Tuesday, September 11, 2018

Visit Aceh-syare'at 2030, Mungkinkah?

Rate this posting:
{[['']]}

VISIT ACEH-SYARE'AT 2030, MUNGKINKAH?

Oleh : Ustadz Fauzan Inzaghi
Yang kita kritik itu bukan syariat islam, tapi bagaimana syariat diterapkan. Syariat tidak bisa diterapkan dengan pelampiasan "anak muda zaman sekarang rusak, sudah seharusnya mereka ditegaskan dengan hukuman", atau "lagi-lagi pejabat korupsi, cocoknya memang dipotong tangan aja koruptor". Itu pelampiasan kekesalan melalui hukum yang ada dalam syariat, tapi bukan penegakan syariat.

Penegakan syariat islam harus punya visi yang jelas, buat statistik tentang permasalahan. Buta huruf alquran sekian persen, anak muda gak solat sekian persen, jumlah rata-rata jamaah mesjid sekian orang, kesadaran membayar zakat sekian persen, tingkat kriminal perharinya berapa orang dan apa faktor terjadinya, tingkat kemiskinan sekian persen apa dan masalah utamanya adalah ini dan itu, pendidikan masih memakai dasar pemahaman matrealis menyebabkan ini dan itu dan efek bagi syariat ini dan itu, pesantren apakah sudah bisa menjawab tantangan zaman?, berapa persen anak muda kena narkoba apa penyebabnya, pergaulan muda-mudi apa masalahnya, kenapa tempat wisata jadi tempat maksiat, perceraian seberapa tinggi, kdrt seberapa banyak, ajaran menyimpang apa saja yang ada, dst.

Setelah data terkumpul maka para ahli dikumpulkan baik dari alim ulama atau ahli ilmu yang bisa membangun negeri dibidangnya masing-masing, ulama mulai berdiskusi tentang obat dari syariat untuk permasalahan tadi dan para ahli menerapkan ilmunya untuk memberi obat melalui alat yang mereka punya, yaitu ilmu pengetahuan. Lalu target ditentukan. Tahun ke 1 apa yang harus di capai, tahun ke 5 apa yang harus dicapai dan obat syariat yang mana yang harus diberikan sesuai dengan dosis penyakit, tahun kesepuluh apa yang harus dilakukan dan sejauh mana perubahan yang akan dicapai, begitu seterusnya. 

Jadi penerapan syariat jadi terarah dan beneran jadi solusi umat, dan tentu jangka panjang. Bukan melulu soal hukuman, dan bukan tanpa hukuman sama sekali juga. Syariat itu didalamnya ada pendidikan, spritual, hukuman, dll. Tidak ujug-ujug amputasi, tapi obat syariat bisa diberikan sesuai dengan kondisi pasien, obat yang tepat, dengan dosis yang tepat dan pada waktu yang tepat. Obat syariat insyaallah akan mujarab. Gak langsung natijah tapi perlu muqadimah. Syariat islam itu bukan sepotong-sepotong, tapi anggota tubuh yang lengkap dan sempurna.

Tentu bagi rakyat jelata yang gak punya suara ini, mengharapkan pemimpin Aceh mempunyai sebuah blueprint untuk hukum di Aceh dengan judul "visit aceh-syariat 2030". Walaupun gak semua mencapai target tapi arahnya jelas. Jika ada masalah bisa dengan jelas terjawab. Dan gak akan ada banyak versi tentunya. Dan tentu penerapan syariat musiman dan angin-anginan bisa sangat diminimalisir. Jangan sampai penerapan syariat disaudi dan iran terulang, dimana wanita yang dipaksa menutup aurat itu begitu keluar bandara langsung lepas semua, seolah selama ini mereka disiksa syariat. Dan akhirnya bebas. Buatlah syariat yang menjadi solusi bagi umat, dimana ketika dia keluar dari daerah syariah dia mengatakan lihatlah negeri kami, negeri orang-orang bahagia.

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment