Mutakallim Pertama Kali Dari Kalangan Sahabat, Tabi'in dan Fuqaha

MUTAKALLIM PERTAMA KALI DARI KALANGAN SAHABAT, TABI'IN DAN FUQAHA

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Al-Imam al-Ustadz Abu Manshur 'Abdul Qâhir al-Baghdadi (w. 429 H) dalam kitab Ushûliddîn ini berkata tentang tertib (urutan masa) para imam Agung dalam ilmu Kalam Sunni (Ahlissunnah wal Jamâ-ah) dari masa sahabat hingga masa beliau sendiri: 

Mutakallim Ahlissunnah pertama kali dari kalangan sahabat adalah (Sayyidunâ) Ali bin Abi Thalib karena perdebatan beliau dengan khawarij dalam masalah janji dan ancaman dan perdebatan beliau dengan Qadariyyah dalam masalah qadar, qadha', masyiah, dan istithô'ah. 

Kemudian, Abdullah bin Umar tentang kalam beliau terhadap Qadariyyah, dan beliau berlepas dari kelompok mereka dan dari pimpinan mereka yang populer bernama Ma'bad al-Juhani. Sementara itu, kelompok Qadariyyah mengklaim bahwa Ali adalah anggota kelompok mereka dan mereka menduga bahwa pimpinan mereka Wâshil bin Atha' al-Ghazzâl mengambil madzhabnya dari Muhammad dan Abdullah yang kedua-duanya ini adalah putra Ali Radhiyallâhu 'anhu. Hal ini tentu saja merupakan kedustaan mereka dan diantara keanehannya adalah Ia menjadikan kedua putra Ali itu mengajari Wâshil menolak syahâdah (kesaksian) Ali dan Thalhah dan ragu-ragu terhadap keadilan Ali.

Ia memfitnah keduanya telah mengajarkan padanya akan batalnya syahadah Thalhah dan Sang menantu Nabi itu. 

$ads={1}

Kemudian, Mutakallim ahlissunnah pertama kali dari kalangan Tabi'in adalah Umar bin Abdil Aziz. Beliau menulis Risalah Balighah firradd 'alal Qadariyyah. Kemudian, Zaid bin Ali bin al-Husain bin Ali bin Abi Thalib. Ia menulis kitab dalam membantah Qadariyyah terhadap al-Quran.  Kemudian al-Hasan al-Bashri. Dan Qadariyyah telah mengklaimnya (mengklaim Hasan al-Basri sebagai pengikut Qadariyyah). Bagaimana mungkin membenarkan Qadariyyah terhadap klaim ini? Padahal, surat beliau pada Umar bin Abdil Aziz mencela Qadariyyah dan mengusir Washil dari majelis beliau ketika Washil menampakkan kebid'ahannya. Lalu, al-Sya'bi, beliau ini orang yang paling dahsyat menentang Qadariyyah. Lalu Az-Zuhri yang telah memberikan fatwa  pada Abdul Malik bin Marwan untuk menumpas Qadariyyah. Dan kemudian setelah thabaqah (generasi) ini: Ja'far bin Muhammad al-Shâdiq. Beliau menulis kitab dalam membantah Qadariyyah, menulis kitab dalam membantah Khawarij, dan risalah dalam membantah rafidhah ekstrim. Beliau juga yang telah berkata: "Mu'tazilah hendak meng-esakan Tuhannya, namun jadi mulhid. Dan mereka hendak berbuat adil, namun justru menyematkan bakhil pada Tuhan-Nya."

Adapun mutakallim dari kalangan fuqaha dan pelestari madzhab fiqh pertama kali adalah Abu Hanifah dan Syafii. Hal ini karena Abu Hanifah menulis kitab dalam menolak Qadariyyah yang beliau namai al-Fiqh al-Akbar. Dan beliau mempunyai sebuah risalah yang beliau diktekan dalam mensupport pendapat Ahlissunnah bahwa istitho'ah (kemampuan) itu bersamaan dengan fi'l (perbuatan), tetapi beliau berkata bahwa istitho'ah itu akan sangat tepat untuk dua hal yang berlawanan. Berdasar pendapat inilah, Ashab kami berpendapat. Sedangkan murid beliau, Abu Yusuf, telah berkata mengenai Mu'tazilah bahwa mereka adalah zindiq. Sementara itu, Al-Syâfi'i menulis dua kitab dalam ilmu kalam:

(1) Dalam membenarkan nubuwwah dan menolak al-Barâhimah

(2) Dalam menolak ahlil ahwâ' (pengikut hawa nafsu).

Beliau menuturkan sisi dari jenis ini dalam kitab al-Qiyas dan dalam kitab itu beliau mencabut kembali menerima kesaksian Mu'tazilah dan Ahlil Ahwâ.

Adapun al-Marîsi adalah termasuk murid Abu Hanifah, hanya saja Ia menetapi Mu'tazilah dalam kemakhlukan al-Quran dan Ia mengkafirkan mereka dalam konsep kemakhlukan perbuatan hamba. 

Kemudian, setelah al-Syâfi'i, para murid-murid beliau yang menggabungkan ilmu fiqih dan kalam seperti al-Hârits bin Asad al-Muhâsibi, Abu 'Ali al-Karâbîsi, Harmalah al-Buwaithi dan Dawud al-Asbihâni. Dan berdasar kitab al-Karâbisi inilah dalam beberapa maqalah, para mutakallim berpedoman dalam mempelajari madzhab khawârij dan madzhab ahli hawa nafsu yang lain. Dan berdasar kitab-kitab beliaulah dalam (menentukan) syarat-syarat (hadits), dalam ilmu 'ilal hadits, dan al-jarh wat ta'dîl para fuqaha dan huffadz hadits berpedoman. Sementara itu, berdasar kitab-kitab al-Hârits bin Asad dalam ilmu kalam, fiqh, dan hadits para mutakallim ashâb kami (Syafi'iyyah), fuqaha, dan para sufi berpedoman. Sedangkan Dawud al-Dhohiri menulis banyak kitab dalam ushûliddîn, disamping banyak pula kitab beliau dalam ilmu fiqih. Dan putra beliau, Abu Bakar, memadukan ilmu fiqih, kalam, ushul, adab, dan syi'ir.

$ads={2}

Dan Abul 'Abbâs Ibn Syuraih (tertulis شريح, mestinya Suraij, سريج) merupakan orang terunggul (tertulis أنزع, mestinya أبرع) dalam ilmu-ilmu ini. Beliau membantah kitab al-jârûf 'alal qâ-ilîna bitakâfu-il adillah. Kitab bantahan beliau ini lebih mantap daripada bantahan Ibnu Rawandi kepada mereka. Adapun karya tulis beliau dalam ilmu fiqh, Allahlah yang mengetahui jumlahnya.

Dan diantara mutakallim Ahlissunnah di masa pemerintahan al-Ma'mun adalah Abdullah bin Sa'id al-Tamîmi yang telah meluluh-lantakkan al-Mu'tazilah di majelis al-Ma'mun dan membongkar kedok mereka dengan penjelasannya dan jejak-jejak penjelasannya itu terdapat dalam kitab-kitab beliau. Beliau ini  adalah saudara Yahya bin Sa'id al-Qaththân, pewaris ilmu hadis dan pakar jarh wat ta'dîl.

Dan diantara murid Abdullah bin Sa'id adalah Abdul Aziz al-Makki al-Kittâni yang telah membongkar kedok mu'tazilah di majelis al-Ma'mun. Sementara itu, murid beliau, al-Husain Ibn al-Fadhol al-Bajali, pakar ilmu kalam, ushul, tafsir dan ta'wil. Dan berdasar pembahasan-pembahasan mendalam beliau dalam al-Quran, para mufassir berpedoman. Beliaulah orang yang Abdullah bin Thahir memohon belajar intens pada beliau dan berkata: Ke Khurasan, ke Khurasan. Lalu orang-orang berkata tentang beliau: Telah keluar Ilmu Irak semuanya ke Khurasan.

Dan diantara murid Abdullah bin Sa'id yang lain adalah al-Junaid, Syaikhush Shûfiyyah dan Imâmul Muwahhidîn. Dalam ilmu tauhid, beliau menulis risalah berdasar syarat mutakallimin dan ungkapan sufi. 

Kemudian, setelah mereka: Syaikhun Nadhor (Guru Besar ilmu kalam), Imâmul Âfâq (Imam segala penjuru) dalam perdebatan dan tahqîq, Abul Hasan Ali bin Isma'il al-Asy'ari, yang telah menjadi penyedak di tenggorokan kaum Qadariyyah, Najjâriyyah, Jahmiyyah, Jismiyyah, Rafidhah, dan Khawârij. Kitab-kitab beliau memenuhi penjuru dunia. Dan tak seorang pun mutakallim yang diberikan penganut/pengikut seperti yang diberikan pada beliau, karena semua ahli hadits dan semua orang yang tidak total mengikuti mu'tazilah dari kalangan ahli ra'yi, mengikuti madzhab beliau. 

Dan diantara murid beliau yang masyhur adalah Abul Hasan al-Bâhili dan Abu Abdillâh al-Mujâhid. Beliau berdua ini yang terus membuahkan (mencetak) murid mereka hingga masa kita ini, salah satu mentari zaman dan imam di  masanya seperti Abi Bakr Muhammad Ibn al-Thayyib, Qâdhi Qudhâh Irak, al-Jazîrah, Fâris, Kirman, dan perbatasan wilayah-wilayah ini. Dan juga Abi Bakr Muhammad bin al-Husain bin Fûrâk dan Abi Ishaq Ibrâhîm Ibn Muhammad al-Mihrâni. Dan sebelum mereka, Abul Hasan Ali bin Mahdi al-Thabari, pakar fiqh, ilmu kalam, ushul, adab, nahu, dan hadits. Dan diantara peninggalan beliau adalah murid beliau seperti Abi Abdillâh al-Husain bin Muhammad al-Bazzâzi, pakar perdebatan dan karya-tulis tiap bab dalam ilmu kalam. 

Dan sebelum thabaqah (generasi) ini, Syaikhul 'Ulûm Abu Ali al-Tsaqafi dan di masa beliau ada Imam Ahlissunnah Abul Abbas al-Qalânisi yang karya-tulis beliau dalam ilmu kalam mencapai lebih dari 150 kitab. Sedangkan, karya tulis al-Tsaqafi dan bantahan beliau kepada ahli hawa nafsu mencapai lebih dari 100 kitab.

Dan kami mendapati diantara mereka di masa kami diantaranya: Abu Abdillah bin Mujahid, Muhammad bin al-Thayyib -Qadhi al-Qudhah-, Muhammad bin al-Husain bin Fûrâk, Ibrâhîm bin Muhammad al-Mihrâni, dan al-Husain bin Muhammad al-Bazzâzi. Dan berdasar metode mereka itulah yaitu orang-orang yang kami dapati, mereka itu adalah syekh (Guru) kami. Metode itu untuk menghidupkan al-haq yang sedang lemah, namun terhadap musuhnya ia membelenggu. 

Saya terjemahkan dari kitab ini dari hal: 307-310. 

Untuk mudah mengingat kitab ini saya sebut kitab "limolasan", karena dalam kitab ini membahas 15 Ashl (topik), dan dalam tiap ashl itu memuat 15 sub-topik.

Radhiyallâhu 'Anhum wa Rahimahumullâh.....

Oleh : Kyai Nur Hasim

Demikian Artikel " Mutakallim Pertama Kali Dari Kalangan Sahabat, Tabi'in dan Fuqaha "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama