Kyai Kampung Rasa Doktor

KYAI KAMPUNG RASA DOKTOR

Oleh : Ustadz Abdullah Al-Jirani

Ada orang-orang  yang tidak pernah belajar kepada para ulama di luar negeri, tidak punya titel akademis apapun, tapi keilmuannya serasa doktor atau profesor, bahkan lebih. Mereka ini hanya fokus belajar kepada para guru yang ada di pondok pesantren di Indonesia dengan sistem belajar sorogan atau bandongan dari satu kitab ke kitab lain dalam berbagai disiplin ilmu. Masa belajarnya pun cukup lama, tahunan atau bisa sampai belasan tahun. Bahkan ada sebagian mereka walaupun sudah belajar belasan tahun, belum mau pulang kalau belum disuruh pulang oleh gurunya. Mereka ini, ilmu dan sanad (transmisi) keilmuannya jelas, bersambung sampai kepada para ulama mujtahidin, lalu bersambung sampai Nabi.

$ads={1}

Baca Juga :

Mencintai Habaib Sesuai Seleranya, Mencaci Maki Habaib Semaunya?

Hafalannya pun sangat mutqin, baik hafalan quran, hadits, matan-matan ilmu, dan berbagai faidah-faidah ilmiyyah. Bahkan sampai ada yang hafal suatu faidah ilmu terletak di buku apa, halaman berapa, sebelah mana dan terbitan mana. Selain sudah khatam (selesai) belajar berbagai kitab, mereka juga sudah khatam "mengajarkan" kitab-kitab tersebut berkali-kali bahkan belasan kali kepada orang lain.

Saya pernah belajar sebuah kitab ushul fiqh tingkatan akhir pada seorang guru yang tidak punya titel apapun, yang selesai selama dua tahun. Waktu itu beliau bilang, bahwa beliau telah mengkhatamkan (selesai) mengajarkan kitab tersebut kepada murid-muridnya sebanyak enam belas kali. Jadi waktu mengajar saya kala itu adalah kali yang ke tujuh belas. Kalau sekarang mungkin sudah lebih dari dua puluh kali. Beliau juga sempat mengulang beberapa kali saat belajar kitab tersebut kepada guru beliau.

Mungkin jadi di sekitar kita ada guru-guru yang tipenya seperti ini. Perlu dicari, karena biasanya mereka tidak terkenal. Tidak pernah masuk TV nasional dan tidak masuk deretan ustadz "komunitas hijrah". Kami pribadi berkesempatan untuk mendapatkan sebagian dari mereka dan menimba ilmu darinya. Ini semua menjadi bukti, bahwa keilmuan tidak melulu diukur oleh sederet titel akademis ataupun "popularitas". Ilmu itu anugerah Allah yang akan diberikan kepada para hamba-Nya yang Dia kehendaki.

Baca Juga :

Pelajaran Ranting Kecil Dari Rasulullah SAW

5 Dzulhijjah 1441 H

Alfaqir : Abdullah Al-Jirani

****

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohobihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama