Ceramah Meniru Gaya KH. Zainuddin Mz

CERAMAH MENIRU GAYA KH. ZAINUDDIN MZ

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Gali, Barangkali itulah kata yang pas untuk menggambarkan perasaan saya ketika mendengar khutbah Jumat hari ini. Sang khatib -hafizhahullah- meniru dan menjiplak gaya, intonasi dan bahkan isi ceramah Da'i Sejuta umat, KH. Zainuddin MZ, rahimahullah. Kalau yang melakukannya anak-anak yang sedang belajar berpidato mungkin kita akan apresiasi. 

Dan karena ia berusaha meniru, maka yang terlihat adalah sosok KH. Zainuddin MZ dalam tampilan yang menggelikan. Inilah yang saya maksud dengan 'gali'.  Gali adalah bahasa Minang untuk kata geli. Tapi diungkapkan dalam bahasa Minang akan terasa lebih mengena.

Yang lebih ironisnya, sang khatib mengabaikan kapasitas dasar menjadi seorang khatib. Beberapa ayat yang dibacanya salah. Misalnya ia menambahkan huruf و pada ayat فاذكروني أذكركم , ia baca : فاذكروني وأذكركم.

Lalu ada istilah dalam bahasa Arab yang entah darimana ia dapat ; 'ibadah khalafiyyah' sebagai kawan dari ibadah badaniyyah dan ibadah maliyyah. 

$ads={1}

Ayat Al Quran: وهم يصطرخون فيها  ia artikan dengan : mereka mampus di dalamnya. 

Tentu tidak ada niat untuk merendahkan sang khatib (bahkan namanya pun saya tidak tahu). Tapi dari sini ada beberapa hal yang semestinya menjadi perhatian bersama:

1. Kepara da'i, khatib, penceramah dst, jadilah diri Anda sendiri. Setiap kita punya ciri khas masing-masing. Silahkan belajar dari orang lain tapi jangan menjadi latah dengan meniru gaya mereka. Yakinlah, yang terpenting dalam sebuah penyampaian itu adalah sumbernya. Jika sumbernya dari hati ia akan masuk ke hati yang mendengar. Tapi jika keluarnya hanya dari lidah maka ia tidak akan meninggalkan bekas.

2. Semestinya memang harus ada evaluasi untuk para da'i dan khatib kita. Mari persembahkan yang terbaik untuk jamaah yang telah bersedia menjadi pendengar setia kita. Bayar keletihan dan waktu yang mereka korbankan dengan ilmu, nasehat berharga dan tambahan wawasan yang mereka dapatkan dari kita.

Evaluasi yang saya maksud bukan dari Pemerintah, karena hal ini sangat sensitif dan rentan dipolitisasi. Evaluasi ini serahkan kepada Alim Ulama dan masyarakat. 

Caranya sederhana. Pengurus masjid sebaiknya mendokumentasikan setiap khutbah atau ceramah para ustadz. Divideokan akan lebih baik. Tapi paling tidak direkam. Hasil rekaman itu bisa juga didengar oleh ibu-ibu di rumah yang tidak hadir shalat Jumat.

Untuk mengevaluasi para da'i dan khatib kita, rekaman tadi diserahkan kepada para ulama (yang terwakili oleh MUI) untuk dinilai konten dan metode penyampaiannya.

Jamaah yang mendengar khutbah atau ceramah juga diminta pendapat dan penilaian mereka. Karena pada akhirnya mereka yang akan mengkonsumsi langsung materi-materi khutbah dan ceramah itu.

Ketika ada khatib atau da'i yang mendapat penilaian kurang menggembirakan dari para ulama dan masyarakat, maka langkah selanjutnya adalah memberikan arahan dan bimbingan terhadap para khatib tersebut, bukan menghapus jadwal apalagi sampai memalukan mereka.

$ads={2}

Dengan demikian diharapkan kualitas penyampaian khutbah dan ceramah dari para ustadz kita akan lebih meningkat dan masyarakat mendapatkan sesuatu yang bermanfaat dari waktu yang telah mereka korbankan untuk mendengar khutbah atau ceramah tersebut.

Oleh : Ustadz Yendri Junaidi

Demikian Artikel " Ceramah Meniru Gaya KH. Zainuddin Mz "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama