Jumat, 13 November 2020

Asal Usul Panggilan Habib Atau Habaib Keturunan Nabi Muhammad SAW

Rate this posting:
{[['']]}

ASAL USUL PANGGILAN HABIB ATAU HABAIB KETURUNAN NABI MUHAMMAD SAW

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Dzurriyat Rasulullah SAW atau keturunan Rasulullah SAW dikenal dengan sebutan Habaib atau Habib.

Di Indonesia sendiri, habaib termasuk salah salah tokoh yang dihormati dikalangan umat muslim. berbicara mengenai habib, tentu memiliki asal usul mengapa keturunan Rasulullah SAW disebut sebagai habaib.

Melalui laman facebooknya, KH. Abdi Kurnia Djohan membagikan ceritanya mengenai " Asal Usul Panggilan Habib Atau Habaib Keturunan Nabi Muhammad SAW " selengkapnya yuk disimak tulisannya di bawah ini :

Oleh : KH. Abdi Kurnia Djohan

Tahun 2006, saya pernah diperlihatkan sebuah buku tua tentang sejarah habaib di Nusantara, oleh seorang sayyid dari keluarga al-Baiti. Di dalam buku itu, ditulis kalau tidak salah ingat, bahwa penyebutan "habib" untuk pertama kali diperkenalkan oleh al-Imam al-Faqih al-Muqaddam Sayyid Muhammad bin Ali Shahib ul-Mirbath. 

Diperkenalkannya istilah "habib" itu dimaksudkan untuk mengganti penyebutan "sayyid". Ada sejarah di balik penyebutan itu. Ketika rombongan al-Imam Sayyid Ahmad bin Isa al-Muhajir tiba di Yaman, sebagian kepala qabilah menaruh hasad kepada mereka. Para kepala qabilah itu menganggap bahwa kehadiran keturunan Rasulullah itu akan memudarkan pamor para kepala suku tersebut. 

Baca Juga :

Mencintai Habaib Sesuai Seleranya, Mencaci Maki Habaib Semaunya?

Sebagaimana diketahui bahwa fanatisme kesukuan di kalangan bangsa Arab, termasuk Yaman, sangatlah kuat. Nama-nama qabilah asli Yaman adalah Basuwaidan (Baswedan), Bafadhal, Bajubair (Bajeber), Bajuray (Bajerei), Bamasymusy, Bab Kheir, Baub Said, Bahasuwan, Bahalwan, al-Afifi, al-Yafi'i, Ba'asyir, Bawazir, al-Ghaity dan masih banyak lagi. 

Karena kedengkian sebagian kepala suku itu, keluarga Sayyid Imam Ahmad bin Isa selalu mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan. Padahal, sebagaimana kabar yang disampaikan oleh Sayyidina Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhu, orang-orang Yaman sangat mencintai Rasulullah dan Sayyidina Ali bin Abu Thalib. Sehingga karena kecintaan itu, Rasulullah pernah mengatakan bahwa kebaikan berasal dari Yaman. 

Melihat situasi yang tidak menyenangkan selama bertahun-tahun sejak kedatangan Bani Alawy di Yaman, al-Imam Muhammad bin Ali mengusulkan agar penyebutan "sayyid" itu diganti dengan "habib" yang maknanya adalah orang yang dicintai. Sekaligus penyebutan itu dimaksudkan sebagai pengingat agar semua keturunan Rasulullah, menampilkan akhlak yang dicintai semua orang. 

Baca Juga :

Perbuatan Tergantung Dengan Niatnya

Al-Imam al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad menerjemahkan pesan datuknya itu dengan membuat kaidah tentang perilaku bagi orang yang "pantas" disebut sebagai "habib". Menurutnya, sebutan "habib" itu merupakan beban yang sangat berat ditanggung oleh semua sayyid. Karena beratnya beban tersebut, dikabarkan bahwa di Yaman tidak banyak sayyid yang berani mengaku sebagai "habib". Hanya orang-orang tertentu yang menurut kebiasaan di Yaman, yang layak disebut "habib", seperti al-Allamah al-Habib Salim bin Umar al-Syathiri, dan al-Allamah al-Habib Umar bin Hafizh. Di Mesir, Sudan, dan Suriah, banyak sayyid yang sengaja menyembunyikan identitasnya. Kita tentu tidak menyangka bahwa Syekh Dr. Yusri Gabr adalah seorang sayyid dari garis Sayyidina Hasan. Begitu pula dengan al-Allamah Syekh Ali Jum'ah yang ternyata seorang sayyid dari garis keturunan Sayyidina Husain. 

Bagaimana dengan di Nusantara? Tanpa disadari cukup banyak sayyid yang tersebar di Nusantara, baik yang berasal dari keturunan Yaman maupun yang dari Persia. Sayyid yang berasal dari Yaman, masih mempertahankan nama qabilahnya sebagaimana dipakai di Yaman. Sedangkan, yang berasal dari Persia banyak yang tidak memperlihatkan ke-sayyid-annya karena telah melebur dengan warga lokal. Maka dari itu, kita tidak menyangka jika Mbah Mangli adalah seorang sayyid karena tidak tampak padanya tanda-tanda seorang sayyid. Demikian pula dengan Pangeran Abdul Hamid Diponegoro Eru Tjokro, yang ternyata adalah seorang sayyid. 

Baca Juga :

Pelajaran Ranting Kecil Dari Rasulullah SAW

Intinya seperti dikatakan di dalam shalawatan: 

اَهلُ البيْتِ الْمُصْطَفَى الطُّهُوْرِ  هُمْ اَمَانُ الْاَرْضِ فَادَّكِرِ

Semoga informasi ini bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -


Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar