KH. Abdi Kurnia Djohan: Saya Mengenal NU dari Kampung Halaman

KH. ABDI KURNIA DJOHAN: SAYA MENGENAL NU DARI KAMPUNG HALAMAN

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Pengetahuan awal saya tentang NU berasal dari kampung tempat alm. Bapak dilahirkan. Menurut cerita alm. Bapak dan sebagian sepuh kampung, Mbah merupakan orang pertama di kampung yang pertama kali mondok. Sebelumnya tidak ada orang yang belajar agama di pesantren. Pesantren Kali Wungu Kendal, Kempek, dan Buntet Cirebon merupakan tempat yang disinggahi Mbah pada kurun waktu 1920 hingga 1930-an. 

Sebagai orang yang baru pertama kali mondok, mbah saya merupakan pertemuan di antara tradisi kejawen dan tradisi Islam. Semasa hidupnya, beliau cerita pernah semadi di Gunung Slamet dan memutari Gunung Besar itu sebanyak 7 kali. 

Tradisi kejawen yang dijalani semasa muda itu berkurang setelah Mbah rajin menyambangi pesantren. Sampai menjelang akhir hayatnya, Mbah masih mengikuti ngaji pasaran puasa yang diadakan di Buntet Pesantren.

$ads={1}

Pengetahuan tentang NU, saya dapatkan dari Kyai Muhtarom, ayah dari Pak Agus Kholik, dan merupakan generasi kedua NU di kampung. Obrolan-obrolan saya dengan Kyai Muhtarom ternyata membentuk cara pandang saya tentang NU. Jika boleh dikatakan, itu merupakan kaderisasi NU yang dilakukan secara informal (tidak resmi). 

Kyai Muhtarom tampaknya spesialis di bidang tafsir. Pembahasannya tentang tafsir selalu renyah dicerna. Ada satu pembahasan ayat dari beliau yang sampai hari ini masih terkenang. Ayat itu adalah: 

كيفَ تَكْفُرُوْنَ بِاللهِ وَكُنْتُم اَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُم ثُمَّ يُميتُكُم ثُمَّ يُحْيِيْكُم ثُمَّ اِليْهِ تُرْجَعُوْنَ

Bagaimana bisa kalian mengingkari Allah, padahal dulu kalian mati, lalu Allah menghidupkan kalian. Kemudian Allah matikan kalian. Kemudian Dia hidupkan kalian lagi. Kemudian kepada-Nya kalian kembali (al-Baqarah)

Dengan singkat, Kyai Muhtarom mengatakan bahwa nanti pada akhir zaman, fenomena kekufuran (mengingkari) Tuhan akan muncul di mana-mana. 

Pengetahuan tambahan tentang NU saya dapatkan dari Ust. Sobirin, paman saya dan ayah dari Pokoe Fa Fa. Dari Pak Lik Birin, saya mengetahui bagaimana kebiasaan para kiai NU masa lalu yang dipenuhi dengan ibadah, mujahadah, dan mengajar. Kata Pak Lik, para kiai punya kebiasaan bangun tidur pukul 2 pagi untuk laksanakan sholat tahajjud hingga datang waktu subuh. 

$ads={2}

NU di kampung kelahiran bapak bukan saja menjadi bagian dari tradisi, tapi juga bagian dari identitas kampung dan budaya. Ada semacam kaidah, jika seorang sudah meninggalkan tradisi ke-NU-an, artinya ia sudah melepas identitas kampung dan terpinggirkan dari arus pergaulan warga desa masa itu.

Ditulis oleh : KH. Abdi Kurnia Djohan

Demikian Artikel " KH. Abdi Kurnia Djohan: Saya Mengenal NU dari Kampung Halaman "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama