Proses Turunnya Hujan di Dalam Al-Qur'an Oleh KH. Abdi Kurnia Djohan

PROSES TURUNNYA HUJAN DI DALAM AL-QUR'AN OLEH KH. ABDI KURNIA DJOHAN

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Di dalam sebuah ceramah, seorang ustadz mengatakan bahwa pemahaman yang menjelaskan proses turunnya hujan karena berasal uap air yang menggumpal di awan, merupakan pemahaman yang memuat syirik. Tidak sampai di situ. Ia menegaskan bahwa pemahaman seperti mengandung kekufuran terhadap Allah. Karena di dalam al-Qur'an ditulis bahwa hujan diturunkan Allah dari langit. Bukan karena sebab naiknya uap dan sebagainya. 

Bagi yang tidak memahami runtut nalar di dalam agama, pemahaman straight to the point sang ustadz barangkali dianggap. Bahkan, ada sebagian awam yang menyejajarkan pemahaman ustadz itu dengan wahyu. Artinya, nilai kebenaran pendapat sang ustadz dianggap setara dengan nilai kebenaran wahyu! Tentu, cara pandang seperti ini malah masuk ke dalam kategori syirik dan juga bid'ah. Imam Malik bin Anas radhiyallahu anhu mengatakan: 

كُلٌّ يُؤْخَذُ وَيُتْرَكُ اِلَّا صَاحِبَ هَذَا الْقَبْرِ (وَيَدُلُّ اِلَى قَبْرِ النَّبِي)

Semua orang bisa diterima atau ditolak pendapatnya, kecuali pendapat penghuni kubur ini (sambil menunjuk makam Nabi)

Maksud dari ucapan Imam Malik itu adalah bahwa nilai kebenaran ucapan Nabi setara dengan nilai kebenaran wahyu, karena al-Qur'an mengafirmasi: 

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى ☆ إِنْ هُوَ اِلَّا وَحْيٌ يُوْحَى

Tidaklah dia (Nabi) berbicara menurut hawa nafsunya. Tidaklah yang ia sampaikan melainkan wahyu yang diberikan kepadanya (Qs al-Najm/53)

$ads={1}

Menjelaskan proses turunnya hujan tidak serta merta berkaitan dengan aqidah. Kendatipun di dalam al-Qur'an ditulis bahwa hujan berasal dari langit, namun harus ada penjelasan logis tentang bagaimana hujan diturunkan. Penjelasan logis itu diperlukan karena definisi langit itu sendiri bersifat undefined. Di dalam Asrar ul-Arabiyyah, langit didefinisikan sebagai: 

كلُّ مَاعلاكَ وأظلك فهو السماء

Semua yang ada di atas anda dan menaungi anda itulah langit.

Ketika definisi langit itu dihubungkan dengan hujan, orang akan bertanya tentang proses. Karena semua yang terjadi muka di bumi dapat dijelaskan proses. Di dalam al-Qur'an hanya ada tiga fenomena yang tidak bisa dijelaskan prosesnya, yaitu: 

1. Fenomena penciptaan Adam tanpa perkawinan bapak dan ibu; 

2. Fenomena penciptaan Hawa yang diciptakan dengan tulang rusuk bapak, dan lahir tanpa ibu; dan

3. Fenomena lahirnya Nabi Isa, yang melalui ibu, tanpa ada bapak. 

Allah menurunkan hujan dari langit, sebagaimana disebut di dalam al-Qur'an: 

1. وأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً

Dan Kami turunkan air dari langit (Qs al-Baqarah: 22)

2. ويُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مِن جِبَالٍ فِيْهَا مِنْ بَرَدٍ

Dan Dia yang berulang-ulang butiran-butiran es dari langit, seperti gunung-gunung...(Qs Annur/24: 43)

Memuat dua penafsiran dari aspek sains: 

Pertama, Allah memang mengirimkan hidrogen dan oksigen, dua unsur kimia pembentuk air (H2O) dari langit melalui meteor. Dua unsur itu Allah simpan di lapisan ionosfer sebagai unsur pembentuk hujan. 

Kedua, hujan itu bisa terjadi melalui proses penguapan air di laut atau di gunung. 

Penjelasan tentang proses ini tidak dimaksudkan untuk menggusur keyakinan bahwa Allah Maha Pencipta segala sesuatu. 

Karena itu, Syaikh Dr. Ali Jum'ah di dalam Aqidah Ahli al-Sunnah wal Jama'ah menulis bahwa dalil, dalam pandangan Ahlussunnah ada dua macam: 

1. Dalil Aqli yaitu dalil yang diambil dari pemahaman akal atau penalaran, seperti penciptaan langit, bumi, dan manusia. Keberadaan semua ciptaan itu menegaskan keberadaan Allah. Dan Allah Maha Kuasa, Maha Berilmu dan Maha Bijaksana.

$ads={2}

2. Dalil Naqli yaitu keserasian dari dalil aqli dan naqli. Kebenaran yang disampaikan di dalam khabar (al-Qur'an dan Sunnah) serasi dengan ketetapan dari akal.

Lalu, bagaimana dengan stempel kafir gara-gara persoalan hujan itu? Ya gampang saja, sampeyan kalo kehujanan jangan berteduh di kolong jembatan. Itu nyusahke wong liyo apa gak takut dikafir-kafirno mengko? Nek, sampeyan kehujanan mbok ya cari warung kopi terdekat. Kalau bisa yang jual jagung atau singkong rebus. Kan penak tuh, sambil nunggu hujan berhenti nyeruput kopi nikmati singkong rebus...alhamdu lillaah....

Ditulis oleh : KH. Abdi Kurnia Djohan

Demikian Artikel " Proses Turunnya Hujan di Dalam Al-Qur'an Oleh KH. Abdi Kurnia Djohan "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama