Apakah Al-Quran Sama dengan Kitab Suci Agama Lain?

APAKAH AL-QUR'AN SAMA DENGAN KITAB SUCI AGAMA LAIN?

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Beberapa kalangan mengira, bahwa keyakinan umat Muslim yang memandang al-Quran sebagai wahyu Tuhan tak lebih dari sekedar dogma yang diwariskan secara turun temurun. Dalam bayangan mereka, kitab suci itu semuanya sama. Kitab-kitab itu diyakini suci, karena umatnya lah yang meyakini kesuciannya. Bukan karena kitab itu suci dalam dirinya sendiri. Kalau umat beragama mengakui kitab suci itu berasal dari Tuhan, itu hanya sebatas pengakuan saja. Soal apakah kitab-kitab itu benar-benar berasal dari Tuhan atau tidak, bagi mereka, tak ada jalan pembuktian yang meyakinkan. 

Dan al-Quran bukanlah pengecualian dari semua itu. Bagi mereka, tak ada keistimewaan berarti yang membedakan al-Quran dengan kitab suci umat agama lain. Semuanya sama. Jika kitab suci umat agama lain mungkin salah, maka al-Quran pun memiliki kemungkinan itu. Jika kitab suci umat agama lain layak diragukan otentisitasnya, maka al-Quran juga demikian. Walhasil, tak ada kitab suci yang lebih unggul dari kitab suci yang lain. Semuanya sama. Bedanya, al-Quran ditulis dalam bahasa Arab, sementara kitab suci yang lain ditulis bukan dengan bahasa Arab. 

Yang menjadi pertanyaan kita sekarang, apakah pandangan semacam ini mencerminkan objektivitas? Apakah kita bisa mempersamakan al-Quran dengan kitab suci umat agama lain? Dan apakah sikap semacam itu termasuk sikap yang adil? Kita tidak akan menjawab dengan keimanan. Tapi mari kita biarkan fakta di lapangan yang langsung memberikan jawaban. Hal pertama yang perlu ingat dari kitab suci ini ialah bahasanya yang benar-benar tak tertandingi. Itu fakta yang harus kita akui. Al-Quran diturunkan dalam bahasa Arab. Dan sampai sekarang versi asli dari kitab suci itu masih ada. 

Bahasa Arab al-Quran bukan bahasa Arab biasa. Dia bukan kitab sastra, tapi kandungannya membuat kagum para sastrawan, yang paham betul dengan seluk beluk bahasa kitab itu. Anda yang tidak paham bahasa Arab tentu tidak akan begitu puas dengan pernyataan ini. Tapi coba Anda tanya para pakar bahasa Arab di belahan manapun di dunia ini. Adakah karangan manusia yang keindahan, kedalaman dan keluasan maknanya mampu menandingi al-Quran? Berdasarkan kesaksian mereka sendiri, sampai detik ini tidak ada manusia yang mampu menandingi kitab suci itu. Dan karena itu tidak salah kalau kita meyakininya sebagai mukjizat. 

$ads={1}

Apa mukjizat? Mukjizat adalah hal luar biasa, yang tampak pada diri orang yang mengaku sebagai nabi, yang disertai dengan tantangan, dan tantangan itu tak bisa tertandingi oleh pihak lawan. Keyakinan kita yang memandang al-Quran sebagai mukjizat bukanlah dogma, tapi itu adalah fakta yang dapat dibuktikan secara rasional. Faktanya al-Quran adalah kitab luar biasa, seperti kesaksian para ahli bahasanya. Dia disampaikan oleh orang yang mengaku sebagai nabi, kemudian kitab itu berisikan tantangan, dan sampai detik ini tidak ada manusia ataupun jin yang mampu memenuhi tantangan itu. 

Bukankah itu luar biasa? Pertanyaannya sekarang, apa ada kitab suci semacam itu selain al-Quran? Apakah Anda pernah melihat kitab suci yang mengemukakan tantangan secara terbuka kepada jin dan manusia, untuk mendatangkan kitab serupa, dan mereka tidak mampu memenuhi tantangannya? Apakah Anda pernah melihat kitab suci yang diturunkan dalam sebuah bahasa, dan keindahan bahasa itu mampu membungkam para ahlinya? Saya kira tidak ada. Kalau ada yang menolak, kita persilakan yang bersangkutan untuk menyebutkan nama kitab itu.

Lalu kita bandingkan bahasa kitab itu dengan bahasa al-Quran, dan kita persilakan para pakar bahasa untuk memberikan penilaian. Faktanya sampai sekarang tidak ada kitab suci yang seperti itu. Lantas, dengan kenyataan yang terang benderang seperti ini, apakah adil kalau kita mempersamakan al-Quran dengan kitab suci umat agama lain? Ini mukjizat, sementara kitab lain, apa sisi kemukjizatannya? Kita tidak bermaksud untuk merendahkan kitab suci yang lain. Kita hanya ingin agar orang bersikap objektif, dengan tidak mempersamakan sesuatu dengan yang lain, sementara dia sendiri tidak menerima persamaan dengan yang lain. 

Selanjutnya, al-Quran yang kita terima sekarang adalah kitab yang diriwayatkan secara mutawatir. Apa maksudnya mutawatir? Maksudnya, kitab itu diriwayatkan oleh orang banyak (ingat sudah ada berapa juta manusia yang menghafal dan meriwayatkan kitab ini!), dari generasi ke generasi, sehingga saking banyaknya kita tidak memungkinkan mereka untuk sepakat dalam kebohongan. Untuk membuktikan apakah ini klaim yang mengada-ngada atau bukan, silakan Anda keliling ke banyak negeri-negeri Muslim, termasuk Indonesia, atau bahkan negeri-negeri non-Muslim sekalipun, lalu kunjungi para penghafal al-Quran di negeri itu. Dan, kalau perlu, Anda tanya mereka satu persatu. 

Tanyakan kepada mereka, dari mana mereka mendapatkan bacaan al-Quran itu? Mereka akan menjawab, saya mendapatkan bacaan ini dari si fulan, si fulan mendapatkan bacaannya dari si fulan, lalu dia mendapatkannya dari si fulan, dan begitu seterusnya, sampai silsilah periwayatan itu tembus secara bersambung kepada Rasulullah, sebagai penerima al-Quran yang pertama. Singkat kata, mereka akan menyuguhkan sanad periwayatan yang jelas dari kitab suci yang mereka baca itu. Seperti yang kita tahu, al-Quran diriwayatkan dengan, setidaknya, sepuluh model bacaan, yang kemudian kita kenal dengan qiraat asyrah (bacaan yang sepuluh). 

Dan masing-masing dari sepuluh qiraat itu dihafal oleh ribuan, kalau enggan berkata jutaan, umat Muslim, dari generasi ke generasi, dengan sanad periwayatan yang sampai kepada penerima pertamanya. Yaitu Rasulullah Saw. Menariknya, sanad-sanad bacaan itu bisa terpampang dengan jelas. Kalau Anda ingin tahu sanad periwayatan mereka, mereka akan menuliskan nama-nama gurunya secara lengkap. Jangan Anda kira bahwa model-model bacaan itu adalah kreasi para ulama Muslim. Tidak. Semua model bacaan yang diriwayatkan secara mutawatir itu memiliki silsilah periwayatan yang bersambung kepada nabi mereka. 

Kita tidak sedang mengada-ngada. Faktanya, sepanjang sejarah, kitab suci ini memang dihafal dan diriwayatkan oleh banyak orang. Dan karena itu kita dapat memastikan otentisitasnya. Sampai detik ini para penghafal kitab suci itu masih banyak, dan tersebar luas di berbagai belahan dunia. Bukan cuma dihafal, tapi apa yang mereka hafal itu, sekali lagi, punya transmisi periwayatan yang jelas sampai ke Rasulullah Saw. Dan inilah yang membuat kita yakin dengan otentisitas kitab suci itu. Setiap ayat yang kita baca, itu dapat kita pastikan berasal dari nabi. Karena semuanya diriwayatkan oleh orang dengan jumlah yang sangat banyak.  

$ads={2}

Jika Anda ingin memperlakukan al-Quran seperti halnya kitab suci agama lain, tolong tunjukkan pada kami satu saja kitab suci yang diriwayatkan secara meyakinkan seperti ini. Bisakah Anda melakukan itu? Saya katakan meyakinkan, karena kitab suci ini, sekali lagi, diriwayatkan oleh orang yang sangat banyak, sehingga mereka mustahil sepakat dalam kebohongan, apalagi menyangkut sesuatu yang sakral dalam agama mereka. Karena itulah umat Muslim yakin sepenuhnya, bahwa al-Quran yang mereka terima sekarang adalah al-Quran yang dulu dibaca oleh Nabi Muhammad Saw. 

Apa buktinya? Buktinya adalah periwayatan yang bersifat mutawatir itu. Dan nalar yang objektif tidak akan begitu sulit untuk mengakui, bahwa di dunia ini tidak ada kitab suci yang diriwayatkan dengan cara seperti itu, kecuali al-Quran. Hanya al-Quran. Kalau ada yang menolak, lagi-lagi kita persilakan yang bersangkutan untuk memberikan bantahan. Ya, kita tidak menolak adanya riwayat-riwayat dalam sumber-sumber Muslim yang secara lahiriah menunjukkan adanya pengurangan dan penambahan dalam kitab suci itu. Perdebatan mengenai redaksi ayat-ayat tertentu juga kita jumpai. 

Tapi, pada akhirnya, kita perlu mengakui, bahwa riwayat-riwayat yang sering dikutip oleh para orientalis dan anak didikannya itu adalah riwayat ahad (riwayat yang disampaikan oleh beberapa orang). Bahkan sebagiannya ada yang terbukti lemah dan palsu. Sementara al-Quran yang kita baca sekarang telah diriwayatkan secara mutawatir. Dan al-Quran tidaklah dinamai al-Quran kecuali ketika dia terbukti diriwayatkan secara mutawatir. Pertanyaannya, apakah adil kalau kita meragukan riwayat jutaan orang, hanya karena ada riwayat yang bertentangan, yang disampaikan oleh segelintir orang? 

Kalau Anda memandang itu sebagai tindakan yang adil, kemungkinan besar ada yang tidak beres dengan kewarasan nalar Anda. Untuk membuktikannya, saya ingin beri sedikit contoh. Satu orang datang mengabarkan Anda, bahwa pada hari senin, tepat pukul 12 siang, telah terjadi peristiwa kebakaran di kota Tangerang, dan peristiwa tersebut telah menewaskan 15 orang. Tiba-tiba, sehari setelah itu, datang lagi orang dengan kabar serupa, dan mengabarkan jumlah korban yang sama. Lalu datang orang ketiga, keempat, kelima, dan seterusnya, sampai dua puluh orang, persis mengabarkan hal yang sama. 

Lalu, sekitar satu minggu setelah itu, Anda menyimak kabar lain, yang menyebutkan jumlah korban yang berbeda. Menurut sumber yang lain ini, total korban dalam peristiwa tersebut hanya ada 5 orang saja. Dan berita itu sendiri hanya dikabarkan oleh tiga orang. Ingat, hanya tiga orang. Pertanyannya, menurut nalar yang sehat, manakah di antara keduanya yang dapat meyakinkan kita dan lebih kita percaya? Jelas, yang diriwayatkan oleh 20 orang—apalagi kalau mereka semua terbukti jujur dan tidak punya kepentingan—jauh lebih meyakinkan ketimbang informasi yang kita terima hanya dari segelintir orang. 

Ini baru 20! Bagaimana kalau yang mengabarkan peristiwa itu sampai 300 atau 400 orang? Apakah masuk akal jika kita meragukan informasi mereka, dengan alasan adanya informasi berbeda, yang disampaikan oleh segelintir orang tadi? Nah, al-Quran yang kita baca sekarang itu diriwayatkan oleh ribuan orang, atau katakanlah ratusan orang, dari generasi ke generasi, dengan periwayatan yang bersambung—sekali lagi bersambung—kepada Rasulullah Saw. Memang ada riwayat-riwayat lain yang kadang menampilkan bacaan berbeda tentang beberapa ayat dalam kitab suci itu. 

Tapi, jumlah orang yang menyampaikan riwayat itu tidak akan sebanding dengan apa yang diriwayatkan oleh orang banyak tadi. Lantas apakah logis kalau kita meragukan riwayat orang banyak, hanya karena ada riwayat berbeda dari jumlah yang sangat sedikit? Itulah kira-kira yang dilakukan oleh para orientalis. Mereka mencomot riwayat-riwayat ahad dari sumber-sumber ulama Muslim. Lalu, dengan riwayat-riwayat ahad itu, mereka ingin meragukan otentisitas al-Quran, dan mempersamakannya dengan kitab suci agama lain. Padahal al-Quran yang kita terima sekarang itu adalah hasil periwayatan yang bersifat mutawatir. Ini tidak jauh beda dengan orang yang menerima informasi dari segelintir orang, demi mempersolakan informasi yang dikabarkan ribuan lainnya. Adilkah sikap semacam itu?

Tentu, kita tidak ingin menolak fakta, bahwa dalam sejarah periwayatannya, ada orang-orang yang membaca kitab suci itu secara keliru. Perdebatan dalam proses kanonisasi kitab suci sangat lumrah kita jumpai. Dan perdebatan itu juga termaktub dalam riwayat-riwayat. Tapi, Anda jangan lupakan fakta tadi, bahwa sepanjang sejarah, kitab suci ini dihafal dan diriwayatkan oleh orang yang sangat banyak. Dan al-Quran yang kita baca sekarang, dengan sepuluh model bacaan yang ada, telah diriwayatkan oleh orang yang banyak itu. Dengan begitu, riwayat-riwayat yang hanya disampaikan oleh beberapa orang (baca: riwayat ahad) tidak lagi dapat dipertahankan. Karena kita sudah dihadapkan dengan riwayat yang jauh lebih meyakinkan. 

Kalaupun terjadi kesalahan dalam proses periwayatan itu, itu tidak akan menjadi persoalan yang serius. Karena pada akhirnya, jumlah mereka yang sedemikian besar itu akan mengoreksinya dengan mudah. Dan yang dijadikan rujukan tetaplah bacaan yang memiliki sanad, dengan periwayatan yang mutawatir itu. Kalau tidak mutawatir, berarti dia bukan al-Quran. Karena al-Quran tidaklah menjadi al-Quran kecuali karena ia diriwayatkan secara mutawatir. Uniknya lagi, yang menghafal kitab suci ini bukan hanya orang Arab, yang dengannya al-Quran diturunkan, tapi juga orang-orang non-Arab. 

Bahkan terkadang yang non-Arab ini lebih fasih bacaannya, dan lebih kuat hafalannya, ketimbang orang Arab itu sendiri. Sekarang kita bertanya, ada tidak kitab suci yang dihafal dan diriwayatkan dengan cara yang ajaib seperti ini? Sangat logis jika kita berkeyakinan, bahwa kitab suci ini adalah kitab suci yang otentik dan terjaga dari kesalahan. Karena memang dia sampai kepada kita dengan cara yang sangat meyakinkan. Tidak ada kitab suci yang diriwayatkan dengan cara seperti itu, kecuali kitab sucinya umat Muslim. Sekali lagi ini bukan dogma, tapi fakta yang kesahihannya dapat kita buktikan bersama. 

Kalau ada yang menolak, lagi-lagi kita ingin mempersilakan yang bersangkutan untuk tampil mengemukakan bantahan. Anda mau mengutip riwayat? Ulama Muslim sudah siap dengan jawabannya. Fakta lain yang tidak kalah menarik, al-Quran ini, seperti yang pernah saya jelaskan dalam tulisan sebelumnya, turun kepada seorang nabi yang, menurut catatan sejarah, punya budi pekerti yang luhur. Tidak pernah berbohong, dan tidak pernah melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak layak. Sejarah sendiri yang menginformasikan hal itu. Menarik dicatat, bahwa kisah perjalanan hidup sosok yang menerima al-Quran ini terekam secara lengkap dalam sumber-sumber sejarah. 

Dari mulai kesehariannya, perangainya, peristiwa-peristiwa penting dalam hidupnya, bahkan hal-hal kecil yang menyangkut tampilan fisiknya pun dapat kita temukan penjelasannya. Kita bisa menantang siapapun di dunia ini, untuk menyajikan biografi kehidupan seorang manusia, yang benar-benar lengkap selengkap riwayat nabi Muhammad Saw. Tidak akan ada. Semua yang berkaitan dengan nabi Muhammad dijelaskan secara lengkap, detail dan gamblang dalam sumber-sumber sejarah.  

Pertanyaannya, ada tidak penerima kitab suci dalam sejarah yang riwayat kehidupannya selengkap ini? Kalau ada, tolong tunjukkan. Jadi, kalau suatu waktu Anda ragu dengan apa yang diceritakan orang-orang tentang sosok yang pertama kali menerima al-Quran, maka Anda tidak perlu khawatir. Karena semua hal yang berkaitan dengan nabi Muhammad terekam dalam kitab yang berjumlah ratusan bahkan ribuan jilid.

Jangankan tokoh besar. Nabi pun tidak ada yang riwayat kehidupannya selengkap itu. Tunjukkan pada kami satu saja kisah seorang manusia besar, yang perjalanan hidupnya tergambar dengan jelas, komplit dan gamblang seperti halnya Rasulullah Saw? Tidak akan ada. Dan menariknya lagi, sebagian besar dari apa yang diceritakan tentang beliau itu bukan hanya sekedar dongeng, tapi riwayat-riwayat yang disertai sanad kepada saksi matanya. Kalau Anda penasaran dengan biografi para perawinya, jangan khawatir, para ulama Muslim sudah menyedikan kitab-kitabnya. Dan Anda bisa mengakses biografi para perawi itu di dalam kitab-kitab mereka. 

Belum lagi kita dihadapkan bukti-bukti lain, bahwa al-Quran ini memuat banyak penjelasan-penjelasan yang melampaui zamannya, yang tidak mungkin terlahir dari seseorang yang tidak pernah melakukan kegiataan membaca dan menulis. Dalam al-Quran ada isyarat-isyarat ilmiah, dan pemberitaan tentang hal-hal ghaib, juga cerita tentang kisah-kisah manusia masa lampau. Semua itu dikemukakan dengan bahasa yang indah, padat dan mendalam, berdasarkan kesaksikan para pakar bahasa Arab itu sendiri. 

Padahal, yang menyampaikan kitab suci ini dikenal sebagai sosok yang ummi; tidak melakukan kegiatan baca tulis, dan tidak pernah belajar kepada siapapun, baik dari orang Yahudi maupun tokoh Nasrani. Kandungannya telah melahirkan jutaan jilid kitab, yang menafsirkannya, dan mengulas sisi-sisi keistimewaannya. Yang menyampaikannya adalah orang yang kehidupannya jelas, juga dikenal terpercaya. Dan kitab sucinya itu sendiri diriwayatkan oleh orang banyak, dari generasi ke generasi, dengan sanad yang bersambung kepada penerima pertamanya. 

Cara bacanya saja beda dengan cara baca kitab lain. Panjang pendeknya diatur. Bahkan untuk melahirkan cara baca yang tepatm para ulama melahirkan satu disiplin ilmu secara khusus. Itu baru cara bacanya. Belum lagi dengan penafsiran kandungannya, yang telah melahirkan khazanah intelektual yang benar-benar kaya. Sekali lagi kita bertanya, adakah kitab suci di dunia ini yang memiliki keajaiban seperti yang dimiliki oleh al-Quran? Kalau fakta berkata tidak ada, maka mempersamakannya dengan kitab suci yang lain adalah ketidak-adilan yang benar-benar nyata. Dan sayangnya, sebagian kita tidak sadar, bahkan menjadi bagian dari ketidakadilan itu. Demikian, wallahu ‘alam bisshawab.

Oleh: Ustadz Muhammad Nuruddin

Demikian Artikel " Apakah Al-Quran Sama dengan Kitab Suci Agama Lain? "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama