Tuesday, September 11, 2018

Suasana Pasar Tarim, Hadramaut-Yaman

Rate this posting:
{[['']]}

SUASANA PASAR TARIM, HADRAMAUT-YAMAN

Pasar merupakan sebuah tempat yang sangat penting dan selalu di kunjungi karena di dalamnya terdapat barang-barang untuk kebutuhan hidup kita sehari hari.

Pasar kota Tarim sangat lain suasananya dari pasar-pasar yang ada di dalamnya tidak ada ikhtilat; campurnya laki-laki dan perempuan. Karena di Tarim orang laki-lakilah yang pergi ke pasar untuk memenuhi kebutuhan dapur.

Coba Bayangkan jika kaum laki-laki yang pergi ke pasar untuk memenuhi kebutuhan dapur pastilah pasar kota Tarim sangat beruntung karena di datangi para wali dan ahli ilmu. Dimana saja mereka ada maka tempat itu akan menjadi indah dan menjadi tempat yang harum dengan semerbak wewangian yang terpancar dari cahaya ilmu.

قَوْمٌ كِرَامُ السّجَايَا حَيثُمَا جَلَسُوا يَبْقَى الْمَكانُ على آثارِهِم عَطِرَا

Mereka adalah sekelompok kaum yang dipenuhi perangai yang mulia di mana saja mereka menginjakkan kaki maka akan membekas dari tempat pinjakan tersebut wewangian ilmu yang harum yang membuat hati sejuk dan tentram bagi para penciumnya.

Inilah salah satu yang membuat beda pasar kota Tarim dengan pasar-pasar lainnya.

Di sebutkan bahwa Sayyidina Al-imam Faqihil Muqaddam selalu pergi ke pasar untuk membeli ikan yang akan di masak oleh Hababah Zaenab. Begitu juga para habaib yang lain, selalu pergi ke pasar untuk memenuhi kebutuhan keluarga juga memberikan ilmu mereka di pasar.

Diantaranya juga adalah al-Habib Abdullah Ba’alawi, sebagian lahan di pasar Tarim sampai terkenal dengan sebutan سوق عبد الله باعلوي “pasar Abdullah Ba’alawi” sebab beliau banyak mewaqofkan barang-barang yang sangat bermanfaat bagi para pedagang di pasar di antaranya timbangan besar dari besi dan lain-lainnya.

Di pasar Ba’alawi juga ada sebuah keajaiban yaitu siapa yang masuk pasar Ba’alawi maka akan selamat dari sengatan binatang yang ada di lokasi tersebut padahal tak jarang di jumpai kalajengking dan binatang-binatang yang menyengat lainnya tapi berkat karomah al-Habib Abdullah Ba’alawi mereka merasa aman dan bisa bersahabat dengan binatang yang menyengat tersebut.

Kehadiran sholihin di pasar memberikan kemanfaatan serta keajaiban yang sangat menakjubkan, sehingga pasar kota Tarim bagaikan pesantren yang di dalamnya penuh dengan ilmu. Di pasar kota Tarim sunnah-sunnah jual beli sangat di tegakkan, ini berkat para sholihin yang selalu menebar ilmu di dalam nya.

Alhabib Abdul Qodir Jailani al-Masyhur, beliau sering pergi ke pasar untuk membuka majlis ilmu di pasar karena di pasar tersebut banyak orang-orang gunung yang turun untuk menjual barang milik mereka, memanfaatkan kesempatan ini beliau al-Habib Jaelani al-Masyhur membuka pelajaran kitab al-Minhaj karangan Iman Nawawi.

(Masya Allah.. Di pondok-pondok saja jarang di kaji kitab sebesar Minhaj kecuali jika sudah tahunan mondok. Ini pasar Tarim mengkaji kitab Minhaj ). Tak jarang masyarakat kota Tarim berbondong-bondong berangkat ke pasar hanya ingin hadir majlis ilmu yang ada di pasar.

Keadaan yang begitu istimewa inilah yang membuat terlahirnya para wali, yang mana al-Habib Hasan bin Abdullah as-Syatiri mengatakan : “Sampai sekarang masih ada di pasar kota Tarem 200 wali”. Jika di pasarnya ada 200 wali lalu bagaimana di dalam masjid masjidnya.??!!

Padahal di sebutkan dalam hadist, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أحب البلاد إلى الله مساجدها و أبغض البلاد إلى الله أسواقها

“Tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid-masjidnya dan yang paling dibenci Allah adalah pasar-pasarnya.” (HR. Muslim no. 671 dari Abu Hurairah)

Dalam hadits lain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خير البقاع المساجد و شر البقاع الأسواق

“Sebaik-baik tempat adalah masjid, dan seburuk-buruk tempat adalah pasar.” (HR. At-Thabarani dan al-Hakim.

Keimanan mereka merubah pasar menjadi sebuah tempat untuk menambah ilmu dan menambah pahala serta mengangkat derajat mereka.

Mereka adalah orang-orang yang di puji oleh Allah Swt dalam al-Qur’an

رِجَالٌ لا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالأبْصَارُ، لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan membayarkan zakat. Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas” (QS an-Nuur:37-38)

Keadaan pasar kota Tarem tersebut sama seperti pekataan Imam Ali bin Abi Tholib..

سُوقُ المُسلِمِين كَمُصَلَّى المُسلِمِين ،

Pasarnya orang muslim itu laksana tepat ibadah karena di dalamnya adalah tempat turunya rahmat.

Selain kumpulan ilmu juga di pasar kota Tarim bagaikan masjid yang selalu makmur dengan lantunan ayat-ayat al-Qur’an, mereka para pedagang di kota Tarim jika pembeli tak kunjung datang mereka manfaatkan untuk mengaji al-Qur’an,

Alhabib Ali Masyhur ( kakak dari Habib Umar bin Hafidz ): “Aku masih mendapati pasar kota Tarem jika tidak ada pembeli mereka menanti dengan membaca al-Qur’an.”

Ada juga yang saling bermusyawaroh ilmu fiqih, ketika pembeli tiba mereka tutup kitab mereka sejenak kemudian mereka lanjutkan lagi.

Lantunan dzikir selalu terdengar di pasar kota Tarim, sebagian para habib datang ke pasar hanya ingin mengamalkan sunnah dari doa masuk pasar karena pahala yang Allah Swt janjikan sehingga mereka masuk pasar dan mengangkat suara seraya berkata :

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ حَيٌّ لاَ يَمُوْتُ، بِيَدِهِ الْخَيْرُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ.

“Laa ilaaha illalloohu wahdahu laa syariika lahu, lahulmulku walahulhamdu, yuhyii wa yumiitu wa huwa hayyun laa yamuutu, biyadihil khoiir, wa huwa ‘ala kulli syai’in qodiir.”

Siapa orang yang membacanya, Allah mencatat untuknya satu juta kebaikan, menghapus darinya satu juta keburukan dan meninggikan untuknya satu juta derajat.” (HR. At-Tirmidzi 5/291, Al-Hakim 1/538 dan Ibnu Majah 2235.

Arti doa tersebut:
(Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan, bag-iNya segala pujian. Dia-lah Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan. Dia-lah Yang Hidup, tidak akan mati. Di tangan-Nya semua kebaikan. Dan Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.)

Setelah membaca doa ini 3X kemudian mereka kembali pulang…

Pernah al-Habib Abdullah bin Husen bin Thohir ketika beliau masih kecil ketika melihat di pasar ada orang jual daging onta yang mana jika ada penjual daging mereka memotongnya di pasar agar dagingnya segar sehingga laku keras, mendengar ada orang penjual daging onta yang akan menyembelih ontanya maka al-Habib Husen bin Thohir yang pada saat itu masih sangat kecil, sangat ingin tau penyembelihan onta sehingga ia berangkat kepasar dengan diam-diam tanpa sepengetahuan sang bibi. Ketika sampai di pasar banyak sekali kerumunan orang yang menyaksikan penyembelihan itu karena sangat jarang ada, al-Habib Husein bin Thohir kecil menyusup dan menorobos masuk ke depan untuk melihat lebih jelas, sesampainya di depan iapun duduk dengan manis dan melihat orang yang mulai memotong daging onta tersebut. Ketika tukang sembelih onta itu melihat al-Habib Husein kecil, terlintas di benak sang penyembelih, tak pantas anak orang terhormat dan keluarga ahli ilmu berkeliaran di pasar… Maka sang pemotong onta mengambil sedikit daging dan membungkusnya kemudian menghampiri al-Habib Abdullah bin Husein bin Thohir, dan berkata : “Berikan ini pada bibimu…!”

Dengan sangat gembira sang anak lari kembali dan memberikan bingkisan daging pada sang bibi, melihat bungkusan itu sang bibi berkata : ” Terimakasih wahai tukang potong daging.. ini adalah bukti bahwa kau telah keluar batas rumah dan pergi ke pasar tanpa izin, ini bukanlah daging tapi ini adalah surat bahwa kau ke pasar.” Maka sang bibi memberikan pelajaran pada sang bocah…

Orang pasar pun ikut mendidik anak-anak dan generasi muda…

Mudah-mudahan kita bisa ziaroh ke kota Tarim, serta menginjakkan kaki kita di kota para wali. Aamiin —

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholi 'ala sayyidina Muhammad nabiyil umiyi w 'alihi wa shohbihi wa salim

Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment