Anda Seorang Muslim Dogmatis?

ANDA SEORANG MUSLIM DOGMATIS?

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Sejak memasuki akil baligh, sampai detik ini, saya tidak pernah ragu dengan kebenaran agama saya. Dan saya selalu memandang bahwa agama yang benar hanyalah agama Islam. Tidak ada agama yang benar di luar Islam. Ya, orang di luar Islam boleh memandang agamanya sebagai agama yang benar. Bahkan, di kalangan orang Islam sendiri ada yang memandang agama di luar Islam sebagai yang benar. Tapi, saya tidak punya pandangan itu. Bagi saya, semua agama di luar Islam adalah agama yang menyimpang. Berdasarkan apa yang saya pahami dari kitab suci saya sendiri.

Bagaimana dengan kitab suci mereka? Apa kitab suci mereka bisa dipercaya? Tidak. Bagi saya tidak. Kitab suci mereka, dalam hemat saya, sudah mengalami penyimpangan. Konsep ketuhanan mereka juga tidak ada yang benar. Keimanan mereka tidak sempurna. Walhasil, dalam pandangan saya, konsep ketuhanan yang benar, kitab suci yang benar, dan agama yang benar itu hanyalah Islam. Dan al-Quran sendiri yang menegaskan keyakinan itu. 

Tapi apa itu Islam? Di sini saya kira ada beberapa orang yang suka menjawab dengan jawaban keliru. Mereka menjawab, bahwa Islam adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. Di satu sisi itu ada benarnya. Tapi, secara teologis, jawaban ini tidak sepenuhnya tepat. Karena kalau kita hanya membatasi Islam pada agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad, maka sebagai konsekuensinya agama yang dibawa oleh nabi-nabi yang lain tidak bisa kita sebut sebagai agama Islam. Sementara al-Quran secara tegas menyebut mereka sebagai orang-orang Muslim. 

Jawaban yang menurut saya logis dan sahih ialah, Islam adalah adalah agama yang dibawa oleh semua nabi. Dari mulai nabi Adam sampai Nabi Muhammad Saw. Sepanjang sejarah, Allah Swt telah mengutus ratusan bahkan ribuan nabi, sebagaimana tercatat dalam sejumlah riwayat. Di antara nabi-nabi itu ada yang kita ketahui, ada yang tidak. Yang tertera dalam kitab suci paling tidak ada dua puluh lima. Dan itulah yang wajib kita ketahui. Mereka semua datang dengan agama yang satu, yaitu Islam. Ajaran inti yang mereka bawa juga satu, yaitu ajaran tauhid.  

Ajaran yang menegaskan bahwa tiada tuhan selain Allah, dan semua nabi adalah utusan Allah. Kalau Anda ingin disebut sebagai seorang pemeluk agama tauhid, maka Anda harus percaya pada keesaan Allah, juga percaya pada semua utusan Allah. Tanpa membeda-bedakan antara yang satu dengan yang lain. Satu saja di antara utusan Tuhan itu Anda ingkari, maka ketika itu Anda tidak bisa disebut sebagai seorang muwahhid lagi. 

$ads={1}

Kalau Anda hidup di zaman nabi Isa As, sebagai konskeuensi dari ajaran tauhid, Anda harus percaya bahwa Isa adalah utusan Allah. Jika Anda hidup pada zaman nabi Ibrahim, Anda juga harus percaya bahwa Ibrahim adalah utusan Allah. Apabila Anda hidup di zaman seorang nabi, maka Anda wajib beriman kepada nabi itu. Nah, sekarang kita hidup di era setelah Nabi Muhammad Saw diutus sebagai nabi akhir zaman. Maka, kalau kita ingin memeluka ajaran tauhid, sebagai konsekuensinya maka kita juga harus mengimani beliau sebagai utusan Allah.

Karena para nabi itu pada dasarnya datang dengan agama yang satu, dari Tuhan yang satu. Tidak mungkin di satu masa nabi mengajarkan kepadanya umatnya bahwa Tuhan itu ada tiga, misalnya. Lalu nabi lain, yang datang pada masa yang lain, mengatakan bahwa Tuhan itu hanya ada satu. Seolah-olah Tuhan dapat mengalami perubahan. Nalar sehat kita sulit menerima keyakinan semacam itu. Tuhan yang dulu disembah oleh para nabi sebelum nabi Muhammad, ya itulah Tuhan yang sekarang kita sembah. Tidak ada bedanya.

Karena Tuhan tidak mungkin mengalami perubahan. Meskipun sering ditemukan perbedaan di antara para ulama Muslim, dalam menggambarkan sifat-sifat Tuhan, mereka tidak pernah berselisih tentang dzat Tuhan itu sendiri. Dzat Tuhan itu tetap satu. Kalau pun ada yang diperselisihkan, yang diperselisihkan itu biasanya hanya pemaknaan soal sifat-sifat-Nya saja. Karena itu, kalau ada agama yang mengaku sebagai agama tauhid, tapi mengatakan Tuhan ada dua, tiga, atau lebih, bisa kita pastikan bahwa agama itu adalah agama yang menyimpang. 

Kalau ada agama yang mencukupkan keimanan pada sebagian utusan, dan membolehkan pemeluknya untuk mengingkari utusan yang lain, maka kita juga bisa memastikan bahwa agama semacam itu bukan agama yang benar. Saya tidak pernah ragu dengan kesesatan agama-agama lain di luar Islam itu. Tapi—dan ini yang penting untuk dicatat—pandangan saya, dan umat Muslim lain di luar sana, yang memandang Islam sebagai satu-satunya agama yang benar, itu berlandaskan pada argumen-argumen yang kesahihannya dapat dipertanggungjwabkan secara keilmuan. 

Jadi, kalau sekarang ada orang bertanya, dan ingin berdiskusi dengan saya, tentang bukti dari kebenaran klaim-klaim itu, insya Allah saya sudah siap dengan argumen-argumennya. Saya tidak mengimani semua itu hanya karena ikutan-ikutan semata. Ya, dulu, sebelum dewasa, saya berislam karewa warisan saja. Tetapi, setelah melakukan pendalaman lebih lanjut, kini saya tidak lagi berislam karena ikut-ikutan. Semua klaim kebenaran yang saya utarakan di atas dapat dibuktikan dengan argumen-argumen yang kokoh dan rasional. 

Dan, bagi saya, setiap keyakinan yang berbasis pada argumen yang sahih, itu tidak bisa disebut dogma. Tapi itu adalah fakta yang harus kita terima dengan kepala terbuka. Kalau melalui pembuktian-pembuktian yang meyakinkan terbukti bahwa Nabi Muhammad itu adalah seorang nabi, dan al-Quran adalah firman Allah, maka dengan sendirinya tertutuplah kebenaran dari agama lain. Dan Islam datang untuk meluruskan penyimpangan-penyimpangan dalam agama lain itu. 

Saya tidak memandang ini sebagai sikap yang dogmatis. Bagi saya, kalau ada Muslim yang memiliki pandangan semacam itu, tapi dia mampu membuktikan kesahihan pandagannya dengan argumen-argumen yang sahih, maka dia bukan termasuk Muslim dogmatis. Salah nggak kita punya pandangan begitu? Tidak salah. Bahkan harus. Memang seharusnya kita memandang agama kita sebagai satu-satunya agama yang benar. 

Tapi, menariknya, dalam ajaran Islam, meskipun kita diharuskan untuk memandang kebenaran agama kita, dan memandang agama orang lain sebagai agama yang menyimpang, Islam tetap mengajari kita untuk menghormati perbedaan, dan memperlakukan orang-orang yang berbeda keyakinan dengan cara-cara yang benar. Islam tidak mengajarkan permusuhan hanya karena perbedaan agama semata. Bahwa ada orang-orang Islam yang punya pandangan seperti itu, ya itu karena mereka tidak paham dengan agamanya saja. 

Tidak masalah Anda memandang agama Anda sebagai satu-satunya agama yang benar. Selama Anda mampu memperlakukan orang yang punya keyakinan berbeda dengan cara-cara yang benar. Jadi, hemat saya, kita tidak perlu mempertentangkan antara klaim kebenaran yang berada dalam tataran doktrinal, dengan perlakuan kita dalam dimensi sosial. Keyakinan itu satu hal, perlakuan kita atas umat agama lain itu hal yang lain lagi. Anda bisa memandang agama orang lain sesat, tapi pada saat yang bersamaan Anda bisa hidup dengannya dengan pola interaksi yang sehat. 

Dengan meyakini Islam sebagai satu-satunya agama yang benar, tidak berarti bahwa kita harus mengusik kenyamanan umat agama lain; bermusuhan dengan mereka, melukai hati mereka tidak ucapan-ucapan yang tidak wajar, apalagi membunuh dan menjamin mereka sebagai kandidat para ahli neraka. Agama yang saya peluk tidak mengajarkan itu. Yakinilah kebenaran agama Anda semantap mungkin. Tapi, jangan pernah jadikan keyakinan Anda sebagai alasan untuk menabuh gendang permusuhan dengan umat agama lain. Sesimpel itu. 

Lucunya, sekarang kita kerap menjumpai orang-orang yang konon ingin berupaya membangun toleransi, dan kerukunan antar umat beragama, tapi dengan cara mendoktrin mereka untuk saling mengakui kebenaran agama yang lain. Saya kira toleransi tidak meniscayakan hal itu. Untuk menjadi Muslim yang toleran, Anda tidak perlu memandang benar agama orang lain. Cukup Anda dalami agama Anda sebaik mungkin, maka Anda pun bisa menjadi Muslim yang baik.  

$ads={2}

Karena tanpa membenarkan agama orang lain pun, nilai-nilai toleransi yang diajarkan Islam sudah lebih dari cukup untuk dijadikan payung hidup bersama. Toleransi meniscayakan penghormatan terhadap, bukan pengakuan akan benarnya keyakinan. Saya tidak mengakui kesahihan iman kaum Kristen, Yahudi, Budha, Hindu dan para pemeluk agama manapun di dunia ini. Tapi, kalau saya ditakdirkan hidup bertetangga dengan mereka, sebagai Muslim saya wajib menghormati mereka, dan hidup harmonis dengan mereka, karena itulah yang diajarkan oleh agama saya.

Sebagai Muslim, Anda harus meyakini Islam sebagai satu-satunya agama yang benar. Tapi, pada saat yang bersamaan, Anda harus tahu apa alasan-alasan di balik pembenaran itu. Kalau Anda tahu, dan Anda mampu membuktikan kesahihan argumennya, maka apa yang Anda imani itu adalah fakta, bukan dogma. Dan dengan begitu Anda jauh dari label dogmatis. 

Lain cerita kalau Anda beragama hanya sebatas ikut-ikutan saja. Tidak tahu dalil, tidak tahu alasan, tapi memandang agama sendiri sebagai satu-satunya agama yang benar. Dan di sinilah pentingnya belajar. Di sinilah pentingnya membingkai keimanan dengan basis ilmu pengetahuan. Karena hanya dengan ilmulah kita dapat membedakan mana yang benar-benar salah dan mana yang sesungguhnya benar. Demikian, wallâhu ‘alam bisshawâb.

Oleh: Ustadz Muhammad Nuruddin

Demikian Artikel " Anda Seorang Muslim Dogmatis? "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama