Kecintaan Kiai Sholeh Qosim Sidoarjo (Imam Besar Masjid Ampel) Kepada Para Habaib

KECINTAAN KIAI SHOLEH QOSIM SIDOARJO (IMAM BESAR MASJID AMPEL) KEPADA PARA HABAIB

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Bapakku dan Habib. Sampai pukul 17.30, kendaraan yang ditunggu tak jua nongol, maka Bapakku mengajakku dan dua kakakku masuk ke kampung mencari masjid untuk menunaikan sholat maghrib.

Hawa dingin kota Lawang benar-benar menusuki tulang belulang. Tubuh menggigil dan tanpa terasa gigi bergemeretakan. Air wudhu yang menerpa wajah benar-benar dingin menyengat kulit. Keluar dari masjid usai sholat maghrib ternyata Bapakku ketemu teman lama. Benar-benar pertemuan yang membawa anugrah karena sang teman bapakku mengajak mampir ke rumahnya tak jauh dari masjid. Dan dengan mengucap hamdalah berkali kali, aku melihat pemandangan yang menyejukkan mata: ternyata sang teman bapakku mengeluarkan nasi hangat dengan lauk pauk yang lengkap.

Sampai tiba waktu isya’ aku, bapakku dan 2 saudaraku pun menuju masjid. Usai shalat kami berpamitan dan kembali ke jalan raya Lawang untuk “ngedat” kendaraan menuju surabaya. Malam terus larut tapi kendaraan belum juga didapat. Hampir semua kendaraan umum yang lewat penuh penumpang, terutama penumpang yang tadi pagi ikut acara Haul Habib Abdullah di kota Malang. Kami pun juga tadi pagi dari acara itu, tetapi sewaktu mencegat kendaraan ternyata kendaraannya hanya sampai lawang saja.

$ads={1}

Itulah pengalamanku bersama Bapakku -di tahun 70-an- menghadiri acara haul seorang Habib yang sangat terkenal di Jawa Timur. Habib yang memiliki murid hebat semacam M. Quraisy Syihab (yang kebetulan juga seorang Habib tapi tak pernah mau dipanggil Habib karena kerendah-hatiannya).

Kecintaan Bapakku kepada para Habib benar-benar lahir batin. Nama-nama habib yang terkenal, mulai tahun 60 an sampai menjelang wafatnya, benar-benar di luar kepala. Tak hanya itu, petuah, saran, ajaran, ilmu, “ijazah” hampir semua benar-benar diterima dengan setulus hati dan diamalkan.

Salah satu Habib di kawasan Sepanjang yang banyak mempengaruhi Bapakku adalah Habib Umar Al Attas. (Ayah penyanyi lagu “Rindu” yaitu Ali Al Atas dan penyanyi Gambus Muhdhar Al Atas). Inilah salah satu guru spiritual Bapakku, selain sang mertua sendiri yaitu Kyai Hamzah (bapaknya Kyai Imron Hamzah).

Baca Juga :

Sembuh Dari Penyakit Berkah Doa Gus Miek, Orang Tionghoa Ini Masuk Islam

Suatu saat, entah karena kebetulan atau karena memang tahu kegemaran bapakku menghadiri majelisnya para habib, Kyai Hasyim Muzadi mengutus seseorang ke rumah sepanjang untuk mengundang bapakku menghadiri acara khusus bertemu seorang habib dari Yaman di Pesantren Al Hikam. (acara ini adalah bagian dari pre launching Ma’had Ali Al Hikam). Dan bapakku pun hadir ke acara itu sampai selesai.

Sepulang dari acara itu bapakku sangat gembira karena mendapat banyak pencerahan dari sang habib itu, sekaligus mendapat buku/kitab karangannya. Di kawasan Ampel banyak Habib yang dikenal Bapakku. Salah satu yang sangat sering disebut bapakku adalah Habib Hasan yang semasa hidupnya memiliki acara tahunan berupa “khataman hadits Bukhari” pada setiap bulan Rajab. Bapakku benar-benar menikmati kegiatan ini. Setiap pulang dari kegiatan ini Bapakku selalu merasa mendapatkan tambahan ilmu dan perspektif baru tentang  hadits-hadits yang terdapat dalam kitab Bukhari.

Selain Habib Hasan ada Habib Al Kaf yang sangat emoh dengan Syiah. Adalagi Habib Najib yang memiliki toko dekat Masjid Ampel. Dan masih banyak habib lagi yang aku tak hafal. Di Bangil dan Pasuruan, di Gresik dan Malang banyak juga Habib yang dikenal Bapakku. Dengan Habib Syekh dari Solo dan Habib Lutfi dari Pekalongan cukup sering bertemu di berbagai acara. Khusus dengan Habib Lutfi, Bapakku cukup sering berkomunikasi karena kebetulan keduanya menjadi penasehat di kepengurusan Masjid Ampel. (seperti yang ditulis Ahmed Miahul Haque bapakku disebut Imam Besar Masjid Ampel).

$ads={2}

Karena begitu akrabnya dengan para habib, bapakku bisa mengajukan “protes” kecil-kecilan kepada mereka. Bapakku “memprotes” bahwa seharusnya para habib itu memperhatikan nasab dari jalur perempuan, sebab yang nyambung ke Nabi Muhammad itu Sayyidah Fatimah bukan Sayyidina Ali. (Sebagaimana dimaklumi para habib itu menerapkan pola kekerabatan patrilineal, sehingga seorang perempuan syarifah tidak bisa menurunkan nama “fam”nya.). dan seringkali para habib itu hanya tersenyum belaka mendengar “protes” itu.

Bapakku sebenarnya punya persambungan nasab ke syarifah di Bangil yang makamnya di belakang depot sate di jalan swadhesi. Dalam perjalanan ke Jember, bapakku pernah bertemu seseorang di bis yang menyebutnya sebagai “dzurriyyah rasul”. Bapakku menanyakan ;

“apa dasarnya anda menyebut saya seperti itu?”

“min wajhi kum,” jawab orang itu. Nah.

Penulis: Muhammad Nuh, putra Kiai Sholeh Qosim Sidoarjo.

*Naskah tulisan Kiai Sholeh Qosim Sidoarjo Ungkap Rahasia Para Habaib ini awalnya berjudul

Bapakku dan Habib. Tulisan diunggah di facebook penulis (Muhammad Nuh) pada Jum’at 27 November 2020.

Sumber : bangkitmedia.com

Demikian Artikel " Kecintaan Kiai Sholeh Qosim Sidoarjo (Imam Besar Masjid Ampel) Kepada Para Habaib "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama