Tuesday, September 4, 2018

Penafian Sifat Jismiyah Dari Allah

Rate this posting:
{[['']]}


PENAFIAN SIFAT JISMIYAH DARI ALLAH

Oleh: Abdul Wahab Ahmad

Salah satu kalimat pengecoh dalam kajian Tauhid para Hasyawiyah adalah ungkapan "tidak seperti makhluk".

Ada yang mengatakan Allah punya tangan yang sebenarnya, bahkan ada yang sambil menunjuk tangannya sendiri untuk menjelaskan makna tangan, lalu bilang "tapi tidak seperti makhluk".

Ada yang mengatakan Allah turun dalam arti sebenarnya (bergerak dari atas ke bawah) lalu berkata "tapi tidak seperti makhluk".

Begitu seterusnya, semua diarahkan ke sifat jismiyah dengan penyelewengan konteks yang berupa tambahan "dalam makna yang sebenarnya" lalu diakhiri ungkapan "tapi tidak seperti makhluk". Kalau mereka mau ikut al-Qur’an dan hadis, harusnya tak perlu ada ungkapan "dalam makna yang sebenarnya" itu yang menjurus ke makna jismiyah, meskipun tak seluruhnya.

Padahal, seluruh sifat jismiyah itu dinafikan secara mutlak oleh ulama Ahlussunnah. Mau dibilang seperti makhluk kek, mau tak seperti makhluk kek, semuanya ditiadakan. Karena itulah, para Hasyawiyah juga disebut sebagai Mujassimah (orang yang menjisimkan Tuhan) atau Musyabbihah (orang yang menyerupakan Tuhan).

Pada poin penafian mutlak ini, para Hasyawiyah selalu tak terima dan gagal paham; Bagi mereka, bila sifat jismiyah itu dinafikan secara mutlak maka itu berarti meniadakan keberadaan Allah itu sendiri. Akal mereka tidak dapat memahami adanya keberadaan di luar jisim. Pokoknya seluruh yang ada haruslah berupa jisim, kalau menolak jisim secara mutlak berarti mengatakan tidak ada. Begitu nalar mereka, tapi ini biasanya tak diucapkan secara tegas.

Bagi yang sulit memahami uraian ini, kita ambil saja contoh lain yang lebih jelas. Ada satu sifat yang secara akal pasti ditiadakan dari Allah tetapi ada dalam al-Qur’an, yaitu sifat lupa. Ahlussunnah menafikan sifat lupa secara mutlak sebab mustahil Allah lupa, lalu ada orang bilang "Allah lupa dengan lupa sebenarnya tetapi lupanya tidak sama seperti makhluk". Ucapan orang ini pasti salah bukan? Meskipun dia bilang "tapi tidak seperti makhluk", selama masih menetapkan lupa ya nggak bener. Seperti itulah juga berlaku bagi sifat jismiyah, selama masih menetapkan makna jismiyah berarti nggak bener.

Apakah berarti Ahlussunnah menafikan nuzul, menafikan istiwa', menafikan yad dan lain-lain? Tidak, sama sekali tidak!

Ahlussunnah meyakini Allah benar-benar istiwa' tapi tanpa sifat jismiyah; Allah benar-benar nuzul, tapi tanpa sifat jismiyah; Allah punya sifat yang bernama "yad", tapi bukan dalam makna jismiyah. Begitu seterusnya. Sifatnya DITETAPKAN ada, tapi makna jismiyahnya dibuang.

"Ah mana bisa begitu? Pokoknya kalau tanpa makna jismiyah berarti sifatnya tak ada atau tak bisa dimengerti, itu muatthilah namanya". Kalau terbesit ini di kepala anda berarti anda sudah kena virus Hasyawiyah sehingga anda menolak keberadaan sifat apapun tanpa makna jismiyah. Padahal tak semua yang ada mestilah harus punya sifat jismiyah.

Lalu kalau bukan bermakna jismiyah lalu apa? Bagaimana memahaminya? Ini pertanyaan yang hanya muncul dari virus Hasyawiyah. Jawabannya: itu semua adalah sifat Allah yang hanya Allah yang tahu hakikat dan bagaimana-bagaimananya. Yang jelas sifat itu ada, kita imani saja tanpa berusaha membahas hakikat atau bagaimana teknisnya sebab itu di luar area yang dapat dijangkau akal.

Apa sih makna jismiyah itu sebenarnya? Makna jismiyah adalah makna yang HANYA khusus berlaku bagi jisim, seperti: punya ukuran, punya batasan fisik, punya diameter, punya volume, bergerak, berpindah, berorgan dan seterusnya. Ini semua dinafikan secara mutlak oleh para ulama Ahlussunnah dari Allah sebab itu semua memang HANYA untuk jisim, sama seperti mereka menafikan secara mutlak sifat lupa itu tadi. Apa dasar penafiannya? Buaaanyak. Siapa saja ulama Ahlussunnah yang menafikannya? Juga buaaaanyak.

Apakah melihat, mendengar, berkalam dan mengetahui juga sifat jismiyah? Bukan, sama sekali bukan. Ini semua adalah kemampuan dan kesempurnaan. Karenanya, Allah benar-benar memiliki itu semuanya secara sempurna, beda dengan manusia yang punya itu tetapi versi tidak sempurna. Tapi rumusnya sama saja: Allah mendengar tanpa organ jisim, melihat tanpa organ jisim, berkalam tanpa organ jisim dan seterusnya.

Dengan rumus "tanpa berupa sifat jismiyah" ini, maka Allah dengan sendirinya akan diyakini berbeda dengan seluruh alam. Kalau hanya bilang "tak seperti makhluk" sih tidak berbeda kecuali bentuknya saja. Mujassimah sejati di masa salaf yang bilang Allah punya daging, di ujung kengawurannya juga tetap bilang "tetapi tidak seperti makhluk".

Inilah akidah Ahlussunnah wal Jamaah secara ringkas tentang penafian sifat jismiyah. Yang akan menggugat uraian penafian ini hanya satu, yakni: para penetap sifat jismiyah alias para Hasyawiyah yang selalu tak terima bila sifat jismiyah ditiadakan secara mutlak. Kita tunggu barangkali ada yang muncul di komentar

Semoga bermanfaat.

Oleh : Kiyai Abdul Wahab Ahmad

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment