Friday, May 3, 2019

Cinta Apa Adanya Atau Kelak Bertanggung Jawab Dihadapan Sayyiduna Muhammad SAW

Rate this posting:
{[['']]}

CINTAI APA ADANYA ATAU KELAK BERTANGGUNG JAWAB DIHADAPAN SAYYIDUNA MUHAMMAD SAW

Mendapatkan kecintaan dari Rasulallah Saw bukan hal yg mudah. Jika kita yg cinta kepada Rasulullah Saw itu mudah, yg sulit adalah Rasul Saw cinta kepada kita.

Sebagaimana Rasulullah Saw pernah bersabda: "Cintai Ahlilbait ku sebagai bukti cintamu kepada aku"

Dulu para kyai, ulama, hingga santri2nya, mencintai Dzurriyat/Ahlulbait/Habaib tanpa syarat, tanpa kecuali, apa adanya, bahkan kepada habaib yg gila atau preman sekalipun, maka barokah kehidupan nya hingga kini masih di kenang jasa2 nya.

Beliau2 ini bukan tidak melalui ujian, bukan hal yg mudah memang karena pasti ada ujian bagi pecinta (Muhibbin).

Diantaranya yg masih banyak terjadi saat ini masih pilah pilih/membedakan antara habib yg satu dgn yg lain. Yang lembut banyak yg suka sementara yg tegas, bicara lantang atau cenderung kasar banyak benci. Kasihan mereka tdk mengetahui yg sebenarnya cinta.

Minimal doakan jika tdk suka cara penyampaian nya agar menjadi lembut atau lebih baik diam insyaallah selamat dunia akhirat, jgn sampai benci karena berat urusan nya kelak bukan hanya tdk mendapat syafaat tapi malah akan bertanggung jawab langsung di hadapan Habibul A'dzom Al Musthofa Rasulullah Muhammad Saw

Cinta kepada Ahlubait bukan PILIHAN akan tetapi KEHARUSAN sesuai sabda Nabi diatas.
Jgn bilang cinta sebelum di uji. Habaib tidak ma'sum masih bisa salah masih bisa berbuat dosa maka nasehati dan kembalikan dgn cara2 santun tentunya. Jika tdk mampu doakan, asal jgn benci

Ketahuilah yg mengajak benci adalah syaitan dan nafsu dan bagi yg masih awam hati2 terpengaruh dari kata2 org lain hingga jadi ikut2an benci itu semua bukan berasal dari hati nurani yg murni, percayalah.

Yaa Allah Yaa Rabb jadikan kami Pecinta Sejati.

( Habib Syarif Al-Jufri )

Wallahu a'lam insyaallah bermanfaat

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim
   
Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment