Profil Pondok Pesantren Daar El-Azhar


PROFIL PONDOK PESANTREN DAAR EL-AZHAR

Nama Lembaga : PONPES MODERN DAAR EL-AZHAR
Alamat : Jl. Komplek Pendidikan 08/09 Kelurahan Muaraciujung Timur Kec. Rangkasbitung, Kab.Lebak, Prop. Banten.
Website : https://www.gontor.ac.id
Tahun Berdiri : 1995
Nama Pendiri  : Drs. Ikhwan Hadiyin,MBA
Kode Pos : 42314
Telepon Kantor : (0252) 5501409

MUQADDIMAH

Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang telah mengakar dalam sejarah dan tradisi bangsa Indonesia. Dalam perjalanannya pesantren telah menunjukkan kiprahnya secara signifikan bagi pembangunan bangsa ini pada setiap zaman yang dilaluinya; baik sebagai kubu pertahanan umat, sebagai lembaga perjuangan dan dakwah, sebagai lembaga pendidikan dan pengembangan ajaran-ajaran Islam, maupun sebagai lembaga pemberdayaan dan pengabdian masyarakat.

Ponpes Modern Daar el-Azhar Rangkasbitung (PMDARB), tidak ubahnya seperti pondok pesantren lainnya, adalah; “lembaga pendidikan Islam dengan system asrama, kyai sebagai sentral figurenya dan masjid sebagai titik pusat yang menjiwainya.” Sebagai lembaga yang mengintegrasikan seluruh pusat pendidikan, pendidikan pesantren bersifat total; membina kecakapan spiritual (Spiritual Quotient), kecakapan Intelektual (intellectual Quotient), dan kecakapan moral-emosional (Emotional Quotient). Untuk itu, lingkungan pesantren secara keseluruhannya adalah lingkungan yang dirancang untuk kepentingan pendidikan, sehingga segala yang didengar, dilihat, dirasakan, dikerjakan, dan dialami para santri bahkan seluruh penghuni pesantren adalah dimaksudkan untuk mencapai tujuan pendidikan. Dengan cara ini, PMDARB telah mewujudkan sebuah masyarakat belajar, “learning society”, dengan empat visi pendidikan dan pengajarannya. Pertama, learning to know/think; proses belajar yang bersifat teoritis dan berorientasi pada pengetahuan rasional dan logis. Kedua, Learning to do; belajar untuk melakukan atau berbuat sesuatu. Ketiga, learning to live together; pendidikan hidup bermasyarakat dengan maksud menanamkan kesadaran bahwa hidup dalam sebuah masyarakat global dengan aneka ragam latar belakang Sosial, budaya, bahasa, suku, dll. Keempat, learning to be; belajar menjadi diri sendiri.

LATAR BELAKANG PEMIKIRAN

Peran positif  pesantren yang sudah diuraikan di atas semestinya tetap dijaga dan bahkan harus selalu diupayakan pengembangan dan peningkatannya seiring dengan semakin berkembang dan beragamnya persoalan dan tantangan yang dihadapi umat dan bangsa ini dalam berbagai bidang kehidupan. Di antara bidang yang mendesak untuk dicermati dan dibenahi dari dunia pesantren agar dapat meningkatkan kualitas peran dan kontribusinya bagi kemajuan dan kesejahteraan bangsa adalah masalah sarana dan prasarana.

Lebih lanjut, alasan yang menjadi latar belakang mengapa sistem pendidikan pesantren menjadi pilihan para pendiri Ponpes Modern Daar el-Azhar Rangkasbitung (PMDARB) untuk mewujudkan cita-cita luhur tersebut,  antara lain dapat dijelaskan sebagai berikut:

Pesantren adalah sistem pendidikan berasrama di mana tri pusat pendidikan menjadi satu kesatuan yang terpadu. Sekolah, keluarga, dan masyarakat berada dalam satu lingkungan sehingga lebih memungkinkan penciptaan suasan yang kondusif, yang terkait dengan peran ketiga pusat pendidikan tersebut, dalam mencapai tujuan pendidikan.

Pesantren adalah sebuah masyarakat mini yang terdiri dari santri, guru, dan pengasuh/kyai. Ini adalah sebuah masyarakat kecil (a mini society) yang sesungguhnya. Dalam tradisi pesantren para santri  merupakan subjek dari proses pendidikan, mereka mengatur kehidupan mereka sendiri (self government) melalui berbagai aktifitas, kreatifitas,  dan interaksi sosial yang sangat penting artinya bagi pendidikan mereka.

Pesantren adalah lembaga pendidikan yang berasal dari, dikelola oleh, dan berkiprah untuk masyarakat, sehingga paradigma pendidikan yang berorientasi pada Community Based Education (CBE) bagi dunia pesantren sudah bukan lagi wacana.

Orientasi pendidikan pesantren adalah kemasyarakatan. Lingkungan pesantren diciptakan untuk mendidik santri agar dapat menjadi anggota masyarakat yang mandiri dan bermanfaat. Pendidikan ini menjadikan alumni pesantren tidak canggung untuk terjun dan berjuang ke masyarakat, sehingga, dalam bidang pekerjaan misalnya, dapat dikatakan tidak ada istilah nganggur (nunggu pekerjaan) bagi tamatan pesantren.

Pesantren lebih mementingkan pendidikan daripada pengajaran. Pendidikan pesantren lebih mengutamakan pembentukan mental karakter yang didasarkan pada jiwa, falsafah hidup, dan nilai-nilai pesantren. Adapun pengetahuan yang diajarkan adalah sebagai tambahan dan kelengkapan.

Hubungan antara anggota masyarakat pesantren berlangsung dalam suasana ukhuwwah Islamiyyah yang bersumber pada tauhid dan prinsip-prinsip akhlak karimah. Suasana ini tertanam dalam jiwa santri dan menjadi bekal berharga untuk kehidupan di luar masyarakat pesantren.

Pendidikan pesantren didasarkan pada prinsip-prinsip keikhlasan, kejuangan, pengorbanan, kesederhanaan, kemandirian, persaudaraan, dan kebebasan berpikir, sehingga bagi pesantren tidak ada masalah apapun dengan paradigma School Based Management (SBM).

Dalam masyarakat pesantren, kyai atau pimpinan pesantren selain berfungsi sebagai central figure juga menjadi moral force bagi para santri dan seluruh penghuni pesantren. Hal ini adalah suatu kondisi yang mesti bagi dunia pendidikan, tetapi kenyataannya jarang didapati dalam sistem pendidikan selain pesantren.

SEJARAH SINGKAT

Sebagai manifestasi dari esensi hidup di dunia, yaitu beribadah kepada Allah SWT, dan pesatnya transformasi dunia informasi, sains dan teknologi, serta untuk berpartisipasi aktif terhadap pembinaan kader-kader ummat, maka pada tanggal 27 Maret 1990 diselenggarakan “Pesantren Ramadhan” selama + 10 hari dengan jumlah santri 52 orang dari tingkat SD, SLTP, dan SLTA. Instruktur pada waktu itu berjumlah 10 Asatidz dari berbagai alumni Pondok Modern.

Melihat minat terhadap pendidikan pesantren begitu besar dan respon dari masyarakat begitu baik, maka pada 1991 –1992 mulailah dirintis pendidikan dan pengajaran extra di asrama (di luar jam sekolah) yang dinamakan “Persemaian Santri Madinah el-Tullab”. Santri pada waktu itu  berasal dari tingkat SD, SMP, SMEA, dan STM. Mereka digembleng sebelum dan sepulang sekolah.

Seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya kebutuhan pendidikan dan pengajaran, maka diperlukan elaborasi sistem pendidikan dan pengajaran selama 24 jam. Bermula dari seorang figur Drs. K H. Ikhwan Hadiyyin, MM yang meneguhkan cita-cita sucinya yang taken for granted, santri dari berbagai tingkat (SD, SLTP dan SLTA) dan berbagai daerah yang berjumlah 17 serta dukungan penuh 11 orang tenaga pengajar dengan menggunakan fasilitas Madrasah Diniyah sebagai ruang belajar dan rumah Bapak H. A. Damanhuri, BA (Alm) Ketua Yayasan Nurul Hasanah sebagai Asrama. Pada 3 Maret 1995 itulah, diiringi dengan niat Jihad li I’lai Kalimatillah sebagai kredonya, Bismillah Pondok Pesantren Modern Daar el-Azhar  didirikan.

Semakin hari bilangan santri semakin bertambah, sehingga rumah kyai tidak mencukupi. Para santri berinisiatif untuk mendirikan sebuah Gedung yang yang dibiayai keluarga yayasan kelak kemudian hari disebut Al-Azhar Building yang berlokasi + 400 M dari lokasi semula. Dengan Self Berdruifing System (sama-sama membayar dan sama-sama memakai) gedung tersebut akhirnya terwujud dan menjadi titik sejarah perkembangan Daar el-Azhar di kemudian hari.

Berangkat dari sinilah Sang Kiai dan semua Pendidik menyetrum santri-santri dengan berbagai doktrin-doktrin religius, scince, bimbingan-bimbingan etos kerja yang tinggi dalam bekerja, pemahaman cultur Islam, dan jiwa-jiwa keislaman yang berfundamental Quran dan Hadist (Holy Book dan Propetic Tradition) sebagai pedoman hidup. Bekerja dengan Ihsan yaitu bekerja sebaik-baiknya guna mencapai tujuan yang optimal, tidak setengah-setengah atau mediocre.

Sebagai Pesantren Alumni  Pondok Modern Darussalam Gontor, Daar el-Azhar mengambil Synthese lima Lembaga Pendidikan Internasional yaitu :

Syanggit dari Afrika ( Tripoli, Libya ).
Karena Kedermawanan para Pengasuhnya.

The Aligarh Muslim University ( India ).
Karena Kemodernisasiannya.

Al-Azhar Islamic University ( Mesir ).
Karena Keabadian Wakafnya.

Santiniketan ( India ).
Karena Kesederhanaannya.

Daarussalam – Gontor (Indonesia)
Karena Keikhlasan dan etos kerjanya

NILAI & IDE PENDIRI

Nilai & Ide Pendiri adalah nilai-nilai dan ajaran-ajaran yang mendasari seluruh proses pendidikan dan pengajaran di Ponpes Modern Daar el-Azhar Rangkasbitung (PMDARB) yang mencakup antara lain :

Visi

1) Menjadi Kawah Candradimuka dalam mencetak insan kamil yang selaras antara Imtaq dan Iptek.

2) Menjadi tempat ibadah, talabul ilmi, dan tempat mencari ridha Allah.

3) Menjadi sumber pengetahuan Islam, bahasa al-Qur’an/B. Arab, ilmu pengetahuan, dan tetap berjiwa pesantren.

Misi

1) Melanjutkan “Risalah Perjuangan” Nabi Muhammad SAW.

2) Membentuk karakter/pribadi umat yang unggul dan berkualitas, yang berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, dan berpikiran bebas, serta berkhidmat kepada masyarakat.

3) Mempersiapkan warga negara yang berkepriba-dian Indonesia yang bertakwa kepada Allah SWT.

Jiwa

Jiwa ini biasa disebut Panca Jiwa Pondok Pesantren, sebagaimana yang telah dirumuskan dan  disampaikan oleh K.H. Imam Zarkasyi pada Seminar Pondok Pesantren seluruh Indonesia tahap pertama di Yogyakarta, 4-7 Juli 1965, yaitu:

1)  Jiwa Keikhlasan

Jiwa ini berarti sepi ing pamrih, yakni berbuat sesuatu itu bukan karena didorong oleh keinginan memperoleh keuntungan tertentu. Segala pekerjaan dilakukan dengan niat semata-mata ibadah, lillah. Kyai ikhlas dalam mendidik, santri ikhlas dididik dan mendidik diri sendiri, dan para pembantu kyai ikhlas dalam membantu menjalankan proses pendidikan.

2)  Jiwa Kesederhanaan

Kehidupan di dalam pondok diliputi oleh suasana kesederhanaan. Sederhana tidak berarti pasif atau nerimo, tidak juga berarti miskin dan melarat. Justru dalam kesederhanaan itu terdapat nilai-nilai kekuatan, kesanggupan, ketabahan, dan penguasaan diri dalam menghadapi perjuangan hidup. Di balik kesederhanaan ini terpancar jiwa besar, berani maju, dan pantang mundur dalam segala keadaan.

3)   Jiwa Berdikari

Berdikari atau kesanggupan menolong diri sendiri ini tidak saja dalam arti bahwa santri sanggup belajar dan berlatih mengurus segala kepentingannya sendiri, tetapi pondok pesantren itu sendiri—sebagai lembaga pendidikan—juga  harus sanggup berdikari sehingga tidak pernah menyandarkan kelangsungan hidupnya kepada bantuan atau belas kasihan pihak lain.

4)  Jiwa Ukhuwwah Islamiyyah

Kehidupan di pondok pesantren diliputi suasana persaudaraan yang akrab, sehingga segala suka dan duka dirasakan bersama dalam jalinan persaudaraan keagamaan.  Ukhuwwah ini bukan saja selama mereka belajar di Pondok, tetapi juga mempengaruhi ke arah persatuan umat dalam masyarakat sepulang para santri itu dari Pondok.

5)  Jiwa Bebas

Bebas dalam berpikir dan berbuat, bebas dalam menentukan masa depan, bebas dalam memilih jalan hidup, dan bahkan bebas dari berbagai pengaruh negatif dari luar. Tentu saja kebebasan ini adalah bebas di dalam garis-garis disiplin yang positif, dengan penuh tanggungjawab; baik di dalam kehidupan pondok pesantren itu sendiri, maupun dalam kehidupan masyarakat.

Moto

Motto pendidikan dan pengajaran di PMDARB adalah :
  •      berbudi tinggi,
  •      berbadan sehat,
  •      berpengetahuan luas, dan
  •      berpikiran bebas

Orentasi Pendidikan

Orientasi pendidikan di PMDARB adalah Keislaman, keilmuan dan kemasyarakatan.

Sintesa Unsur-unsur Pendidikan di PMDARB

Pada awal pembukaan PMDARB, para pendirinya telah mengkaji beberapa lembaga pendidikan terkenal dan maju saat itu. Mereka merumuskan suatu sintesa unsur-unsur utama  dari berbagai lembaga pendidikan yang diperhatikannya.

Falsafah

Falsafah yang mewarnai dan mendasari gerak dan aktifitas di Ponpes Modern Daar el-Azhar Rangkasbitung (PMDARB) adalah :

1)      Falsafah Kelembagaan

Ponpes Modern Daar el-Azhar Rangkasbitung (PMDARB) berdiri di atas dan untuk semua golongan.
Pondok adalah lapangan perjuangan, bukan tempat mencari penghidupan.
Pondok itu milik umat, bukan milik kyai.

2)      Falsafah Kependidikan
  1. Lambat terbabat, malas tergilas, berhenti mati, mundur hancur. Bergerak, berbuat dan majulah !
  2. Jadilah ulama yang intelek, bukan intelek yang tahu agama.
  3. Hidup sekali, hiduplah yang berarti.
  4. Berjasalah tetapi jangan minta jasa.
  5. Mau dipimpin dan siap memimpin, patah tumbuh hilang berganti.
  6. Berani hidup tak takut mati, takut mati jangan hidup, takut hidup mati saja.
  7. Apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dan dialami santri sehari-hari harus mengandung unsur pendidikan.
  8. Seluruh mata pelajaran harus mengandung pendidikan akhlak.
  9. In uridu illa al-ishlah.
  10. Sebaik-baik manusia ialah yang paling bermanfaat untuk sesamanya.
  11. Pendidikan itu by doing, bukan by lip.
  12. Perjuangan itu memerlukan pengorbanan: bondo, bahu, pikir, lek perlu sak nyawane.
  13. I’malu fauqa ma ‘amilu.
  14. Hanya orang penting yang tahu kepentingan, dan hanya pejuang yang tahu arti perjuangan.
  15. Jadilah orang yang kaya iman, kaya ilmu, kaya budi, kaya jasa; biarpun miskin/kurang harta, asal jangan miskin budi, miskin jasa, miskin hati; syukur jika kaya harta pula.

3) Falsafah Pembelajaran
  1. Metode lebih penting daripada materi, guru lebih penting daripada metode, dan jiwa guru lebih penting daripada guru itu sendiri.
  2. Pondok memberi kail, tidak memberi ikan.
  3. Ujian untuk belajar, bukan belajar untuk ujian.
  4. Ilmu bukan untuk ilmu, tetapi ilmu untuk ibadah dan amal.
  5. Pelajaran di Pondok: agama 100% dan umum 100%.

LOKASI

Jl. Komplek Pendidikan 08/09 Kelurahan Muaraciujung Timur Kec. Rangkasbitung, Kab. Lebak, Prop. Banten.

TANAH

Luas tanah   : + 50.000 M2
Status tanah : hak milik & Wakaf
Keadaan tanah  : Bekas Sawah, Ladang dan Perumahan.
Bangunan yang ada : Asrama, Masjid, Kelas, Koperasi,
Perumahan Guru, Ruang Pertemuan dan Ruang Perkantoran.

Semoga Informasi ini bermanfaat 

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama