Tanggung Jawab Pengikut Dan Yang Diikuti di Akhirat Kelak

TANGGUNG JAWAB PENGIKUT DAN YANG DIIKUTI DI AKHIRAT KELAK

(Dialog Antara Guru Dan Murid – Disarikan Dari Zadul Muslim Karya Dr. Abdullah Darraz)

Guru : Tahukah engkau, anakku, bahwa setiap kita bertanggungjawab tidak hanya hanya terhadap perbuatan kita saja, tapi juga terhadap perbuatan orang lain?

Murid : Apakah yang guru maksudkan adalah dalam syariat Islam atau dalam hukum jahiliah, dimana seseorang ikut bertanggungjawab terhadap kesalahan yang dilakukan oleh tetangganya? 

Guru : Dalam syariat Islam, anakku. Bahkan dalam inti al-Quran.

Murid : Bagaimana mungkin bisa seperti itu? Padahal kita membaca dan mendengar setiap hari kalau tanggungjawab dalam Islam itu bersifat personal dan individual. Yang bertanggungjawab terhadap sebuah perbuatan adalah pelakunya saja, bukan orang lain. 

$ads={1}

Bukankah al-Quran menegaskan :

“Engkau tidak dibebani kecuali dirimu sendiri…” (an-Nisaa`: 84)

“Setiap perbuatan dosa seseorang dirinya sendiri yang bertanggungjawab. Seseorang tidak akan memikul beban dosa orang lain…” (al-An’aam: 164)

“… diri (setiap orang) mendapatkan pahala dari kebaikan yang dikerjakannya, dan mendapatkan dosa dari kejahatan yang diperbuatnya…” (al-Baqarah:286)

“… bagi kami perbuatan kami dan bagimu perbuatanmu…” (asy-Syura: 15)

“… kamu tidak bertanggungjawab terhadap apa yang aku kerjakan dan aku pun tidak bertanggungjawab terhadap apa yang kamu kerjakan.” (Yunus: 41)

“… kamu tidak akan dimintai tanggungjawab atas apa yang kami kerjakan dan kami juga tidak akan dimintai tanggungjawab atas apa yang kamu kerjakan.” (Saba`: 25)

“… engkau tidak memikul tanggungjawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka dan mereka tidak memikul tanggungjawab sedikit pun terhadap perbuatanmu…” (al-An’aam: 52)

“… sesungguhnya kewajibannya (Rasulullah) hanyalah apa yang dibebankan padanya, dan kewajibanmu hanyalah apa yang dibebankan padamu…” (an-Nur: 54)

Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang senada.

Guru : Anakku, semua yang engkau paparkan tidak ada kaitannya dengan ini. Ini dua hal yang sangat berbeda. Keduanya tidak saling meruntuhkan, bahkan saling menyempurnakan. 

Kunci permasalahannya adalah “KITA TIDAK AKAN DIHISAB ATAS APA YANG DILAKUKAN OLEH ORANG LAIN, KECUALI KALAU KITA PUNYA ANDIL TERHADAP PERBUATAN ORANG ITU, BAIK LANGSUNG MAUPUN TIDAK LANGSUNG.”

Murid : Apakah yang guru maksudkan adalah jika perbuatan orang itu muncul disebabkan oleh perbuatan kita maka kita bertanggungjawab terhadap perbuatan kita yang telah menjadi penyebab munculnya perbuatan orang itu? Kalau ini yang guru maksudkan maka sesungguhnya tidak ada yang baru dalam hal ini, karena intinya sama saja, yaitu kita bertanggungjawab terhadap perbuatan kita. Tak lebih dari itu.”

Guru : Masalahnya tidak sesederhana itu, anakku. Kedua ungkapan di atas tidaklah sama. Sangat berbeda antara: “engkau akan dihisab atas satu satu hal yaitu perbuatanmu saja”, dengan: “engkau akan dihisab atas dua hal; atas perbuatanmu yang menyebabkan munculnya perbuatan orang lain dan juga atas perbuatan yang muncul dari orang itu karena dipengaruhi oleh perbuatanmu”.

Anakku, sesungguhnya perbuatanmu yang langsung berupa gerakan tertentu, punya bentuk tertentu dan bersifat terbatas, sesuai dengan zaman, tempat dan situasinya. Meskipun ia dilakukan berulang-ulang tapi tetap tidak akan melampaui ruang kehidupanmu.

Sementara perbuatan orang lain bersifat kontinu, baik vertikal maupun horizontal, menembus batas individu, generasi dan tak jarang bersifat abadi selama manusia masih eksis di muka bumi ini.

Kalau engkau mengira bahwa engkau tidak akan dihisab (bertanggungjawab) kecuali terhadap perbuatanmu saja, dalam bentuknya yang sempit dan terbatas, maka engkau tidak memahami Kemahaadilan Allah dengan baik. Engkau juga tidak mengerti detail dan halus timbangan-Nya.

Sesungguhnya Allah tidak tidak mengukur sebuah amal hanya melihat pada materinya saja, juga tidak mengukur temponya pada saat perbuatan itu terjadi saja. DIA JUGA MENGUKUR DAMPAK DARI AMAL ITU, EFEK YANG DITIMBULKANNYA, DAN BERAPA KALI IA DIULANG MESKIPUN DALAM BENTUK YANG SEDIKIT BERBEDA.

$ads={2}

Tidakkah engkau mendengar firman Allah SWT:

“Dan Kami mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas (yang) mereka (tinggalkan)…” (Yaasin: 12).

Jelas sekali bahwa tanggungjawab kita tidak hanya terbatas pada perbuatan-perbuatan kita secara langsung dan pada saat itu saja, tapi lebih jauh dari itu. Kita juga bertanggungjawab terhadap efek dari perbuatan kita, turunan-turunannya, dan gaung yang ditimbulkannya, baik ketika kita masih hidup maupun setelah kita meninggalkan kehidupan ini.

Ohhh… seandainya kita mau merenungkan ini dengan sebenarnya sebelum melakukan apa saja, tentu ini akan menjadi pendorong terbaik bagi kita untuk melakukan apapun bentuk kebaikan meskipun terlihat kecil, sehingga kita tidak akan menganggap enteng kebaikan sekecil apapun. Dan tentu hal ini juga akan menjadi pencegah terbaik bagi kita dari segala bentuk kejahatan meskpun remeh, sehingga kita tidak menganggap kecil apapun bentuk keburukan dan kejahatan.

BOLEH JADI SATU KEBAIKAN ATAU KEJAHATAN ADALAH KECIL PADA AWALNYA TAPI IA AKAN MENJADI BESAR KARENA DAMPAK YANG DITIMBULKANNYA.

Coba engkau pikirkan. Memalsukan sekeping uang mungkin dianggap sebagai sesuatu yang remeh. Tapi kalau kejahatan ini terus berlangsung dan uang palsu itu beredar di tengah-tengah masyarakat, apalagi digunakan dalam berbagai transaksi raksasa, tentu dampak negatif dan bencana yang ditimbulkannya lebih mengerikan dari aksi pencurian berton-ton emas dan perak?

Demikian Artikel " Tanggung Jawab Pengikut Dan Yang Diikuti di Akhirat Kelak "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama