Sunday, May 12, 2019

Pengorbanan Ulama' Salaf dahulu Hingga Menjual Baju Demi llmu

Rate this posting:
{[['']]}

PENGORBANAN ULAMA' SALAF DAHULU HINGGA MENJUAL BAJU DEMI ILMU

Para pendahulu kita yang mulia telah mengalaminya. Demi meraih ilmu Syar'i, mereka mengorbankan semua yang berharga, menjual pakaian untuk mendapatkan ilmu. Mereka meyakini bahwa pakaian ilmu, keimanan dan ketakwaan, lebih baik dari pakaian badan. Mari bersama saya, wahai saudaraku, mengambil hikmah kenangan abadi yang mereka torehkan, tentang pengorbanan mereka.

1. Syu'bah bin Hajjaj berkata, "Saya menjual thista (bejana dari tembaga untuk mencuci pakaian) seharga tujuh dinar (untuk biaya belajar)"

2. Abu Hatim Ar-Razi berkata, "Saya tinggal di Bashrah selama delapan bulan pada tahun 214 H. Dalam hati saya ingin tinggal selama setahun (agar bisa belajar ilmu), tetapi saya kehabisan nafkah. Maka saya menjual pakaian-pakaian saya sedikit demi sedikit, hingga saya betul-betul tidak memiliki nafkah."

3. Suatu hari Imam Baqy bin Makhlad Al-Andalusi berkata kepada para muridnya, "Kalian menuntut ilmu? Dan apakah begini caranya belajar ilmu? (Maksudnya kalian tidak pernah merasakan kesulitan dalam belajar sedikitpun dan berkorban demi mencapai sesuatu yang berharga). Sesungguhnya di antara kalian ada yang mengatakan, "Kalau tidak ada kesibukan saya akan pergi belajar." Saya mengetahui seseorang (maksudnya dirinya sendiri) yang ketika belajar beberapa hari tidak mendapatkan apa yang dia makan, kecuali daun kubis yang telah dibuang oleh orang. Saya mengetahui seseorang (maksudnya dirinya) yang menjual celananya, tidak hanya sekali agar bisa membeli kertas untuk menulis (Yaitu, ketika nafkahnya habis, ia cukup memiliki celana yang dia pakai dan menjual celana dan bajunya yang lain sebagai biayanya untuk belajar)."

4. Al'allâmah Abu Zaid Ad-Dibbaghy penulis biografi Abu Ja'far Ahmad Al Qushari berkata, "Terkadang dia menjual sebagian bajunya. Hasilnya dia pakai untuk membeli buku atau kertas tulis-menulis. Abu Bakar Al-Maliky berkata, "Dia tiba di daerah "Sausah" untuk bertemu Yahya bin Umar. Dia mendapatinya sudah menulis kitab. Dan dia tidak mendapatkan apa yang dia pakai untuk membeli kertas, maka dia menjual bajunya dan hasilnya digunakan untuk membeli kertas. Dia menulis kitab sambil menemuinya kemudian membawanya ke Qairawan."

5. Abu Muhammad Al-Firghani berkata, Ibnu Jarir Ath-Thobari melakukan rihlah (perjalanan) ketika usianya baru dua belas tahun. Ayahnya mengizinkannya untuk pergi dan selama hidupnya dia mengirimkan sesuatu sebagai bekal untuk belajar. Ibnu Jarir berkata, "Terjadi keterlambatan nafkah dari orang tua saya, sehingga saya terpaksa merobek kedua kantong jubah saya dan menjualnya (hasilnya untuk biaya belajar)."

6. Abu Hatim Ar-Razi berkata," Saya pergi ke Mesir, karena banyak ilmu saya ingin tinggal di sana. Saya meminta kepada tukang tulis di Mesir untuk menuliskan kitab "Asy-Syafi'i". Saya sudah membeli dua kain di Mesir untuk saya jahit sendiri ketika sudah kembali ke negeri saya. Ketika ingin menulis kembali kitab "Asy-Syafi'i" saya tidak memiliki uang, Saya kemudian menjual kedua kain tersebut seharga enam puluh dirham dan saya membeli kertas seharga sepuluh dirham. Sisanya saya berikan kepada orang yang menuliskan kitab "Asy-Syafi'i tersebut."

7. Syaikh Bakri Al-Katib, penulis biografi Ahmad Al-Hajjar, berkata, "Beliau sangat senang memiliki kitab. Saya pernah mendengar beliau melihat kitab yang dijual dan dia tidak memiliki uang. Dia memiliki baju, kemudian dia buka sebagian dan menjualnya. Beliau membeli kitab tersebut saat itu juga.

(Dikutip dari kitab Kaifa tatahammasu fî tholabil 'ilmi asy-Syar'i).
  
Wallahu a'lam Bishowab 

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim
  
Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment