Friday, May 3, 2019

Tentang Walisongo dan Ajaran Yang Dibawanya

Rate this posting:
{[['']]}


TENTANG WALISONGO DAN AJARAN YANG DIBAWANYA

Al-Habib Ali Al-Jufri:

Dakwah Walisongo dibawa dari cahaya ke cahaya yang bersumber dari sumbernya cahaya, yakni Rasulullah Saw. Inti dari dakwah mereka adalah kesucian.

Kesucian lahir dan batin. Misal menjaga kesucian mata, bukan sekadar menjaga dari pandangan-pandangan yang diharamkan seperti melihat gambar-gambar haram. Tapi juga menjaga pandangan dari memandang manusia dengan pandangan yang rendah dan memandang dunia dengan pandangan mengagungkan.

Juga menjaga telinga dari pendengaran-pendengaran ghibah, adu domba dan perkataan-perkataan yang keji. Menjaga lisan dan seluruh anggota tubuh dari hal-hal yang mengotorinya. Dan ini adalah dasar kita untuk mencapai kesucian hati dan batin.

Yang dimaksud ‘kesucian hati’ adalah terhindar dari kesombongan, kebencian, iri, dengki dan semua hal yang dapat mengotorinya.

Maka Allah akan membersihkan hati kita dan bertajalliy dengan nama-Nya ‘al-Wadud’, sehingga terpancarlah dari kita sifat kasih sayang.

Tidaklah yang dipancarkan oleh para ulama salih terkecuali apa yang disifatkan Allah kepada Nabi-Nya Saw.

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat (kasih sayang) bagi semesta alam”. (QS. al-Anbiya ayat 107),

Sangat banyak para ulama yang datang ke Indonesia sedangkan penduduk setempat tidak dapat memahami bahasa mereka. Akan tetapi karena dibawa dari wajah dan tutur kata yang penuh kasih sayang, sehingga Islam masuk dengan mudah di berbagai penjuru negeri ini. Dan prinsip dakwah mereka adalah seperti yang dipegang dalam Thariqah Alawiyah, ada lima pondasi; ilmu, amal, ikhlas, khasy-yah (takut kepada Allah), dan wara’.

Ilmu yang menjadikan kita paham terhadap praktik ibadah dan muamalah. Manhaj mereka adalah Ahlussunnah wal Jama’ah. Bermadzhab Asyairah (Asy’ariyah) dan Maturidiyah dalam aqidah. Di dalam fiqih mereka mengikuti madzhab yang empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali), di Indonesia mayoritas bermadzhab Syafi’iyah. Dan sisi penting lainnya yang secara serius mereka lakukan adalah tazkiyyatunnufus, mensucikan hati.

Mereka memiliki prinsip dalam bermadzhab tapi bukan didasari fanatik yang mudah menyalahkan pihak lain. Melainkan prinsip bermadzhab yang (membuat pemeluknya) tidak bisa dibenturkan dengan pihak manapun dan tidak bisa dipermainkan oleh kepentingan politik manapun.

Sumber: www.jatman.or.id

Wallahu'alam

Allahumma Sholli a'la Sayyidina Muhammad wa ala alihi washobihi wasalim
   
Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment