Sifat Rendah Diri Habib Umar bin Hafidz Ketika Datang Tak Tepat Waktu

SIFAT RENDAH DIRI HABIB UMAR BIN HAFIDZ KETIKA DATANG TAK TEPAT WAKTU

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Aku berjalan terburu-buru menuju rumah Habib Umar. Waktu sudah menunjukkan pukul 21:50, padahal aku sudah diberi tahu bahwa acara ‘rapat dauroh’ bersama beliau akan dimulai tepat jam 21:30 waktu Tarim.

“Sudah pasti terlambat..” Aku membatin dalam hati.

Huft.. Semua gara-gara syahwat perutku yang selalu minta dimanja dan dituruti. Antrian di Mat’am Jamalah di malam itu benar-benar menyita waktuku. Untung aku cuma nunggu aja gak ikutan ngantri. Pesanan siap dan waktu sudah lewat dari jam setengah sepuluh! Terpaksa aku makan secepat-cepatnya lalu pamit duluan pada teman-teman makanku untuk segera menuju rumah Habib.

Baca Juga :

Kisah Seorang Wahabi Bertanya Kepada Habib Umar Mengenai Ziarah Ke Makam Auliya

Aku sampai di halaman rumah beliau. Tapi anehnya tampak dua orang yang selalu ‘mengikuti’ agenda-agenda Habib Umar masih ngobrol santai di luar. Mereka berdua adalah Syaikh Mus’ab dari Manchester, dulu sebelum masuk Islam bernama ‘Lucky’ dan Ali Mubayyid dari Australia.

“Apa jangan-jangan acaranya batal ya? Atau sudah selesai ?” fikirku.

Aku memasuki rumah Habib, dan ternyata sudah berkumpul puluhan orang di ruang tamu, kebanyakan memang santri-santri Habib Umar dari berbagai negara, ada yang dari Inggris, Jerman, Australia, Afrika selatan, Amerika, Filiphina, Malaysia dan tentunya Indonesia. Mereka ini adalah pelajar-pelajar yang ditugaskan untuk menyambut dan membimbing para peserta dauroh yang akan tiba sebentar lagi. Tiap tahunnya, Habib Umar memang mengadakan Dauroh Shofyah, semacam pesantren kilat di liburan musim panas yang berlangsung selama 40 hari dengan para peserta yang berasal dari 5 benua.

$ads={1}

Waktu itu ternyata Habib Umar belum hadir di tempat. Sambil menunggu beliau, Habib Bakri Al Hamid menyampaikan wejangan-wejangannya. Suguhan Teh merah dan Teh Hijau sudah datang dua kali.

Suasana tiba-tiba berubah, orang-orang yang ada diluar berdiri, alamat bahwa ia yang ditunggu-tunggu telah tiba. Dan benar saja. Beliau dengan senyuman khasnya datang memasuki ruang acara.

Beliau duduk kemudian memulai dawuh beliau tentang tujuan-tujuan dauroh, tugas-tugas mulia yang diamanahkan kepada kami dan niat-niat agung yang harus terpatri dalam hati kami ketika menjalankan Khidmah ini.

Baca Juga :

Ngaji Habib Umar: Sayyidah Fatimah dan Asal-usul Keranda Mayat

“Tujuan utama kita adalah membahagiakan hati Rasulullah SAW” pesan beliau di malam itu.

Sebelum mengakhiri kalamnya, beliau berkata:

“Maafkan saya sudah terlambat selama 30 menit.. ” meskipun seperti sebuah canda, aku yakin ucapan beliau ini serius dan tulus, bukan sekedar basa-basi.

Semua diam. Tak ada yang berani berkomentar. Apalagi aku yang juga datang telat ! Duuh.. Ingin rasanya maju lalu berkata kepada beliau :

“Jangankan setengah jam Siidy, sampai subuhpun kami ikhlas menunggu .. ”

“Meskipun hanya 30 menit ‘beliau melanjutkan dawuhnya‘ tapi bukankah jumlah kalian ini banyak? Dari setiap orang saya telah mengambil 30 menit dari waktunya, itu artinya saya sudah menyita banyak sekali waktu.. ”

“Semoga Allah memaafkan saya dan semoga kalian juga memaafkan saya.. ” beliau memungkasi kalamnya.

Aku terdiam tak tahu lagi harus berkata apa. Pelajaran apa lagi yang lebih berharga dari akhlak-akhlak mulia beliau? Beliau sudah mengundang kami murid-muridnya ini ke rumah beliau, menyuguhi dan memuliakan kami layaknya tamu-tamu agung, memberikan kami nasehat-nasehat berharga. Setelah itu semua beliau malah meminta maaf atas satu hal yang sampai kapanpun tak akan pernah kami anggap sebagai sebuah kesalahan. jadwal beliau setiap hari begitu padat, dan nyaris semua waktunya beliau luangkan untuk murid-muridnya dan masyarakat Tarim. mulai dari sebelum fajar beliau hadir bersama kami, lalu mengajar, medengarkan pertanyaan dan curhatan orang-orang, menerima tamu-tamu, menghadiri undangan pernikahan, mengajar pemuda-pemuda Tarim, menghadiri sholat jenazah, menjenguk orang-orang sakit dan belasan agenda lainnya sampai beliau kembali ke rumahnya sebelum tengah malam untuk kemudian berkholwat bersama Rabb-nya.

Aku selalu berfikir, seandainya mereka yang datang kesini untuk berguru kepada beliau hanya melihat akhlak dan perilaku beliau sehari-sehari (saja), tanpa membaca kitab apapun, maka itu sudah lebih dan lebih dari cukup.

Beliau yang meskipun sudah mencapai derajat yang begitu tinggi, memiliki ribuan murid yang menjadi inspirasi dan sebab hidayah bagi jutaan orang di bumi ini, tapi dari dulu beliau tetaplah seperti itu. Tak pernah merasa telah berbuat apa-apa dan selalu meyakini diri sebagai seorang hamba yang hina dan penuh dosa.

“Minal abdil Aqoll.. Dari hamba Allah yang paling hina” aku masih ingat itu adalah permulaan surat beliau yang ditulis di bandara dan dikirim untuk kami sebelum beliau melaksanakan ibadah haji 5 tahun yang lalu.

Baca Juga :

Awal Kisah Kenapa Tarim Menjadi Kiblat Menuntut Ilmu Oleh Pelajar Seluruh Dunia

Dari beliaulah – seperti apapun pencapaian agung yang telah dan akan kita capai sudah seharusnya kita belajar untuk tak lupa diri, tetap merendah dan selalu membumi.

Oleh: Ismael Amin Kholil, Tarim, 14 Syawal 1439

Cacatan; Kisah ini disampaikan Habib Umar pada Malam Senin, 10 Syawal 1439 H.

Masya Allah... Begitu indahnya akhlak dan ketawadhu'an yang dimiliki beliau. Semoga kita yang membacanya dapat mengikuti jejak langkahnya.. Aamiin Ya Rabbal 'alaamiin

Demikian artikel " Sifat Rendah Diri Habib Umar bin Hafidz Ketika Datang Tak Tepat Waktu "

Semoga bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama