Pengertian Isim Kāna beserta Contohnya

PENGERTIAN ISIM KĀNA BESERTA CONTOHNYA

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Malam itu, setelah mengikuti acara tahlilan daring, saya lagi-lagi diajak diskusi oleh Khoiruddin. Dia kembali menemukan redaksi yang musykil dalam kitab Kifāyah al-’Awāmm.

Begini bunyi redaksinya:

والكون قادرًا لم يرتقِ إلى درجة الوجود لأنه حال

Apa yang dibingungkan oleh Khoiruddin adalah isimnya kāna, ke mana ia kok tidak muncul di situ? Dari segi makna, redaksi di atas sudah sangat jelas sejelas rasa kopi di hadapan saya. Tapi dalam segi nahwu, redaksi itu menyimpan tanya yang masih perlu dijawab.

Oleh karenanya, seperti biasa, di mana ada persoalan, maka di situ ada problem solving. Di mana ada pertanyaan, maka di situ ada pencarian jawaban.

$ads={1}

Mari kita petakan dulu musykil yang sedang dihadapi oleh Khoiruddin itu. Dengan pemetaan, kita bisa mendudukkan suatu persoalan secara tepat, sehingga nantinya bisa dirumuskan jawaban yang tepat pula. Pemetaan ini seperti kerja seorang dokter yang mendiagnosis penyakit pasien. Dengan diagnosis yang tepat, sang dokter bisa memberi resep yang tepat kepada pasiennya.

Musykil itu berpusat pada lafaz ‘kāna’, sebuah topik ketatabahasaan yang khas Bahasa Arab. Topik tentang ‘kāna’ dan semua ‘āmil nawāsikh lainnya--sejauh yang saya ketahui--hanya terdapat dalam tata bahasa Arab, tidak ada dalam tata bahasa lainnya. Untuk itu, perlu kiranya topik ini dijelaskan secara ringkas dalam rangka pemetaan atau diagnosis persoalan yang dihadapi Khoiruddin.

***

‘Kāna’ (كان) adalah kata kerja yang bermakna “ada”, “terdapat” atau “menjadi.” Kadangkala, kata itu tidak perlu diartikan saat diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, tergantung susunan kalimatnya.

Dalam bahasa Arab, kata ‘kāna’ (كان) terdapat dua jenis: (1) ‘kāna tāmm,’ dan (2) ‘kāna nāqish’. Sebetulnya ada satu lagi: 'kāna zā'idah,' tapi sebaiknya tidak usah dijelaskan di sini sebab jenis satu ini jarang sekali ditemui.

‘Kāna’ jenis pertama adalah sinonim dengan ‘hashala’ dan ‘hadatsa.’  Secara kebahasaan, ‘kāna’ jenis ini berfungsi seperti fi’il lāzim (kata kerja intransitif) pada umumnya.

Adapun ‘kāna’ jenis kedua adalah salah satu ‘āmil nawāsikh--sebuah topik yang khas bahasa Arab, seperti dikemukakan di muka. ‘Kāna’ jenis ini membuat isim khabar (predikat dalam susunan kalimat nominal) berharakat fathah.

‘Kāna’ bisa berfungsi sebagai ‘āmil nawāsikh dalam berbagai bentuk fi'il, baik fi’il mādlī, fi'il mudlāri' maupun fi'il amr. Kiranya ini tidak perlu dikasih contoh, sebab ini mudah sekali ditemui.

Sebaliknya, kāna bentuk isim juga bisa berfungsi sebagai 'āmil nawāsikh, namun terbatas pada isim mashdar dan isim fā'il semata. Kasus kāna isim fā'il tampaknya cukup langka dan jarang ditemui, misalnya seperti ini:

وما كُلُّ مَن يُبْدي البشاشَةَ كائنًا 🔘 أخاك إذا لم تُلْفه لك مُنْجدا

Lafaz ‘kā’inan’ (كائنًا) di atas berbentuk isim fā'il dan ia berfungsi sebagai 'āmil nawāsikh.

Adapun kāna yang berbentuk isim mashdar, kasusnya lebih lumrah dan mudah ditemui. Contohnya adalah seperti redaksi yang oleh Khoiruddin dianggap musykil di atas.

Penjelasan singkat tentang kāna ini semoga sudah memadai untuk dijadikan media pemetaan dan diagnosis. Singkat kata begini: pertanyaan Khoiruddin (di mana isimnya kāna?) itu sudah didukung oleh pemetaan yang tepat, yakni bahwa lafaz ‘al-kawn’ memang berfungsi sebagai 'āmil nawāsikh yang membuat mubtadā’ dibaca rafa’ dan khabarnya dibaca nashab.

Jadi, berikutnya kita fokus ke musykil di atas: di mana isimnya kāna?

*** 

Untuk menjawab kemusykilan ini, perlu kiranya kita menengok sebentar topik “isim yang ber-’amal seperti fi’il” (al-asmā ta’mal ‘amal fi’l). Sebenarnya topik ini bukan khas bahasa Arab, dalam bahasa lain juga ada topik ini namun format dan perinciannya tidak serupa.

$ads={2}

Dalam bahasa Arab, ‘jumlah fi’liyyah’ (kalimat verbal) biasanya tersusun dari: verba (predikat) + subjek + objek. Jadi predikatnya berupa kata kerja (fi’il). Namun ada kasus-kasus tertentu di mana predikatnya berupa kata benda (isim). Isim inilah yang dalam Ilmu Nahwu diistilahkan dengan “isim yang ber-’amal seperti fi’il” (al-asmā ta’mal amal fi’l).

Ada beberapa isim yang bisa ber-’amal seperti fi’il, di antaranya adalah isim mashdar. Para ahli Nahwu sudah merumuskan tiga komposisi yang memungkinkan isim mashdar ber-’amal seperti fi’il: (1) dengan idlāfah, (2) dengan membaca isim mashdar tersebut dengan tanwin, dan (3) dengan memasukkan artikel ‘al’ (ال) pada isim mashdar tersebut.

Dalam rangka menjawab musykil di atas, kita akan fokus pada komposisi nomor 3 saja. Contoh komposisi nomor 3 itu seperti ini.

ناصرتُ صديقي كالنصرِ الأهلَ

Artinya: “Aku menolong temanku seperti menolong keluarga sendiri.”

Lafaz (النصرِ) adalah isim mashdar yang ber-’amal seperti fi’il, karena lafaz sesudahnya, yakni lafaz (الأهلَ), adalah maf’ūl bih (مفعول به) darinya. Lalu, di mana fā’ilnya? Fā’ilnya adalah dlamīr-tersembunyi (ضمير مستتر) yang serupa dengan dlamīr bāriz (ضمير بارز) dalam lafaz (ناصرتُ). Jika fā’ilnya ditampakkan, maka contohnya itu jadi seperti berikut ini. 

ناصرتُ صديقي كنَصْرِيْ الأهلَ

Perhatikan contoh terakhir ini. Artikel ‘al’ jadi menghilang karena dlamīr-nya ditampakkan dan ia berfungsi sebagai mudlāf ilayh (مضاف إليه). Pada saat fā’il yang berupa dlamīr pada contoh kedua ini disembunyikan, maka lafaz nashr (نصر) dikasih artikel ‘al’ (ال) untuk menunjukkan bahwa tindakan itu sudah disebutkan di muka. ‘Al’ yang demikian disebut ‘al li al-’ahd al-dzikr (ال للعهد الذكري).

Kalau ini sudah jelas, maka kita sekarang bisa masuk ke inti persoalan yang hendak dibahas oleh tulisan ini. Redaksi yang dianggap musykil oleh Khoiruddin di atas pada dasarnya berlaku kaidah serupa. Lafaz al-kawn (الكون) dalam redaksi itu adalah isim mashdar yang ber-’amal seperti fi’il. Oleh karena fi’il dari lafaz itu berupa ‘kāna nāqish’, maka ‘amalnya adalah menjadikan khabar dibaca nashab.

Jadi, bisa disimpulkan, lafaz al-kawn (الكون) adalah isim mashdar yang ber-’amal seperti fi’il nāqish. Isimnya adalah dlamīr mustatir yang dikonversi menjadi artikel ‘al’. Khabar-nya adalah lafaz ‘qādiran’ (قادرًا).

Demikianlah, jawabannya sudah ketemu, problem solving sudah didapati. Penjelasan di atas memang terkesan berbelit-belit dan tidak to the point. Tapi, besar harapan, semoga ada titik terang.[]

Keterangan gambar: Manuskrip Rihlah Ibn Batutah yang tersimpan di Neues Museum, Berlin.

Oleh: Ustadz Muhammad Hilal

Demikian Artikel " Pengertian Isim Kāna beserta contohnya "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama