah Molimo (Madat, Main, Maling, Madon dan Minum) atau sama dengan (menghisap candu, judi, merampok, main perempuan, minuman keras/mabuk) dapat dilihat setiap saat. Kenyataan tersebut merupakan tantangan bagi KH. Abdullah Umar untuk memberantas.

Waktupun berjalan dan pengajianpun semakin berkembang dan banyak dikunjungi santri-santri yang bukan hanya berasal dari Desa Kedunglurah saja. Melainkan berdatangan pula dari desa-desa lain sekitarnya dan bahkan dari luar Kabupaten Trenggalek hingga dari Sumatra Selatan.

Tidak diketahui dengan pasti tahun berapa KH. Abdullah Umar dilahirkan dan mulai kapan merintis pondok tersebut, yang diketahuioleh keluarga penerus atau keturunanya adalah KH. Abdulllah Umar pada abad ke-19 dengan nama Mursam. Pemuda Mursam sebelum mukim dan mendirikan PP di desanya, terlebih dahulu menyiapkan diri dengan menimba ilmu di berbagai PP yang ada di Jawa Timurdan Jawa Tengah. Terakhir dan paling lama beliau belajar mengaji di PP Senopo Jawa Tengah. Beliau memperistri putri KH. Minhaj dari Kebon Sari Gondang Tugu Trenggalek, yang bernama Nyai Ruminah (Fatimah). Dari perkawinannya itu beliau dikaruniai 3 orang putra dan 5 orang putri. Beliau meninggal pada 16 Sya’ban 1362 H (1943).

Setelah KH. Abdullah Umar wafat, kepemimpinan pondok diteruskan oleh anak keduanya, KH. Shaleh. Pada masa kepemimpinannya PP dan madrasah mengalami perkembangan yang pesat. Pada masanya pula nama PP yang semula menggunakan nama desa diubah dengan nama At-Taqwa. Dia mempersunting gadis/anak keponakan dari ibunya yang bernama Nyai Safuroh binti Kyai Badaruddin bin KH. Minhaj, dan dikaruniai 9 orang anak (7 orang putra dan 2 orang putri). Beliau wafat pada 24 Februari 1983. Estafet kepemimpinan pondok dilanjutkan oleh putra pertamanya, Kyai Abdullah yang meninggal pada 1995. Kemudian pengelolaan pondok dan madrasah dipercayakan kepada Kyai Umar (putra kedua KH. Shaleh) dengan dibantu oleh adik-adiknya sampai sekarang.

Masyarakat Sekitar

Masyarakat Desa  Kedunglurah diperkirakan sekitar 4.000 jumlahnya, tentunya sudah jauh berubah dibandingkan tatkala PP At-Taqwa didirikan. Pada saat PP ini berdiri masyarakat Kedunglurah dapat dikatakan masih jauh dari pelaksanaan agama, karen amereka cenderung pada kejawen atau mojopahitan. Keberadaan PP pun mendapat tantangan yang cukup besar dari masyarakat tersebut. Akan tetapi, sekarang keadaannya sudah berubah.

Masyarakat Kedunglurah seluruhnya pemeluk agama islam. Walaupun masyarakat belum 100% mengamalkan ajaran agamanya,  namun sekarang sudah mencapai sekitar 80%

Dari masyarakat Kedunglurah yang mengamalkan ajaran mereka (islam) dengan baik. Dukungan masyarakat terhadap PP pun cukup besar. Hal tersebut, terlihat dari besarnya minat masyarakat untuk mengirimkan anak-anaknya belajar ilmu-ilmu agama di PP ini.

Kehidupan ekonomi, pada umumnya masyarakat Kedunglurah bekerja di sektor pertanian dan perdagangan. Sedangkan dalam kehidupan sosial, dampak negatif dari era globalisasi dapat dikatakan kecil sekali penaruhnya. Hal ini menurut pejabat kantor departemen agama Kabupaten Trenggalek karena salah seorang putra dari penerus kepemimpinan PP cukup disegani dikalangan remaja dan pemuda di Kedunglurah khususnya dan di Kecamatan Pogalan umunya.

Organisasi Kelembagaan

Penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan di PP selain dibantu oleh saudara-saudaranya pimpinan pondok juga melibatkan para pemuka masyarakat dan santri-santri senior. Secara administratif terdapat pemisahan antara kepengurusan PP dengan madrasah. Artinya, pengurus madrasah memiliki hak otonom dalam menyelenggarakan dan mengelola pendidikan di maddrasah.

Struktur kepengurusan PP untuk periode 2001 terdiri dari pelindung dan wakil-wakilnya, penasehat, kepala PP dan wakilnya, sekretaris dan wakilnya, bendahara dan keamanan. Untuk tugas-tugas operasional kepengurusan ini dilengkapi dengan enam seksi, yaitu:
  1. Seksi SKS (senggot, Kulah dan Selokan)
  2. Kebersihan masjid
  3. Seksi PLP (Penerangan Lampu Pondok)
  4. Seksi pencatat nimba
  5. Seksi pengajar shalat, dan
  6. Seksi pengajar Al-Qur’an di madrasah.

Pendidikan dan Ciri Khas

Pp ini mengajarkan ilmu-ilmu agama dan ilmu bantunya (ilmu alat) dengan menggunakan kitab kuning. Namun sistem pengajaran yang digunakan di PP ini adalah sistem Madrasi/Klasikal. Sehingga kalu kita mengacu pada UU No.2 tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional, lembaga pendidikan yang diselenggarakan dikelok ini tremasuk pada jenis pendidikan keagamaan.

Adapun jenjang pendidikan yang ada mulai dari tingkat dasr sampai tingkat menegah, yaitu Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA), Madrasah Diniyah Wustha (MDW) dan Madrasah Diniyah Ulya (MDU). Penggunaan istilah tersebut menurut istilah baku dari departemen agama, sementara pihak PP sendiri menggunakan istilah Madrasah Ibtidaiyah (MI) untuk MDA, Madrasah Tsanawiyah (MTs) untuk MDW dan Madrasah Aliyah (MA) untuk MDA.

Materi-materi pelajaran yang diberikan meliputi: fiqih, ushul fiqih, tauhid, nahwu, sharaf, balaghah, akhlak, tafsir Al-Qur’an,hadits dan musthalah hadits. Sedangkan kitab-kitab yang digunakan pada masing-masing jenjang madrasah adalah seebagai berikut:
  1. MDA
  2. Fiqih (taqrib dan mabadi alfiqhiyah 1-4)
  3. Ushul fiqih (waraqat)
  4. Tauhid (tijan Al-darori dan jawahil al-kalamiyah)
  5. Nahwu (alfiyah ibnu malik)
  6. Sharaf (tasfir al-istilahi dan qowa’id al-i’lal/al-sharaf)
  7. Akhlak/tasawuf (minah al-syaniyah)
  8. Tafsir al-qur’an (tafsir yasin dan al-fatihah)
  9. Hadits (arba’in an-nawawi)
  10. MDW
  11. Fiqih (fathul mu’in)
  12. Ushul fiqih (al-luma)
  13. Tauhid (kifayah al-awam)
  14. Nahwu (imriti dan alfiyah ibnu malik)
  15. Sharaf (tasrif al-lughawi dan al-maksud)
  16. Balaghah (jauhar al-maknun)
  17. Akhlak/tasawuf (washaya dan taysir al-khalak)
  18. Tafsir al-qur’an (tafsir jalalain I)
  19. Hadist (bulughul maram dan riyadus shalihin)
  20. Musthalah hadist (minhat al-mughis)
  21. MDU
  22. Fiqih (fath al-wahab)
  23. Ushul fiqih (jam’u al-jawami)
  24. Tauhid (fathal-majid dan umi al-barokhin)
  25. Nahwu (jurumiyah)
  26. Balaghah (‘uqud al-juman)
  27. Akhlak/tasawuf (ihya ulum al-din)
  28. Tafsir al-qur’an (tafsir jalalain II)
  29. Hadits (tajrid dan jawahir al-bukhary)
  30. Musthala hadits (alfiyah syuyuthy)

Santri, Kyai dan Ustadz/Guru

Jumlah santri yang belajar pada tahun ajaran 1422/1423 H (2000/2001 M) sebanyak 960 orang, terdiri dari 510 orang laki-laki (53,13%) dan 450 orang perempuan (46,78%). Dari jumlah tersebut yang termasuk santri murni atau santri mukim hanya sekitar 16% (160 orang). Demikian pula asal daerah mereka, hanya sebagian kecil saja yang berasal dari luar Kabupaten Trenggalek, baik kabupaten-kabupaten di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jakarta maupun dari Sumatra Selatan (21,35% = 205 orang).

Keberadan santri yang belajar mengaji secara klasikal di madrasah-madrasah diniyah yang ada, yaitu madrasah diniyah awaliyah (130 orang), madrasah diniyah wustha (500 orang) dan padamadrasah diniyah ulya (330 orang).

Kegiatan belajar mengajar dibimbing dan di asuh oleh 66 orang tenaga pengajar, yang terdiri dari seorang kyai, 5 orang badal dan 61 orang ustadz/guru (50 orang laki-laki dan 11 orang perempuan). Sedang dalam keperluan administrasi, para santri dilayani oleh 10 orang pegawai. Status kepegawaian, sebagai pegawaitetap yayasan dan lainnya sebagai pegawai honorer.

Sarana dan Prasarana

Untuk menunjang lancarnya kegiatan mengajar atau pelayanan administrasi, di PP At-Taqwa tersedia fasilitas-fasilitas seperti: 15 ruang belajar, 1 ruang administrasi, 2 ruang pimpinan pondok, 1 ruang pimpinan madrasah, 1 ruang guru/ustadz, 1 ruang perpustakaan, 2 ruang pertemuan/aula, 18 ruang asrama putra, masjid, 1 ruang BP3, 2 kamar msndi/WC, dan dua rumah pengasuh. Seluruh sarana dan prasarana tersebut seluas 3.000 m2 yang beradadi atas tanah wakaf seluas 10.000 m2.

Sumber Dana

Sumber dana utamabagi penyelenggaraan dan pengelolaan PP adalah iuran bulanan santri atau SPP, yang besarnya dibedakan untuk masing-masing jenjang madrasah. Andalan lain dalam masalah keuangan ada dari usaha pertemuan yang menyediakan berbagai kebutuhan para santri selain itu ada juga masukan keuangan yang sifatnya tidak tentu (insidentil), yakni bantuan atau sumbangan pemerintah atau para donatur.

Semoga Informasi ini bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama