Selasa, 06 November 2018

Bagaimana Seharusnya Membaca Hadist ? Ini Jawabannya!

Rate this posting:
{[['']]}

BAGAIMANA SEHARUSNYA MEMBACA HADIST? INI JAWABANNYA!

Zaman dulu, aku mengira: klu ada hadits yg dinyatakan shahih/hasan atau tercantum di kutub as-sittah, apalagi ada di shahihain (al-Bukhari & Muslim) berarti pasti bisa dipakai tanpa perlu ragu.

Tapi, ketika belajar dengan masyayikh, terutama pas mendengar syarh Maulana Syekh Yusri Rusydi hafizhahullah, saat mereka menjelaskan isi hadits (di shahih al-Bukhari misalnya) & istidlal ulama dengan hadits; kok kadang berbeda dengan teks yg difahami secara bahasa.

Bahkan ada hadits shahih yang ijma' ulama bahwa hadits itu tidak boleh dipraktekkan atau hanya boleh dipraktekkan oleh orang2 tertentu..

Macam2lah...

Kadang ada hadits yg terkesan mengerikan seperti saat Sayyidah Fatima radhiyallahu 'anha marah/kesal pada Sayyiduna Abu Bakr radhiyallahu 'anhu yg tidak mau menyerahkan pengelolaan tanah - yg hasilnya untuk ahli bait - pada Sayyiduna Ali karramallahu wajhahu... Padahal ternyata kemarahan itu muncul dari keinginan Sayyidah Fatima agar tidak merepotkan Sayyiduna Abu Bakr yg sibuk dengan urusan umat.. Sementara Sayyiduna Abu Bakr pun tidak mau melepaskan kemuliaan berkhidmah pada ahli al-bait sesibuk apapun Beliau.

Jadinya.. hadits yg mengerikan itu kok malah mengandung makna yang sangat dalam & mengharukan tentang cinta indah antara Sayyiduna Abu Bakr & ahli al-bait.

Ada juga sebaliknya, hadits dha'if tapi para ulama sepakat untuk memakainya karena berbagai pertimbangan yang mereka ahli dalam masalah itu..

Kesimpulannya: jangan berani2 meng"istinbath" (menyimpulkan makna) hadits hanya karena baca teks hadits yang disebut oleh ulama takhrij itu shahih..

Jadi kita perlu membaca syarh hadits tersebut yang ditulis oleh para ulama yang diakui atau mendengar penjelasan masyayikh bersanad keilmuan ttg hadits itu agar tidak salah menyimpulkan.

Sebagaimana Syekh Emad Effat rahimahullah memperingatkan keras pada para murid Beliau agar jangan coba2 memahami al-Qur'an dengan makna teks al-Qur'an tanpa merujuk pada pendapat para mufassir mengenai suatu ayat.

Begitu juga sekarang aku memikirkan ttg hadits bendera Rasulullah (shalawat & salam untuk Beliau), benarkah berwarna putih & hitam? apakah benar ada tulisan kalimat tauhid? Apakah benar dikibarkan masa damai juga? Karena haditsnya bermasalah menurut ahli hadits. Kalau pun benar; lalu kenapa tidak dipakai dari masa ke masa, termasuk zaman sebelum runtuhnya khilafah?

Masalah besar dalam ilmu hadits seperti yang diterangkan Syekh Ahmad al-Hajiin hafizhahullah ttg taqawwul (menisbahkan qaul) pada Sayyiduna Rasulullah itu resikonya dapat kedudukan/tempat khusus di neraka.

Resiko yang sama untuk orang yang menisbahkan sesuatu hadits palsu ke Sayyiduna Rasulullah SAW dengan orang yang menafikan suatu yang memang benar hadits.

Semoga Allah SWT Membalas kebaikan masyayikh kita yang menerangkan agama untuk kita agar berhati-hati & berusaha untuk berjalan di jalan yang lurus... Al-fatehah...

---

Photo: shalawat yg disusun Syekh Yusri Rusydi hafizhahullah.

Oleh : Hilma Rosyida Ahmad

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim
    
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar