Dakwah di Kampus tidak bisa disamakan dengan Dakwah di Kampung

DAKWAH DI KAMPUS TIDAK BISA DISAMAKAN DENGAN DAKWAH DI KAMPUNG

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Sebelum tahun 2013, Masjid UI selalu mengundang seorang ustadz NU yang cukup dikenal di kampungnya, untuk diproyeksikan menjadi ustadz kampus. Nuansa dakwah yang sangat tarbiyah minded, mendorong Rektor untuk melakukan dinamisasi kegiatan dakwah Islam agar lebih beragam. Inisiatif Rektor Gumilar Somantri ketika itu muncul setelah ada dorongan dari Ketua MWA UI, KH Said Aqiel Siradj, yang juga merupakan Ketua Umum PBNU. 

Sang ustadz diberi panggung yang lumayan luas, mulai dari menyampaikan khutbah dan menjadi pemateri kegiatan kemahasiswaan. Untuk ukuran orang luar UI, kesempatan yang diberikan itu sangat luar biasa, mengingat bukan hal yang mudah masuk dan berkiprah terlalu dalam di UI.

$ads={1}

Namun sayang, kesempatan emas yang diberikan itu tidak dapat dimanfaatkan dengan baik oleh sang ustadz. Meskipun memegang afirmasi dan lisensi dari pemangku kebijakan kampus, sang ustadz lupa bahwa lahan dakwah yang ada di hadapannya adalah kampus. Ia tetap menganggap bahwa kampus itu sama dengan kampung. Sehingga, di dalam setiap menyampaikan materi dakwahnya ia tidak menyiapkan materi sebagaimana biasa diterima masyarakat kampus. Ia menganggap bahwa kebanyakan warga kampus itu awam dalam masalah agama. Sedangkan di forum-forum kajian keislaman, hanya dia yang paham ilmu agama. Padahal, di balik anggapannya yang jumawa itu, ia lupa bahwa warga kampus terbiasa dengan metodologi keilmuan. Tentu, meskipun dengan keterbatasan pengetahuan dalam masalah agama, warga kampus dapat mengklarifikasi kebenaran pernyataan sang ustadz dengan menggunakan metodologi yang mereka pahami. 

Kecerobohan dan keteledorannya di dalam berdakwah itu yang kemudian mendorongnya menunjukkan kebiasaan pengajian di kampung-kampung dengan mengulang-ulang pembahasan tentang seks dan poligami. Dua pembahasan yang paling dimusuhi kalangan intelektual dan kelas menengah. Ketika dikonfirmasi apa yang mendorongnya selalu mengangkat bahasan seks dan poligami, dengan enteng dia menjawab, "bukannya kalangan sekuler suka dengan topik itu?" 

$ads={2}

Alih-alih bisa memberi sentuhan dinamis Dakwah Islam, keberadaan ustadz itu justru menguatkan citra bahwa dakwah NU memang tidak cocok untuk kultur kampus. Setelah KH Said Aqil Siradj tidak lagi menjabat sebagai Ketua dan anggota MWA, nama ustadz tersebut tidak beredar lagi di UI. Namanya berputar mengikuti putaran masa jabatan.

Oleh : KH. Abdi Kurnia Djohan

Demikian Artikel " Dakwah di Kampus tidak bisa disamakan dengan Dakwah di Kampung "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama