Selasa, 10 November 2020

Budak Di Zaman Nabi Ibrahim As Dan Nabi Muhammad SAW

Rate this posting:
{[['']]}

BUDAK DI ZAMAN NABI IBRAHIM AS DAN NABI MUHAMMAD SAW

Oleh : KH. Abdi Kurnia Djohan

Setelah Nabi Ibrahim berdoa di dekat reruntuhan Ka'bah, beliau menyampaikan pamit kepada budaknya Hajar. Sesuai dengan janji yang pernah disampaikan kepada Sarah, istrinya, Nabi Ibrahim segera meninggalkan Hajar dan Ismail kecil di padang gurun tak bertuan itu. 

Mendengar keinginan suaminya ingin pamit, Hajar pun spontan mengungkapkan keberatannya. "Apakah engkau tega meninggalkan kami yang lemah ini di tempat yang tidak kami kenal, wahai Ibrahim?!" Berkali-kali kalimat itu dilontarkan Hajar kepada suaminya. Sementara, bayi Ismail hanya mampu meneriakkan tangis seakan mengikut sikap ibunya. 

Mendengar pertanyaan kritis memang sempat membuat hati Nabi Ibrahim goyah. Walaupun status Hajar adalah budak, namun bayi yang dilahirkannya itu tetap keturunan Nabi Ibrahim. Tapi apa daya, secara hukum saat itu, Sarah lebih berkuasa atas Hajar. Beberapa informasi menyebut bahwa Hajar adalah budak yang diterima Sarah dari ayahnya, yang merupakan penguasaan Kan'an. 

Baca Juga :

Filosofi Semar, Gareng, Petruk, Bagong (Punakawan) Dalam Islam

Pada masa itu dan hingga masa sesudah Nabi Muhammad, perbudakan merupakan praktik yang lumrah di masyarakat. Setiap penguasa, tokoh, orang besar, atau orang-orang kaya pasti mempunyai budak yang melayani kebutuhannya selama 24 jam. Perbudakan terjadi karena beberapa sebab. Yang sering disebutkan adalah karena peperangan, utang piutang, dan pewarisan dari generasi sebelumnya. 

Pada masa Nabi Ibrahim, dan juga pada masa Nabi Muhammad, mengakar pandangan bahwa seorang budak hilang kemerdekaannya di masyarakat. Kondisi yang memprihatinkan sering dialami oleh budak perempuan yang cantik. Mereka kehilangan haknya untuk memilih jodoh dan menikah. Kecantikan yang mereka miliki justru menambah kesengsaraan mereka. Kuatnya nafsu seksual majikan mereka memaksa mereka menjadi alat pemuas nafsu belaka. Mereka dicampakkan begitu diketahui mengalami kehamilan karena perbuatan majikannya. Bahkan, tak ayal mereka dipaksa majikan mereka menggugurkan kandungan karena istri majikan mereka tidak menyukai lahirnya keturunan campuran dari rahim budak-budak yang dipandang hina. 

Namun, kondisi itu tidak dialami oleh Hajar. Sudah sepatutnya Hajar bersyukur dengan keadaan yang dia terima, hidup di lingkungan bangsawan Kan'an. Penguasa Kan'an, ayah Sarah, mempunyai seorang menantu yang saleh dan tidak gelap mata dengan kedudukan yang dimiliki. Beberapa informasi menyebut bahwa Penguasa Kan'an, ayah dari Sarah, masih mempunyai hubungan famili dengan Nabi Ibrahim. Pernikahan Nabi Ibrahim dan Sarah terjadi atas permintaan ayah Sarah. 

Baca Juga :

Biografi Habib Muhammad Al Bagir bin Alwi Bin Yahya

Hajar mendapat kehormatan ketika majikannya, Sarah memintanya untuk memberikan keturunan untuk suaminya. Namun setelah perintah itu dilaksanakan, fitrah Sarah sebagai perempuan bangkit. Ia meradakan kecemburuan yang begitu hebat ketika melihat kegembiraan suaminya, Nabi Ibrahim yang mendapatkan keturunan yang sekian lama dinantikan. 

Sarah pun sebenarnya tidak tega mengusir Hajar dari Kan'an. Tapi, sikap itu harus ia ambil agar putera yang dilahirkan Hajar tidak mengalami gangguan perkembangan psikologis, dengan statusnya sebagai anak yang dari seorang budak, walaupun ayahnya adalah seorang Nabi dan calon penguasa mada depan Kan'an. 

Atas pertimbangan itu dan mengikuti kemauan istrinya, Nabi Ibrahim terpaksa meninggalkan keturunannya dan Hajar di gurun Paran atau Hijaz. Dari sisi Hajar, tindakan Nabi Ibrahim itu mungkin dianggap sebagai penelantaran. Tapi bagi Nabi Ibrahim, di balik kondisi yang tidak diharapkan oleh manusia, ada skenario Allah yang akan mendatangkan kebaikan bagi manusia itu sendiri. 

Sampai di sini, kaidah di dalam ayat di bawah ini:

والله أَعلَمُ وانْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

Dan Allah Maha Mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui (al-Baqarah) 

telah berlaku sejak alam ini diciptakan....

Source : dikutip melalui laman facebook KH. Abdi Kurnia Djohan

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

Baca Juga :

Shalawat Miftah Karangan Habib Ali Al Habsyi ( Shohibul Maulid Simthudduror )

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

 

Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar