Agama yang diyakini Benar Dengan Kebenaran itu Sendiri

AGAMA YANG DIYAKINI BENAR DENGAN KEBENARAN ITU SENDIRI

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Kadang orang tidak bisa membedakan antara apa yang diyakini benar dengan kebenaran itu sendiri. Sebagai Muslim, misalnya, saya yakin betul, dan tanpa ada secuil keraguan pun, bahwa agama yang saya anut adalah agama yang benar. Tapi, yang jadi pertanyaan, apakah keyakinan saya akan kebenaran agama saya dengan serta merta menjadikan agama saya sebagai agama yang benar? Belum tentu. 

Begitu juga halnya dengan umat agama lain. Yang mereka yakini benar belum tentu benar. Intinya, klaim setiap umat beragama yang memandang benar agamanya tidak serta merta menjadikan agama mereka benar. Karena apa yang diyakini benar itu satu hal. Benar tidaknya sesuatu yang kita pandang benar itu hal yang lain lagi. Logis nggak sih? Menurut saya itu sangat logis. 

$ads={1}

Terus gimana caranya biar kita tahu benar tidaknya agama kita? Argumen. Ya, argumen. Atau dalil. Uji kebenaran agama Anda dengan argumen. Dari mana argumennya? Dari kitab suci? Oh tidak. Uji kesahihan agama Anda dengan argumen-argumen rasional yang meyakinkan. Dan, dalam penglihatan saya, Islam, sebagai satu-satunya agama yang benar, sangat siap sekali dengan pengujian rasional itu.

Bukan cuma siap. Bahkan para ulamanya sendiri yang melahirkan metode pengujiannya. Gimana nggak canggih coba. Berani Anda meragukan keberadaan Tuhan, yang menjadi jantung dari semua doktrin agama? Kalau iya, maka Anda akan berhadapan dengan berjilid-jilid kitab, yang tak secuil pun memberi Anda ruang untuk berkilah. Lari kanan, Anda tertembak. Lari ke kiri, Anda akan tewas. 

Mau coba-coba Anda meragukan kenabian Nabi Muhammad? Keilahian al-Quran? Dan universalitas ajaran Islam? Atau meragukan dasar-dasar ajaran Islam yang lain? Kalau udah siap digilas, nggak apa-apa, kemukakan saja keraguan itu. Warisan intelektual yang dilahirkan oleh para ulama kita sudah terhampar sedemikian kaya. Mau nyari argumen apa lagi? Tugas kita cuma mengulik dan mengemas ulang.

Terus kenapa ada orang-orang Muslim yang mudah tepar manakala berhadapan dengan orang Ateis, atau terpukau dengan gagasan para orientalis? Khazanah Islam ibarat gudang perbendaharaan mutiara. Dan orang-orang yang mudah tepar itu hanya puas nangkring di depan pintu saja. Wajar kalau mereka nggak tahu. Karena nggak mau masuk ke dalam. Padahal kuncinya udah tergeletak di hadapan mereka sendiri.

Apa sih kuncinya itu? Ilmu alat. Ya, ilmu alat. Kalau Anda benar-benar ingin menerawang khazanah Islam sampai ke dalam, kuasailah ilmu alat. Dan itu juga pesan salah seorang guru saya di al-Azhar. Ilmu alat itu ibarat kunci, yang kalau berhasil Anda pegang, maka Anda akan leluasa merauk gumpalan mutiara itu. Lemahlah kemampuan Anda dalam ilmu alat, semakin susah pulalah Anda masuk ke gudang itu.

$ads={2}

Itu sebabnya, ulama-ulama besar dulu bisa jadi ulama besar, karena mereka mengawali perjalanan intelektualnya dengan mendalami ilmu-ilmu alat. Nahwu, Sharaf, Balaghah, Mantik, dan ilmu-ilmu semacamnya adalah tangga untuk meniti ilmu-ilmu yang lain. Itulah kunci pembuka gudang mutiara itu. Sayang, dewasa ini, ilmu-ilmu semacam itu sudah hampir lenyap dari perhatian.

Lalu siapa yang dibaca? Pemikir-pemikir modern! Mereka lebih merasa keren kalau banyak membaca buku para pemikir modern. Baik dari Barat maupun Timur Tengah. Ditambah berguru pada buku para orientalis, yang nggak jelas sanad keilmuannya itu. Apa hasilnya? Ya begitu. Muncullah orang-orang yang ditahbiskan sebagai cendekiawan. Waw, publikasi intelektualnya banyak. Gelarnya doktor, professor. Ahli studi Islam! Padahal kalau disuruh ngajar Jurumiyyah atau Fathul Qarib aja dia nggak bakal bisa.

Disuruh baca Jauharah dia kelimpungan. Kalau diminta ngaji Imrithi, kemungkinan dia memilih untuk lari. Dikit-dikit ngutip orientalis. Dikit-dikit merujuk pemikir-pemikir modern. Lalu dengan mudahnya dia merendahkan karya para sarjana Muslim klasik, yang jauh lebih dahsyat itu. Padahal yang sesungguhnya rendah memang nalar mereka sendiri. Saya sih udah benar-benar skeptis dengan gelar-gelar akademik yang mentereng itu.

Apalagi yang causa-causa-an. Saya lebih percaya lulusan pesantren, yang benar-benar belajar ilmu alat dengan matang, dan mendalami keilmuan Islam secara bertahap, ketimbang para pemikul gelar doktor/professor studi Islam dari bilik-bilik kampus , tapi tidak belajar dengan cara yang benar. Apalagi yang belajarnya di Barat, dan mengekor pada pikiran para orientalis. Halah. Lulusan pesantren yang matang jauh lebih baik ketimbang mereka.

Mungkin, sudah jadi pertanda akhir zaman, manakala sampah dijadikan mutiara. Dan mutiara dilempar ke atas tumpukan sampah. Miris sekali dengan kecenderungan sejumlah para pelajar Muslim sekarang. Sebagian dari mereka sudah kehilangan percaya diri dengan warisan intelektual para ulamanya. Boro-boro mau mengkaji. Membaca saja tidak. Karena nggak punya alatnya. Dan, mirisnya, mereka berlari ke tempat yang salah. Mereka lari menuju tumpukan sampah, yang kebetulan dikemas dengan tampilan yang indah. Itu masalahnya.

Oleh: Ustadz Muhammad Nuruddin

Demikian Artikel " Agama yang diyakini Benar Dengan Kebenaran itu Sendiri "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama