Keilmuan Habib Ali Al-Jufri Yang Dipahami Oleh Kyai Khoiron Mustafit


KEILMUAN HABIB ALI AL-JUFRI YANG DIPAHAMI OLEH KYAI KHOIRON MUSTAFIT

Saya tidak ingin membahas beliau secara panjang lebar, karena pasti telah banyak yang menuliskannya. Tapi saya akan membahas bagian luar biasanya saja.

Jika Anda masih mengukur seorang ulama bahwa dia hafal sekian ribuan hadis, hafal kitab fiqih ini dan itu, hafal al-Quran, maka dibanding Habib Ali al-Jufri, ukuran itu adalah ukuran newbie atau anak ingusan.

Habib Ali al-Jufri ini kisah keilmuannya luar biasa. Beliau bukan belajar di kelas, dimana di akhir semester diuji dengan 5 atau 10 soal mudah, lalu Anda dinyatakan lulus. Atau metode belajar klassikal dimana setiap harinya para mahasiswa menyetor hafalan hadis selama 2 tahun. Jika yang disetor 10 hadis per hari, misalnya, maka selama 2 tahun, hanya menghasilkan 7,300 hadis. Itu setara dengan jumlah hadis Shahih Bukhari (4000 hadis tanpa pengulangan) dan Shahih Muslim (4000 tanpa pengulangan). Itu pun kalau yang disetor 10 hadis setiap hari. Habib Ali al-Jufri tidak melakukan cara belajar seperti itu, melainkan melakukan tasmi’ atau membacakan hafalan kitab-kitab beserta syarahnya di depan para guru, lalu hafalan dan syarahnya itu dibenarkan oleh guru-gurunya. Beliau telah melakukan tasmi’ Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Tajrid Al-Bukhari, Ihya’ Ulumiddin, berbagai kitab nahwu, balaghah, dan fiqih, sejak usia 10 tahun hingga berusia 21 tahun. Di Indonesia, orang yang menguasai ilmu ini saja, pasti sudah menjadi ulama besar. Sedangkan yang tidak bisa apa-apa saja bisa masuk MUI dan jadi ulama kok.

Di usia beliau yang masih belia itu, beliau pun telah melakukan tasmi’ kitab Idhah Asrar `Ulum Al-Muqarrabin, kitab-kitab musthalah hadits, kitab-kitab ushul, kitab-kitab sirah, al-Mukhtashar al-Lathif Bidayah Al-Hidayah, kitab Sunan Ibnu Majah, Musnad Ahmad, al-Muwaththa’, al-Risalah al-Jami`ah, Bidayah Al-Hidayah, al-Muqaddimah al-Hadhramiyyah, Tafsir al-Jalalain, Tanwir al-Aghlas, Lathaif al-Isyarat, Tafsir Ayat al-Ahkam, Tafsir Al-Baghawi, Adab Suluk al-Murid, Risalah al-Mu`awanah, Minhaj al-`Abidin, al-`Iqd al-Nabawi, al-Risalah al-Qusyairiyyah, al-Hikam, dan seterusnya.

Bisa jadi, Anda mempelajari kitab-kitab di atas. Tapi, bedanya dengan beliau, Anda hanya mempelajari, sedangkan Habib Ali al-Jufri menguasainya di luar kepala. Kenapa? Karena metode belajar yang dilakukan oleh beliau adalah metode tasmi’, dimana beliau membacakan hafalan matan dan syarahnya di hadapan guru, lalu guru membetulkannya. Di samping tasmi’, Habib Ali juga mengambil ijazah dari 300-an orang syaikh dalam berbagai cabang ilmu. Ijazah di sini bukan seperti ijazah doa atau wirid hehe, melainkan sebagai bukti bahwa sang murid telah mahir dalam suatu bidang ilmu dan diperbolehkan mengajarkannya kepada orang lain.

Diantara guru-guru beliau adalah Habib Abdul Qadir bin Ahmad Al-Saqqaf, Habib Ahmad Masyhur bin Thaha Al-Haddad, Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, Habib Attas Al-Habsyi, Habib Abu Bakar Al-Masyhur Al-Adani, Habib Muhammad bin Abdullah Al-Hadar, Habib Umar bin Hafiz, Syaikh Umar bin Husain Al-Khathib, Syaikh Sayyid Mutawalli Asy-Sya`rawi, Syaikh Ismail bin Shadiq Al-Adawi, Syaikh Muhammad Zakiyuddin Ibrahim, dan ratusan masaikh lainnya.

Itulah sekelumit kehebatan Habib Ali al-Jufri. Orang hebat yang kita bisa saksikan di jaman millennial ini. Di Indonesia, orang seperti ini tidak ada duanya. Orang hebat ini menyatakan kepada kita semua bahwa musuh Anda yang sebenarnya adalah orang-orang yang meyakinkan bahwa antara Sunni dan Syiah ada permusuhan.

Orang hebat ini juga mengatakan bahwa sebelum keberagamaan tempatkanlah kemanusiaan. Ini adalah prinsip bahwa bahkan jika Anda berbeda secara akidah dengan seseorang, tempatkanlah posisi Anda dengan orang itu sebagai sesama manusia yang harus saling mencintai. Jika kemanusiaan tidak ditempatkan sebelum keberagamaan, bisa jadi Anda akan masuk kedalam golongan orang yang muflis, dimana di akhirat nanti seluruh amal baik Anda diambil oleh orang-orang yang Anda dzalimi, yang Anda fitnah, yang Anda bully, dan seterusnya. Setelah amal baik Anda habis, lalu amal buruk orang-orang yang Anda dzalimi itu akan ditimpakan kepada Anda. Anda pun di akhirat menjadi orang yang bergelimang keburukan.

Inilah sala-satu guru panutan saya. Sekian terimakasih.

Oleh : Kyai Khoiron Mustafit

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim
 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama