Kritik yang kurang Cermat terhadap Kebenaran Al-Qur'an

KRITIK YANG KURANG CERMAT TERHADAP KEBENARAN AL-QUR'AN

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Dalam salah satu tulisan, saya sempat bilang, bahwa jika al-Quran diterima sebagai firman Tuhan, maka kisah-kisah yang termuat di dalamnya sudah pasti benar, dan menjadi bagian dari sejarah. Kenapa? Alasan yang sangat logis, karena Tuhan tak mungkin berbohong. Apa yang difirmankan-Nya tentu sudah pasti benar, dan tidak mungkin bertentangan dengan kenyataan.

Tentu konsekeunsi itu harus diterima, kalau lawan bicara kita mengakui al-Quran sebagai firman Tuhan. Bagaimana kalau tidak? Tinggal kita berdebat aja di situ. Berdebat soal apakah al-Quran itu firman Tuhan atau bukan. Saya punya argumen, dan kalau tidak setuju, Anda tolak argumen itu. Setelah itu Anda ajukan argumen Anda. Dan kalau tidak setuju, saya pun berhak menolak argumen Anda. Lalu lihat mana yang lebih kuat di antara keduanya.

Sesederhana itu. Lucunya, ketika mengajukan pernyataan di atas, ada orang yang mengira bahwa saya akan berdalil di hadapan mukanya dengan kutipan dalil-dalil al-Quran! Menurutnya, membuktikan kebenaran kisah-kisah al-Quran dengan al-Quran itu merupakan satu bentuk kecacatan berpikir. Itu benar. Dan saya setuju. Karena sesuatu yang memerlukan bukti tidak mungkin dibuktikan dengan dirinya sendiri.

$ads={1}

Tapi apakah saya melakukan itu? Nehi. Yang saya lakukan bukan membuktikan kebenaran kisah-kisah al-Quran dengan ayat al-Quran, tapi membenarkan kisah-kisah al-Quran atas dasar status ontologisnya sebagai wahyu Tuhan. Dengan kata lain, kisah-kisah al-Quran itu saya pandang benar, dan sesuai dengan kenyataan yang ada, setelah argumen-argumen rasional menggiring saya pada kesimpulan, bahwa dia bukan kitab  biasa, melainkan wahyu dari Allah Swt. 

Lalu mana buktinya? Konon, orang yang mengajukan kritik tak menemukan bukti itu. Dibaca berkali-kali katanya nggak ketemu. Zonk. Padahal saya sudah menjelaskan sedikit. Kenapa sedikit? Ya karena tulisan itu memang tidak dimaksudkan untuk membuktikan klaim di atas; klaim yang menyebutkan al-Quran sebagai wahyu Tuhan. Kalau memang mau berdebat soal itu, kita perlu ruang lain secara terpisah. Dan kita tidak kekurangan literatur untuk mengajukan argumen-argumen rasional itu.

Terus apa alasan yang sedikit itu? Coba Anda baca ulang dua tulisan yang sudah saya share sebelumnya. Sekarang saya mau ringkas di sini. Yang menyampaikan al-Quran dikenal sebagai pribadi yang jujur sepanjang hayatnya. Tak pernah berbohong. Dengan begitu, kepercayaan kita akan kebenaran informasinya dapat menguat. Karena informasi itu disampaikan oleh lisan yang terpercaya. Beliau pun dikenal ummi, tidak melakukan kegiatan baca tulis.

Tapi, meski begitu, beliau tampil dalam sejarah dengan sebuah kitab, yang sampai detik ini mengundang decak kagum banyak kalangan. Para pakar bahasa Arab bersaksi, bahwa bahasa al-Quran adalah bahasa yang tidak tertandingi. Kandungannya pun padat, luas dan mendalam. Ratusan ton kitab tafsir sudah dihasilkan dari kitab itu. Al-Quran pun mengemukakan tantangan secara terbuka kepada jin dan manusia, untuk mendatangkan kitab serupa. Tidak usah banyak-banyak. Satu surat saja. Dan ternyata, sampai detik ini, tidak ada yang bisa memenuhi tantangan itu.

Lantas, kalau begitu, informasi berlimpah yang termuat dalam al-Quran itu bersumber dari mana? Nalar yang sehat akan menggiring kita pada kesimpulan, bahwa pastilah yang menjadi sumber al-Quran itu adalah sosok yang luar biasa. Karena diapun kitab yang luar biasa. Dan keluarbiasaan kitab suci itu dapat dibuktikan secara keilmuan. Bukan hanya sebatas keyakinan yang diwariskan secara turun temurun. Dan kita menyimpulkan, bahwa sumber yang luar biasa itu adalah Tuhan. Dengan demikian, al-Quran adalah firman Tuhan.

Jika ada yang mengklaim bahwa cara seperti ini adalah cara berpikir yang tidak logis, saya persilakan untuk menunjukkan di mana letak ketidak-logisannya. Yang tidak logis itu justru cara berpikir orang itu. Dia mengkritik satu pandangan yang dia nisbatkan kepada orang. Padalah yang dia kritik itu ialah pandangan yang dia rekonstruksi sendiri, gara-gara dia keliru memahami pandangan orang. Itulah strawman fallacy. Dia ingin membuktikan ketidak-logisan pandangan orang, tapi dia malah bunuh diri, dengan mempertontonkan kecacatan nalarnya sendiri. 

Yang saya heran, ada orang-orang yang enggan membenarkan kisah-kisah itu, dengan alasan bahwa kebenarannya harus dibuktikan dengan metode sejarah. Hallo, apakah Anda lupa, bahwa al-Quran bukan kitab sejarah, yang ditulis oleh seorang manusia, dan dengan begitu kita layak menyangsikan kesahihan informasinya? Al-Quran bukan kitab sejarah. Dia wahyu, yang kandungannya memuat informasi sejarah. Karena bukan kitab sejarah, berarti cara kita membuktikan kesahihan kandungannya juga bukan dengan menggunakan metode para ahli sejarah. Logis dong? Bukan kitab sejarah kok diverifikasi dengan metode sejarah. 

$ads={2}

Lalu dengan cara apa membuktikannya? Ya itu tadi. Caranya dengan membuktikan keilahian kitab sucinya itu sendiri. Bener nggak itu dari Tuhan? Itu aja persoalan intinya. Kalau Anda berhasil menyuguhkan argumen rasional yang meyakinkan tentang hal itu, berarti kitab itu benar semua isinya. Karena dia berasal dari Tuhan. Atau, kalau Anda tidak setuju dengan kesimpulan di atas, Anda harus buktikan, bahwa pandangan yang meyakini al-Quran sebagai firman Tuhan tidak berkonsekuensi pada pembenaran akan kisah-kisahnya. Tapi argumennya apa? Saya sudah membuktikan keterkaitan logis antara dua hal itu dalam tulisan yang lain. Kalau tidak setuju, Anda tolak keterkaitan itu. Atau Anda buktikan bahwa  al-Quran itu bukan kitab wahyu. Begitu harusnya. Bukan nyerocos sana sini. 

Di sinilah sebenarnya letak pentingnya Ilmu Debat itu. Sebelum mengkritik pandangan orang, sebaiknya kita perjelas pemahaman kita terlebih dulu. Kadang orang tidak bisa membedakan mana klaim mana argumen. Mana dal mana madlul. Bagian mana yang harus dikritik dan bagian mana yang perlu dibiarkan.  Bagaimana caranya mengkritik dan bagaimana caranya membantah balik. Apa tugas penanya dan apa tugas pendakwa. Semua itu ada ilmunya. Sayang, dewasa ini kita lebih mudah menyaksikan orang yang pandai berbicara ketimbang orang yang peduli dengan kewarasan logika. Konsekuensinya muncullah orang-orang seperti itu. Berisik iya, isinya nggak ada. Zonk.

Oleh: Ustadz Muhammad Nuruddin

Demikian Artikel " Kritik yang kurang Cermat terhadap Kebenaran Al-Qur'an "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama