Thursday, May 9, 2019

KH. Abdi Kurnia Djohan : Tidak Mudah Menyampaikan Materi Tasawuf

Rate this posting:
{[['']]}

TIDAK MUDAH MENYAMPAIKAN MATERI TASAWUF

KH. Abdi Kurnia Djohan :

Menyampaikan materi tentang tashawwuf atau tazkiyyatun nafs jelas bukan pekerjaan yang mudah. Penyampaian kedua materi itu menggambarkan kondisi ruhani orang yang menyampaikannya. Jika seseorang bisa berdusta kepada dirinya ketika berbicara tentang ilmu tafsir, ilmu hadits dan ilmu fikih, tapi ketika berbicara tentang ilmu tashawwuf itu sepertinya sulit untuk dilakukan.

Ilmu tashawwuf berporos kepada hablun minallāh dan kondisi hati orang yang menyampaikannya. Sampai di sini, kebohongan seseorang di dalam menyampaikan kajian tashawwuf akan tersingkap. Akan sulit baginya untuk berbohong, sedangkan yang dibahas adalah hubungan hamba dengan syahīdun 'ala mā ya'malūn (Yang Maha Menyaksikan apa yang dilakukan hamba-hamba-Nya). Kalaupun ia memaksakan diri untuk berbohong, Allah akan tampakkan kebohongan itu dengan tidak adanya haibah dari ucapan dan tindak tanduknya.

Itulah kiranya yang menjadi sebab kenapa tulisan-tulisan Imam al-Ghazali, Imam Qusyairi, Imam Zarūq, Imam Ibnu Hajibah, Imam Abdul Qadir al-Jilani, Imam Abdul Wahab Assya'roni dan Imam Ibnu Athoillah Assakandary, yang berbicara tentang tashawwuf atau tazkiyyatun nafs begitu membekas dan menggetarkan hati orang yang membacanya. Para ulama itu ketika menuangkan isi hati mereka, tidak diiringi dengan kebohongan diri mereka. Apa yang mereka tulis, adalah apa yang mereka pernah alami dan jalankan.

Sebagai contoh, ketika Imam Ibnu Athoillah menulis bait-bait hikamnya tentang tawakkal, ia telah membuktikan keampuhan tawakkal itu sampai pada level kepada Allah saja ia percaya. Jelas ini bukan persoalan yang mudah, bagi orang yang hatinya selalu dihantui ketakutan tidak makan banyak besok pagi, atau orang yang takut kehilangan posisi jika koalisi politiknya kalah.

Demikian pula halnya, ketika Imam al-Ghazali berbicara tentang kenikmatan di dalam berdzikir. Itu dikarenakan beliau telah merasakan kenikmatan itu mungkin hingga level fana pada waktu menyebut asma Allah. Kondisi yang dialami oleh Imam al-Ghazali akan sulit didapat oleh orang yang ketika berzikir membayangkan berapa isi amplop yang didapat atau janda mana lagi yang bisa dibidik untuk dijadikan istri kesekian.

Namun, walaupun diketahui bahwa ilmu tashawwuf merupakan lakon yang tidak semua orang mampu mengamalkannya, beberapa orang justru menganggap ilmu ini sebagai barang mainan. Tashawwuf yang semestinya nir kepentingan dunia, ditarik ke wilayah yang dianggap orang banyak sebagai wilayah kotor. Maka dari itu, tidak heran jika dijumpai sekelompok pengamal tashawwuf yang mendeklarasikan diri menjadi pendukung caleg, atau calon kepala pemerintahan. Padahal, hubbul jāh dan hubbu al-ri'āsah (cinta kekuasaan) oleh para ulama tashawwuf masa lalu dianggap sebagai perbuatan tercela yang harus disingkirkan.

Oleh KH. Abdi Kurnia Djohan

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim
   
Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment