Tidak ada Keterkaitan antara Keyakinan dengan Interaksi Sosial

TIDAK ADA KETERKAITAN ANTARA KEYAKINAN DENGAN INTERAKSI SOSIAL

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Apakah semua agama benar di mata Tuhan? Menurut saya tidak. Agama yang benar cuma ada satu. Tapi, apakah keyakinan itu membolehkan saya untuk menghina dan merendahkan umat agama lain? Ya jelas tidak. Karena agama yang saya anut memang melarang itu. Lagipula nggak ada keterkaitan yang logis antara keyakinan dengan interaksi sosial. Keyakinan itu satu hal, hubungan kita dengan orang yang berbeda keyakinan itu hal yang lain lagi. Saya, Anda atau siapapun, boleh memandang agama orang lain sebagai agama yang sesat. Tapi, pada saat yang sama, kita semua tetap bisa hidup bersahabat. Apa yang jadi masalah? Nggak ada. 

Terus, apakah dengan klaim begitu lantas kita menjadi egois? Ya nggak juga. Egois dari mana? Orang agama saya yang bilang gitu, kok. Toh orang lain pun tidak kita larang untuk memiliki pandangan serupa, juga tidak kita larang kalau mereka ingin memandang salah agama kita. Kalaulah klaim-klaim kebenaran itu ingin diuji secara ilmiah, ya tinggal kita sodorkan argumen kita masing-masing aja. Selesai. Nggak usah baper. Terus, kalau agama kita terbukti benar, apakah saya boleh memaksa Anda untuk mengikuti agama saya? Ya nggaklah. Apa untungnya juga maksa-maksa orang. Boleh saya memusuhi Anda? Nggak boleh. 

$ads={1}

Keyakinan kita yang memandang salahnya suatu keyakinan tidak lantas memperbolehkan kita untuk melakukan cara-cara yang salah. Dan kalau saya melakukan itu, maka saya sudah melanggar aturan penting dalam agama saya. Yang tidak memperbolehkan umatnya untuk memaksa, menghina, mencaci maki, dan memusuhi umat agama lain, hanya karena perbedaan keyakinan. Malah sebaliknya. Agama saya mengharuskan umatnya untuk menghormati umat agama lain. Karena, menurut Islam, memang kita semua terikat dalam persaudaraan universal. Terlepas dari apapun keyakinannya. 

Kalau ada Muslim yang mengabaikan prinsip itu, ya udah, berarti dia tidak taat dengan agamanya. Sesimpel itu. Nggak usah nyalah-nyalahin Islamnya. Faktanya, kalau kita merujuk pada sumber-sumber utama ajaran Islam, memang Islam sendiri yang bilang, bahwa agama yang benar itu hanya agama Islam. Jadi, kalau kita memandang Islam sebagai satu-satunya agama yang benar, itu adalah konsekuensi dari ketaatan kita terhadap ketentuan pokok agama kita sendiri.

Nggak perlu diganggu gugat. 

Yang tidak setuju, dan ingin menggugat, ya tinggal sodorkan argumen saja. Memang dari kalangan Muslim sendiri ada orang-orang yang berupaya untuk membenarkan agama lain selain Islam itu. Tapi, dalam pembacaan saya, argumen mereka tidak ada yang meyakinkan. Kalau ada, mungkin saya pun sudah ikut menjadi bagian dari mereka. Ini bukan dogma. Keyakinan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar itu dapat dibuktikan dengan argumen-argumen yang rasional dan meyakinkan. Seperti apa? Ya itu diskusi lain.

$ads={2}

Kembali pada pertanyaan pertama, apakah semua agama benar di mata Tuhan? Nggak. Salahkah orang yang memandang benar semua agama? Ya, salah. Sebagai Muslim, salahkah kalau kita memandang agama kita sebagai satu-satunya agama yang benar? Nggak salah. Bahkan harus. Adakah landasan argumennya? Banyak. Selama kita mampu memperlakukan umat agama lain dengan cara-cara yang benar, setiap orang boleh memandang agamanya sebagai agama yang paling benar. Dan itu bukan cerminan dari egoisme. Tapi itu adalah hak setiap umat beragama.

Oleh: Ustadz Muhammad Nuruddin

Demikian Artikel " Tidak ada Keterkaitan antara Keyakinan dengan Interaksi Sosial "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama