Pengertian Taqlid, Syarat-Syaratnya dan Cara Bertaqlid

PENGERTIAN TAQLID, SYARAT-SYARATNYA DAN CARA BERTAQLID

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Dikalangan santri, istilah Taklid sudah sering didengar, bahkan di acara pengajian pun istilah ini sudah sering disampaikan oleh pemateri kajian.

Sebenarnya, apa arti dari Taklid itu sendiri? berikut jawaban lengkapnya:

Taqlid adalah mengambil dan mengamalkan pendapat seorang Mujtahid tanpa mengetahui dalilnya.

Dan dalam bertaqlid tersebut tidak membutuhkan pengucapan lafad taqlid, tetapi setiap kapanpun Seseorang yang beramal merasa bahwa amalnya tersebut cocok dengan pendapat salah satu Imam Mujtahid, maka sesungguhnya Dia sudah bertaqlid pada Imam Mujtahid tersebut.

Dalam masalah taqlid ada beberapa syarat :

Madzhab Imam Mujtahid yang diikuti harus mudawwan (pendapat Mujtahid tersebut terbukukan).

Orang yang bertaqlid dalam suatu masalah, harus memenuhi syarat-syarat yang ditentukan oleh Mujtahid yang di ikuti, dalam masalah tersebut.

$ads={1}

Dia "tidak bertaklid" dengan pendapat yang dapat menggugurkan/ membatalkan putusan Hakim.

Tidak boleh hanya mengambil pendapat yang ringa-ringan saja dari masing-masing Madzhab, apabila hal itu dilakukan maka Dia berarti ingin melarikan diri dari tanggung jawab dalam hukum Agama. Ibnu Hajar al-Haitami berkata : orang seperti ini lebih tepat dihukumi fasiq. Imam Romli berkata : orang seperti ini tidak termasuk fasiq meskipun Dia berdosa karena melakukan hal itu.

Tidak boleh menggunakan suatu pendapat Seorang Mujtahid dalam satu masalah lalu menggunakan pendapat Mujtahid lainnya yang berlawanan didalam masalah yang sama.

Contoh :

Seseorang (si- A) mengambil (membeli) sebuah rumah dengan cara syuf'atul jiwar (lebih berhak membeli karena dia statusnya sebagai tetangga / tanah atau rumahnya bersebelahan misalnya) dengan berdasar pendapat Imam Abu Hanifah, lalu Dia menjual rumah tersebut dan kemudian Dia membelinya kembali. Lalu ada orang lain (si-B) yang sebenarnya punya hak Syuf'ah juga atas nama sebagai tetangga terhadap si-A tadi.

Lalu si-A tadi, mengambil pendapat Imam Syafi'i dalam masalah syuf'ah ini, dengan tujuan agar dapat menggugurkan / menolak hak syuf'ah si- B.

Maka menggunakan dua pendapat Mujtahid yang bertentangan seperti ini dalam satu masalah yang sama, hukumnya tidak boleh.

Tidak boleh melakukan talfiq dengan diantara dua qoul yang dapat melahirkan suatu kenyataan baru / masalah yang tumpang tindih, yang hal tersebut tidak diungkapkan oleh masing-masing dari dua orang Mujtahid itu. (satu perkara yang dalam perkara tersebut terjadi campur aduk pendapat berbagai Madzhab).

orang yang taqlid tersebut harus meyakini bahwa pendapat Mujtahid yang Dia ikuti itu lebih kuat atau sama-sama kuat jika dibanding dengan mujtahid yang lain.

التقليد بعد العمل

(Masalah yang disebutkan dalam Fatawa al-Kurdi)

Boleh seseorang bertaqlid pada suatu Madzhab meskipun setelah amal dengan 2 syarat :

Ketika beramal Dia tidak tahu bahwa apa yang dilakukannya itu rusak (tidak sah) menurut Madzhab yang Dia ikuti namun Dia baru tahu rusaknya tersebut setelah Dia sudah melakukannya. Hal ini hukumnya seperti orang yang melakukan hal yang membatalkan karena lupa, atau karena tidak tahu bahwa hal itu membatalkan atau Dia udzur.

$ads={2}

Imam yang akan Dia ikuti membolehkan taqlid ba'da amal.

Maka barang siapa yang ingin mengikuti pendapat Imam Hanafi maka Dia harus bertanya pada pengikut Madzhab Hanafi tentang kebolehan taqlid bada (setelah) amal.

Dan bagi orang tersebut tidak ada faedahnya jika dia bertanya pada pengikut madzhab syafi'i karena Dia ingin masuk ke madzhab Hanafi.

Dan sudah dimaklumi bahwasanya orang tersebut juga harus memenuhi syarat-syarat taqlid sebagamana yang telah diketahui, hal ini sebagai syarat tambahan dalam taqlid ba'da amal disamping dua syarat di atas.

Dalam fatawa syekh Abdulloh bin Umar terdapat tambahan keterangan : Dan siapa saja yang bertaklid dalam satu masalah, kepada imam yang madzhab nya sah / boleh diikuti, maka sholatnya sah menurut dia bahkan sah menurut kita, karena kita tidak menganggap dia berbuat fasiq dan kita tidak menganggapnya meninggalkan sholat.

Lalu apabila orang tersebut tidak taqlid terhadap salah satu Mujtahid namun kita tahu bahwa amalnya tersebut cocok dengan salah satu Madzhab yang diakui, maka amalnya tersebut hukumnya sah berdasar pendapat yang menyatakan : "Orang awam itu tidak punya madzhab".

Dan apabila kita tidak tahu apakah amal orang tersebut cocok atau tidak dengan salah satu madzhab maka kita tidak boleh ingkar dengan amal yang dia lakukan.

Referensi

{إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين، ج ٤ ص ٢٤٩}

وحاصل الكلام عليه أن التقليد هو الاخذ والعمل بقول المجتهد من غير معرفة دليله، ولا يحتاج إلى التلفظ به، بل متى استشعر العامل أن عمله موافق لقول إمام فقد قلده،

وله شروط ستة: الأول: أن يكون مذهب المقلد - بفتح اللام - مدونا٠

الثاني: حفظ المقلد - بكسر اللام - شروط المقلد - بفتح اللام - في تلك المسألة٠

الثالث: أن لا يكون التقليد مما ينقض فيه قضاء القاضي٠

الرابع: أن لا يتتبع الرخص بأن يأخذ من كل مذهب بالاسهل، وإلا فتنحل ربقة التكليف من عنقه٠

قال ابن حجر: ومن ثم كان الاوجه أن يفسق به، وقال الرملي الاوجه أنه لا يفسق وإن أثم به٠

الخامس: أن لا يعمل بقول في مسألة ثم يعمل بضده في عينها، كأن أخذ نحو دار بشفعة الجوار تقليدا لابي حنيفة، ثم باعها ثم اشتراها فاستحق واحد مثله بشفعة الجوار، فأراد أن يقلد الامام الشافعي ليدفعها، فإنه لا يجوز٠

السادس: أن لا يلفق بين قولين تتولد منهما حقيقة واحدة مركبة، لا يقول كل من الامامين بها،

وزاد بعضهم شرطا سابعا: وهو أنه يلزم المقلد اعتقاد أرجحية أو مساواة مقلده للغير

{تنويرالقلوب، ص ٣٩٧}

(الخامس) عدم التلفيق بأن لايلفق في قضية واحدة ابتداء ولادواما بين قولين يتولد منهما حقيقة لا يقول بها صاحبهما

{بغية المسترشدين، ص ١٦}

( مسئلة ك)

يجوز التقليد بعد العمل بشرطين: أن لا يكون حال العمل عالماً بفساد ما عنّ له بعد العمل تقليده، بل عمل نسيان للمفسد أو جهل بفساده وعذر به، وأن يرى الإمام الذي يريد تقليده جواز التقليد بعد العمل،

فمن أراد تقليد أبي حنيفة بعد العمل سأل الحنفية عن جواز ذلك، ولا يفيده سؤال الشافعية حينئذ، إذ هو يريد الدخول في مذهب الحنفي، ومعلوم أنه لا بد من شروط التقليد المعلومة زيادة على هذين اهـ.

وفي ي نحوه، وزاد: ومن قلد من يصح تقليده في مسألة صحت صلاته في اعتقاده بل وفي اعتقادنا، لأنا لا نفسقه ولا نعدّه من تاركي الصلاة، فإن لم يقلده وعلمنا أن عمله وافق مذهباً معتبراً، فكذلك على القول بأن العامي لا مذهب له، وإن جهلنا هل وافقه أم لا لم يجز الإنكار عليه

Sumber: FORUM KAJIAN FIQIH

Demikian Artikel " Pengertian Taqlid, Syarat-Syaratnya dan Cara Bertaqlid "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah - 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama