Menyoal Slogan Kembali Pada Qur'an dan Sunnah

MENYOAL SLOGAN KEMBALI PADA QUR'AN DAN SUNNAH

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Setiap muslim mengetahui bahwa sumber utama ajaran Islam adalah al-Quran dan Sunnah. Maka, ketika ia diajak untuk ‘kembali pada Quran dan Sunnah’ sejatinya ia akan turut dan patuh.

Tapi kenapa ajakan untuk kembali pada Quran dan Sunnah menjadi polemik oleh sebagian kalangan ? 

Ini karena ajakan tersebut diteriakkan dengan sangat nyaring oleh kelompok yang dinilai tidak menghargai pemahaman dan pendapat para ulama yang terstruktur ke dalam berbagai mazhab ; Hanafiyyah, Malikiyyah , Syafi’iyyah dan sebagian besar Hanabilah. 

Karena itu, slogan ‘kembali pada Quran dan Sunnah’ menurut kelompok tertentu memiliki makna: ‘kembali pada Quran dan Sunnah dan abaikan pendapat manusia meskipun mereka adalah ulama’.

$ads={1}

Boleh jadi makna -yang dipahami oleh kelompok tertentu- ini akan dibantah oleh kelompok yang menyuarakan slogan tadi. Mereka bisa saja mengatakan bahwa kami tidak mengabaikan apalagi mencampakkan pendapat para ulama. Buktinya kami juga mengutip pendapat ulama A dan B (rata-rata pendapat ulama yang mereka kutip itu adalah ulama-ulama yang sejalan dengan kecenderungan mereka). Tapi, itulah kesan yang muncul ketika slogan yang sesungguhnya sangat baik itu datang dari kelompok tersebut.

Hal ini semakin menyadarkan kita bahwa betapa banyak slogan dan ajakan yang mulia menjadi bias dan berpotensi menimbulkan polemik ketika ia muncul dari orang atau kelompok yang berseberangan dengan kita.

Namun demikian, kelompok yang mempersoalkan slogan ‘kembali pada Quran dan Sunnah’ tentunya juga memiliki alasan dan argumentasi sendiri. Karena memang slogan ini sangat ambigu. 

Kalau yang dimaksud dengan ‘kembali pada Quran dan Sunnah’ adalah kembali mengkaji al-Quran dan Sunnah secara lebih mendalam serta menjadikan keduanya sebagai sumber utama dan rujukan yang primer, tentu tidak ada yang akan membantah hal ini. Tapi jika yang dimaksudkan dengan slogan ini adalah memahami al-Quran dan Sunnah secara langsung tanpa memperhatikan perangkat keilmuan yang telah diasas oleh para ulama dan tidak mengindahkan pemahaman mereka yang jauh lebih mengerti tentang kedua sumber itu, tentu saja hal ini akan dibantah.

Terlepas dari hal itu, kita akan lebih mengerti kenapa slogan ini disuarakan secara sangat nyaring oleh kelompok tertentu, ketika kita menelaah beberapa buku turats (klasik), dan kita menemukan beberapa pendapat yang sangat kentara dengan nuansa fanatisme imam dan mazhab. 

Misalnya, dalam sebuah kitab salah satu mazhab dijelaskan bahwa diantara ciri hadits yang shahih adalah hadits itu diambil atau diamalkan oleh imam mazhabnya. Maka ketika pendapat imam mazhab bertentangan dengan sebuah hadits yang terdapat dalam salah satu kitab shahih (Shahih Bukhari atau Muslim) maka kemungkinannya hanya dua :

Pertama, hadits itu sebenarnya tidak shahih, meskipun ia terdapat dalam Shahih Bukhari atau Muslim. Karena kalau ia shahih tentu imam mazhabnya akan mengamalkan hadits itu.

Kedua, hadits itu mesti ditakwil sesuai dengan pendapat yang berkembang dalam mazhab.

Bisa saja pendapat ini adalah syadz (mengganjil) dalam mazhab tersebut. Tapi pendapat seperti ini seolah dikokohkan oleh praktek sebagian ulama (bahkan dalam banyak mazhab) yang seolah-olah menjadikan pendapat imam mazhab sebagai pijakan utama. Sementara al-Quran dan Sunnah, hanya sebagai pendukung untuk memperkuat pendapat yang dikemukakan saja. Buktinya, dalam berbagai pembahasan fiqih, dikemukakan satu atau dua ayat, lalu diikuti dengan satu atau beberapa hadits, kemudian dilanjutkan dengan menukil pendapat puluhan ulama mazhab yang sangat beragam. Tidak jarang kesimpulan akhir atau pendapat yang ditarjih tidak sejalan lagi dengan ayat atau hadits yang dikutip sebelumnya. Tentunya ini tidak berlaku general dalam semua masalah fiqih yang dibahas oleh berbagai mazhab.

Sesungguhnya, akan banyak masalah dan pembahasan dalam ketiga aspek ajaran Islam ; akidah, ibadah dan muamalah, akan terselesaikan dengan mudah jika kita benar-benar kembali pada al-Quran dan Sunnah dalam konteks dan pengertian yang benar. Kita tidak akan membuang pendapat dan pemahaman para ulama. Tapi kita tidak boleh menjadikan pendapat mereka segala-galanya, seolah-olah setara atau bahkan melebihi al-Quran dan Sunnah (secara  teori tentu tidak akan ada yang melihat hal ini terjadi, tapi secara praktek sebenarnya hal ini terjadi).

$ads={2}

Hanya memang kita sering terjebak pada siapa yang mengatakan, dan bukan pada apa yang dikatakan (ingat kembali pesan Ali bin Abi Thalib: unzhur ma qala wala tanzhur man qala). Padahal kalau slogan ‘kembali pada al-Quran dan Sunnah’ muncul dari orang yang kita terima pendapat-pendapatnya, apalagi ia adalah guru atau orang yang sealiran, kita akan sangat mudah menerimanya. Itulah kelemahan kita sebagai manusia.

وعين الرضا عن كل عيب كليلة ولكن عين السخط تبدي المساويا

Kalau slogan ‘kembali pada Quran dan Sunnah’ saja berpotensi menimbulkan polemik, apalagi kalau yang diangkat adalah slogan ‘kembali pada Quran’ tanpa menyebutkan kata-kata Sunnah. Barangkali kalau ada orang yang mencoba mengangkat slogan ini, tentu ia akan diserang dari segala arah, termasuk dari kelompok yang mengangkat slogan ‘kembali pada Quran dan Sunnah’.

Kenapa? Karena orang yang mengangkat slogan ‘kembali pada Quran’ akan langsung dinilai sebagai inkar sunnah, atau oleh sebagian kalangan disebut dengan istilah : Qur`aniyyun. 

Tapi sebenarnya, slogan ini juga memiliki dasar dan argumen. Dan orang yang menyuarakan slogan ini tidak serta merta adalah inkar sunnah. Sebagaimana halnya orang yang menyuarakan slogan ‘kembali pada Quran dan Sunnah’ tidak serta merta adalah orang yang anti mazhab.

Slogan ‘kembali pada Quran’ maksudnya adalah mari jadikan al-Quran sebagai panglima. Ia nomor satu. Ia pijakan yang paling utama. Ia dasar yang paling mendasar. Darinya kita mulai dan kepadanya kita kembali (dalam semua masalah yang dikaji). Dan tentunya ini tidak berarti kita mengabaikan Sunnah. Karena tidak ada yang lebih paham tentang al-Quran daripada Rasulullah Saw. Tapi yang jadi masalah adalah banyak hadits yang dinisbahkan pada Rasulullah Saw namun tidak sejalan dengan ruh al-Quran (sebagai catatan: meskipun semua ulama sepakat bahwa Shahih Bukhari dan Shahih Muslim adalah kitab yang paling shahih setelah al-Quran, dan tentunya lebih shahih dari kitab-kitab hadits lainnya, tapi ini tidak berarti setiap hadits yang ada di dalamnya disepakati para ulama keshahihannya).

Kembali pada Quran maksudnya adalah bahwa dalam setiap masalah atau pembahasan yang ingin dikaji, jadikan al-Quran sebagai pijakan utama. Dalam artian, kaji dan analisa setiap ayat yang berkaitan dengan masalah yang dikaji, baik terkait secara langsung atau tidak langsung (thariq al-‘ibarah wa thariq al-isyarah atau dalam bahasa Ushul Fiqih dalalah manthuq wa dalalah mafhum). Jadi bukan hanya satu atau dua ayat saja lalu langsung masuk ke pembahasan.

Ketika masalah yang dikaji tidak mendapatkan penjelasan yang rinci dari al-Quran, baru melangkah pada Sunnah. Sunnah yang dijadikan sebagai sumber kajian mesti diteliti secara sangat dalam keshahihannya. Akan lebih baik lagi kalau sunnahnya bersifat mutawatir. Kalau tidak ada yang mutawatir, baru melangkah pada yang bersifat sunnah yang bersifat ahaad, dengan tetap memperhatikan petunjuk pada ulama hadits dalam mengkaji sebuah hadits ; mana yang shahih, hasan, dhaif dan seterusnya; apakah ada hadits lain yang juga shahih tapi bertentangan dengannya lalu bagaimana mengkompromikannya; apakah hadits tersebut masih bisa diamalkan (kaji kembali metode Imam Tirmidzi dalam menilai mana hadits yang bisa diamalkan dan mana yang tidak); bagaimana asbabul wurud hadits tersebut agar dapat dipahami secara utuh, dan sederet kaidah lainnya yang mesti diindahkan dalam mengkaji sebuah hadits.

Kesimpulannya, sebagaimana halnya slogan ‘kembali pada Quran dan Sunnah’ dapat diterima jika dipahami secara benar ;  kembali pada Quran dan Sunnah → berdasarkan pada perangkat kelimuan yang telah diasas para ulama, maka begitu juga dengan slogan ‘kembali pada al-Quran’ akan dapat diterima jika dipahami secara benar ; kembali pada Quran → berdasarkan penjelasan dari sunnah (diutama yang bersifat mutawatir) dan perangkat keilmuan yang telah diasas para ulama.

Wallahu a’lam.

Oleh : Ustadz Yendri Junaidi

Demikian Artikel " Menyoal Slogan Kembali Pada Qur'an dan Sunnah "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama