Mimbar Jumat; Potensi yang belum Teroptimalkan

MIMBAR JUMAT; POTENSI YANG BELUM TEROPTIMALKAN

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Sebuah perubahan sering dimulai dari sebuah kalimat. Apalagi kalau kalimat itu dikemas dengan menarik, berbobot dan menyentuh perhatian audiens yang mendengar. Sebuah pidato, ceramah, khutbah dan sejenisnya bisa mendorong banyak orang untuk merenung, berpikir, introspeksi diri, memunculkan gagasan, membentuk paradigma baru dan bahkan melahirkan sebuah perubahan.

Keistimewaan mimbar Jumat adalah ia merupakan sebuah rutinitas yang wajib dihadiri oleh laki-laki yang baligh berakal, mesti didengar dengan seksama, tidak boleh ada sanggahan dan interupsi di saat ia berlangsung, dan pendengarnya pun sangat beragam; dari yang tidak bisa tulis baca sampai yang sangat terpelajar, dari yang tidak punya apa-apa sampai yang memegang berbagai kebijakan penting.

$ads={1}

Hanya sayangnya, mimbar Jumat yang sakral ini sepertinya belum teroptimalkan untuk menggerakkan perubahan di dalam masyarakat, setidaknya perubahan pola pikir atau paradigma. Arah dan konten khutbah nyaris tidak bervariasi. Pendekatan yang dilakukan oleh para khatib untuk memperdalam bahasan khutbahnya pun sering terlihat monoton.

Mungkin tidak semua ‘salah’ para khatib. Sebagian mereka tentu juga merupakan cendekiawan dan pakar di bidangnya masing-masing. Tapi memang, masyarakat atau jamaah yang belum siap untuk mendengar sesuatu yang berbeda dari yang selama ini mereka terima. Jadi, ini sudah seperti lingkaran tertutup. Jamaah tidak siap mendengar sesuatu yang berbeda, sang khatib pun juga tidak mau keluar dari ‘selera’ jamaah. 

Sebagai contoh sederhana. Musibah yang melanda berbagai wilayah Indonesia akhir-akhir ini tentu menjadi tema dan bahasan yang menarik bagi para khatib dan penceramah. Dalam menyikapi berbagai musibah itu, tafsir yang biasa diketengahkan adalah musibah tersebut adalah tanda Allah murka. Itu adalah adzab. Maka segeralah bertaubat. Dan seterusnya.

Ajakan untuk bertaubat tentu sesuatu yang sangat positif. Tapi yang perlu menjadi perhatian adalah haruskah setiap musibah dilihat sebagai sebuah azab? Jika demikian, kenapa daerah-daerah yang lebih tinggi tingkat kemaksiatannya justeru tidak terkena musibah? Sebaliknya, kenapa ada beberapa wilayah yang masyarakatnya dikenal shaleh tetap terkena musibah? Tidak dipungkiri bahwa sebagian (besar) dari musibah itu adalah azab. Tapi menafsirkan setiap musibah semata-mata sebagai azab tentu tidak tepat.

Yang perlu menjadi renungan adalah kenapa kita tidak mencoba melihat dari sudut pandang yang berbeda? Dan ini yang saya coba lakukan dalam khutbah Jumat di salah satu masjid di Sumatera Barat. Saya mencoba menawarkan sebuah sudut pandang yang baru –bagi sebagian masyarakat- yaitu dengan melihat musibah sebagai sebuah tantangan (tahaddi) untuk dijawab dengan ilmu pengetahuan. Tak ayal, khutbah tersebut mendapat reaksi dari sebagian jamaah (saya tidak tahu pasti prosentasenya).

Penjelasannya begini. Ketika seseorang, misalnya, sering mengkonsumsi alkohol, narkotika dan obat-obat terlarang, lalu akhirnya ia mengidap penyakit ganas yang berujung pada kematiannya. Bukankah penyakit yang dideritanya tersebut yang berdampak pada kematiannya merupakan dampak yang logis dari perilakunya yang menyimpang? Apakah tepat jika dikatakan bahwa penyakit dan kematiannya itu adalah azab dari Allah?

$ads={2}

Akan ada yang berkomentar: “Itu kan pilihan dia sendiri. Dan ini beda dengan musibah alam yang di luar kemampuan atau pilihan manusia.”

Benar. Tapi mari kita lihat sejarah. Sampai awal abad 20, penyakit yang paling mematikan manusia adalah kolera. Binatang yang paling banyak ‘merenggut’ nyawa manusia adalah nyamuk. Tapi semua itu berubah berkat ilmu pengetahuan terutama di bidang kedokteran yang selalu dikembangkan dan manusia mulai merubah pola hidup mereka.

Terkait dengan gempa dan tsunami. Banyak negara yang juga menghadapi musibah yang sama, seperti Jepang, Amerika Serikat, Kuba dan sebagainya. Mereka tidak ‘pasrah’ saja menunggu bencana itu datang. Mereka melakukan berbagai penelitian, pengembangan teknologi dan langkah-langkah kongkrit untuk menghadapi musibah itu jika sewaktu-waktu datang. Hasilnya? Di Kuba, gempa yang terjadi di wilayah Hurricane pada tahun 1998 hanya memakan korban empat ( 4) orang saja.

Sekali lagi, sebagai umat yang bertauhid kita tidak mengingkari bahwa sebagian (besar) musibah itu mungkin adalah bukti bahwa Allah Swt murka pada manusia. Tapi mari kita mencoba melihat dari sisi yang berbeda untuk mendorong para ilmuwan dan pemegang kebijakan melakukan berbagai riset untuk mengkaji masalah ini secara ilmiah lalu mengambil langkah-langkah antisipatif dalam tataran manusiawi untuk menghadapi berbagai musibah yang terjadi.

Sayangnya, sudut pandang seperti ini tidak ‘akrab’ di telinga masyarakat kita, bahkan cenderung dicurigai dan dituduh macam-macam. Padahal kalau kita bisa menyuarakan ini dengan baik melalui mimbar-mimbar Jumat, misalnya, maka kita bisa berharap hal ini akan menggerakkan para pakar, peneliti, dan juga pemerintah untuk secara serius melakukan langkah-langkah kongkrit dalam mengantisipasi, atau setidaknya meminimalisir, dampak dari sebuah gempa dan tsunami.

Ada hal menarik untuk menjadi renungan. Di Turki, ada sebuah masjid yang sangat terkenal bernama masjid Aya Sofia. Masjid ini pada awalnya adalah gereja. Ia dibangun pada abad 6 masehi oleh dua orang arsitek kenamaan. Karena Turki adalah negara yang rawan gempa, maka Aya Sofia dibangun dengan bahan yang diharapkan bisa tahan gempa. Dan memang, Aya Sofia (gereja) bisa bertahan menghadapi berbagai gempa di Turki di masa itu. Sampai akhirnya ketika Sultan Muhammad al-Fatih menaklukkan Konstantinopel, gereja Aya Sofia dirubahnya menjadi masjid. Setelah dirubah menjadi masjid, ia tetap tahan terhadap berbagai gempa. Bukan karena ia masjid, karena memang sebelumnya ia adalah gereja, dan bukan juga karena ia gereja, karena memang setelah itu ia dirubah menjadi masjid, tapi karena arsitektur yang didasarkan pada ilmu pengetahuan. 

Tentu saja semua terjadi atas izin Allah Swt. Hanya poin utamanya adalah :

إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

Oleh: Ustadz Yendri Junaidi

Demikian Artikel " Mimbar Jumat; Potensi yang belum Teroptimalkan "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama