Mengapa Kita Perlu Mempelajari Ilmu Kalam?

MENGAPA KITA PERLU MEMPELAJARI ILMU KALAM?

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Dalam suatu kesempatan saya pernah berdiskusi dengan salah seorang mahasiswa pascasarjana di Indonesia yang kebetulan sedang menulis tesis yang judulnya berkaitan erat dengan Ilmu Logika (manthiq). Kita sempat bicara panjang lebar dalam kesempatan itu. Di sela-sela obrolan, yang bersangkutan sempat berkomentar, bahwa kajian Ilmu Kalam yang berlangsung di lingkungan para mahasiswa al-Azhar, dalam pandangannya, tak banyak relevansinya dalam menjawab realitas kekinian kita.

“Sekarang ini”, tuturnya mengawali pembicaraan, “ada tiga kelompok yang setidaknya patut menjadi perhatian kita. Pertama, orang Ateis. Kedua, orang non-muslim, secara lebih khusus orang Kristen. Ketiga, kelompok Salafi Wahabi, yang menjadi sarangnya gerakan Islam ekstremis. Tapi, sayangnya, kita masih sibuk membicarakan konsep-konsep usang seperti jauhar, ‘aradh, hâl, dan konsep-konsep sejenisnya. Apa gunanya bicara konsep-konsep kuno semacam itu? Harusnya pembahasan kita lebih kontekstual. Tak melulu mengulang-ngulang pembahasan lama.”

Meski tak merekam secara persis, kira-kira itulah poin mendasar yang saya terima dari teman saya itu. Secara pribadi, saya setuju dengan komentar tersebut. Bahwa kajian tentang teologi Islam perlu ditingkatkan ulang secara serius demi menjawab tantangan-tantangan kekinian. Ijtihad para ulama terdahulu boleh jadi relevan untuk menjawab tantangan zamannya, tapi belum tentu mampu menjawab tantangan yang dihadapi oleh generasi kita. Ini adalah hal lazim yang biasa kita jumpai dalam berbagai disiplin keilmuan Islam. Bahwa hal-hal baru, yang menuntut “ijtihad” baru itu akan selalu ada.

$ads={1}

Namun, hemat saya, pandangan seperti ini tidak serta-merta mengharuskan kita untuk berpaling muka dari tema-tema klasik yang telah dituangkan dalam khazanah keilmuan kita. Tema-tema yang tersaji dalam dalam buku-buku kalam klasik itu tetap harus kita pelajari. Sebab, jika dibaca secara lebih cermat, konsep-konsep seperti jauhar, ‘aradh, daur, tasalsûl, wujûb, imtinâ’, imkân, illat-ma’lûl, dan istilah-istilah sejenisnya yang terserak dalam lembaran kitab-kitab kuning itu sejujurnya masih relevan untuk menjawab tantangan pemikiran masa kini.

Sebagai contoh sederhana: Orang sering bertanya: Kalau memang segala sesuatu itu butuh pada yang menciptakan, lantas siapa yang menciptakan Tuhan? Pertanyaan ini tak hanya menggelayut di kepala orang-orang awam. Tapi juga pernah diajukan oleh beberapa filsuf besar seperti Bertrand Russel, Herbert Spencer, David Hume, Immanuel Kant, dan filsuf-filsuf besar lainnya.

Bahkan Dawkins sendiri, dalam buku The God Delusion, sempat mengajukan pertanyaan ini. Artinya, diskusi tentang masalah tersebut bukan hanya tertera dalam kitab-kitab kuning, tapi juga dibahas tradisi pemikiran modern. Namun, saya bisa pastikan bahwa argumen tentang kemustahilan tasalsul (infinite regress) yang diperkenalkan oleh para teolog Muslim (mutakallimûn)—dengan sederet argumen yang mereka kemukakan di sana—itu dapat menyudahi diskusi tentang hal itu dengan jawaban yang sangat memuaskan.

Hal serupa juga berlaku dengan konsep-konsep daur, illat-ma’lûl, qidam, hudûts, wujûb, imkân, imtinâ’, dan istilah-istilah lainnya, yang dalam buku-buku teologi Islam klasik sering dimasukkan ke dalam pembahasan umur ‘ammah itu. Itu semua sebetulnya masih tetap relevan untuk kita kaji. Tidak ada yang usang dengan istilah-istilah itu. Keusangan itu hanya terlahir dari kedangkalan pembacaan kita saja dalam menelaah uraian-uraian mereka. Tapi, kalau benar masih relevan, di mana letak relevansinya? Itulah salah satu pertanyaan yang akan kita bahas dalam lembaran-lembaran mendatang.

Di kesempatan lain, saya pernah juga melihat dialog antara William Lane Craig, salah seorang teolog ternama Kristen, dengan Sam Harris, yang dikenal sebagai salah satu tokoh terdepan dalam gerakan Ateisme baru (New Atheism) di salah satu channel Youtube. Dan, setelah saya perhatikan, untuk membuktikan keberadaan Tuhan, dalam perdebatan tersebut Lane Craig menyodorkan tiga argumen. Pertama, cosmological argument. Kedua, teleological argument. Ketiga, moral argument. Dalam bahasa Arab, yang pertama itu biasa disebut dengan istilah al-Burhân al-Kauniy, yang kedua disebut sebagai al-Burhân al-Ghâiy, dan yang ketiga disebut dengan istilah al-Burhân al-Akhlâqiy.

Dan saya bisa pastikan bahwa dua dari tiga argumen yang dijadikan senjata oleh Lane Craig itu ada sejujurnya ada dalam buku-buku kalam klasik, yang ditulis oleh para ulama Islam masa lampau. Dan argumen mereka benar-benar kokoh. Poin utama yang hendak saya sampaikan di sini ialah: buku-buku kalam klasik yang memuat konsep-konsep usang itu, kalau kita baca secara cerdas, sejujurnya masih relevan dan mampu memberikan jawaban memuaskan atas syubhat-syubhat yang hingga saat ini masih kita dengar dan masih kita saksikan. Dari sinilah penting mempelajari Ilmu Kalam. Ilmu ini, saya kira, sangat penting untuk dipelajari, setidaknya dengan dua alasan sebagai berikut:

Pertama, di tengahnya derasnya ideologi-ideologi modern dan kemajuan sains, keimanan menjadi soal krusial yang perlu diperkokoh dan diberikan landasan yang kuat. Menjadi Muslim di era kemajuan tentu memiliki tantangan yang berbeda ketimbang menjadi Muslim di era keterbelakangan. Sekian banyak orang yang terpukau dengan kemajuan saintek yang ada, lantas mereka mengira bahwa Tuhan sudah tidak diperlukan lagi keberadaan-Nya dalam kehidupan kita. Semua ruang yang dulu diisi oleh Tuhan, kata mereka, kini sudah diisi oleh sains. Sains sudah memberikan jawaban bagi semuanya. Karena itu tak ada gunanya lagi kita bertuhan. Apalagi, fakta membuktikan bahwa orang-orang yang bertuhan itu justru yang kerap membuat konflik dan kerisuhan.

$ads={2}

Konsekuensi panjang dari pandangan seperti ini tentu tak bisa dipandang sebelah mata. Tak sedikit orang yang meninggalkan agamanya, juga tak sedikit orang yang membenci Tuhannya hanya karena dia melihat fakta yang tidak sesuai dengan keinginannya. Dari sinilah Ilmu Kalam penting untuk kita pelajari. Dengan pembelajaran yang mendalam terhadap ilmu ini, kita bisa beralih dari “keimanan warisan” yang mudah tergoyahkan, menuju “keimanan pencarian” yang tak mudah hanyut dalam berbagai macam keraguan. Mengapa kita harus mempertahankan keimanan? Karena keimanan adalah modal termahal dalam hidup. Keimanan adalah bekal berharga dalam mendayung perahu kehidupan. Bukan hanya untuk kehidupan sekarang, tapi juga untuk kehidupan abadi yang akan kita singgahi di masa mendatang.

Kedua, jika kita membaca teks-teks kalam klasik, kita akan menjumpai setumpuk argumen-argumen teologis yang tertata rapi dan amat mendalam. Dengen membaca, menganalisis, dan mendalami teks-teks tersebut, nalar kritis kita akan berkembang. Di sana kita akan belajar tentang bagaimana cara mendedahkan argumen yang benar, sebagaimana di sana juga kita akan belajar tentang bagaimana caranya agar kritik yang kita sampaikan itu menjadi terarah dan tidak karu-karuan. Pendalaman tentang hal ini sangat penting. Sebab, dewasa ini kita kerap menyaksikan perdebatan yang kurang sehat; perdebatan yang kacau dan tidak terarah. Dengan mempelajari ilmu ini, kita akan belajar tentang bagaimana caranya berbedat yang benar. Sebagaimana kita juga akan merasakan betapa serunya ketika suatu kebenaran itu diperdebatkan oleh berbagai macam kalangan.   

Alhasil, pendalaman terhadap ilmu ini dapat membentuk ketajaman nalar dan ketelitian dalam membaca pandangan orang-orang yang berbeda paham. Sampai sekarang saya termasuk orang percaya bahwa cara berpikir, karakter dan bahkan kepribadian seseorang itu bisa dipengaruhi oleh jenis bacaan dan wawasan yang dia tangkap. Bacaan seperti buku-buku kalam itu sangat layak untuk dibaca. Dengan menghayutkan diri dalam buku tersebut, intelektualitas kita akan terasah. Jika intelektualitas sudah terasah, maka hal-hal sulit akan mampu terselesaikan dengan mudah.

Harus diakui bahwa beberapa buku kalam memang dikemas dengan bahasa yang sulit dan rumit. Tapi kita harus sadar bahwa kerumitan itu justru diperlukan demi membangun intelektualitas yang lebih tajam dan mendalam. Mempelajari buku-buku rumit itu perlu. Jika Anda hanya ingin membaca buku-buku yang mudah, itu artinya Anda memilih berjalan di tempat di saat orang lain lari dan berjalan dengan cepat. Ilmu ini, dalam pandangan saya, jika didalami secara serius, akan berperan besar dalam memajukan intelektualitas dan ketajaman nalar kita. Dan jika hal itu terwujud, kita pun akan berperan besar dalam kemajuan bangsa dan negara.

Tak ada yang bisa menolak bahwa rasionalitas dan kemajuan merupakan dua sisi koin yang tak akan terpisahkan. Masyarakat yang maju adalah masyarakat rasional yang tak mudah terhasut oleh berita dan informasi-informasi kampungan. Masyarakat yang maju adalah masyarakat yang mampu menghargai nalar, sebagai salah anugerah yang telah diberikan oleh Tuhan. Sejarah mencatat bahwa Islam pernah jaya dan gagah perkasa ketika para sarjana Muslim banyak mengkaji ilmu-ilmu yang dapat mengasah dan mampu mempertajam logika. Jika kita ingin mengembalikan kejayaan itu, salah satu langkah yang bisa kita lakukan ialah menyegarkan ulang semangat untuk mempelajari ilmu-ilmu seperti ini.

Ilmu kalam bukan hanya ilmu yang membahas dan berbicara tentang Tuhan. Lazimnya sebuah ilmu rasional, ilmu ini mendidik kita untuk berpikir kritis, mendalam, terukur dan tak mudah memandang negatif orang-orang yang memiliki perbedaan pandangan. Ilmu ini sudah sepatutnya kita pelajari. Karena kita semua tentu merindukan kemajuan, sebagaimana kita semua tak rela dengan keterbalakangan yang kerap dipicu oleh nalar-nalar pendek yang tak mampu berpikir secara mendalam.

Oleh: Ustadz Muhammad Nuruddin

Demikian Artikel " Mengapa Kita Perlu Mempelajari Ilmu Kalam? "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama