Pidato Seorang Tokoh Mengatasnamakan Bangsa dan Umat

PIDATO SEORANG TOKOH MENGATASNAMAKAN BANGSA DAN UMAT

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Sering kita mendengar pidato atau penyampaian sebagian tokoh yang berbunyi: "Atas nama bangsa..." atau: "Atas nama umat...", atau pada level-level yang lebih rendah seperti lembaga dan sejenisnya: "Atas nama Majlis anu...", "Atas nama Perguruan anu..." dan seterusnya. 

$ads={1}

Pertanyaan yang perlu dilontarkan adalah: Benarkah semua orang yang berada dalam wadah label yang disebut sudah diminta pendapat atau menyetujui pernyataan yang disampaikan? Sudahkah sang pembicara meminta pendapat semua orang yang berada dalam kategori 'bangsa' untuk kemudian berbicara atas nama mereka? Sudahkah sang penceramah meyakini bahwa semua yang masuk dalam kategori 'umat' akan mengiyakan pendapatnya? 

Kalau tidak, dan ini yang sering terjadi, kenapa berani mengatasnamakan orang lain yang belum tentu sependapat? Kenapa tidak berbicara atas nama pribadi saja? 

Ada beberapa penyebab:

1. Karena ingin mendapatkan kekuatan dan pengaruh yang lebih dahsyat dengan mengatasnamakan orang banyak, sehingga diharapkan pendapat atau pernyataannya tidak mudah dikritik atau dibantah. Kalau dibantah maka orang yang membantah akan ditodong dengan pertanyaan: "Apakah anda tidak sependapat dengan 'umat'? Apakah anda akan berbeda dengan 'bangsa'?" Padahal semua itu hanya retorika belaka.

2. Karena ia menganggap bahwa 'bangsa' atau 'umat' tentu akan sependapat saja dengannya, karena mereka tidak sehebat dan sepintar dia, jadi apapun yang ia lontarkan 'rasanya' tidak ada yang akan menentang. Dan hal ini disamping menunjukkan kesombongan pribadi juga menampakkan peremehan terhadap pikiran orang lain.

$ads={2}

3. Karena ini sudah hal yang lumrah. Ketika dihadapkan padanya pertanyaan-pertanyaan di atas ia akan mengelak sambil bertanya: "Memang apa salahnya saya memakai bahasa seperti itu? Toh yang lain-lain juga banyak yang menggunakan bahasa yang serupa, dan selama ini aman-aman saja...". Ia lupa kalau sesuatu yang lumrah dan sudah biasa tidak serta merta merupakan sesuatu yang benar dan dapat diterima. Mungkin pernyataan-pernyataan seperti itu tidak masalah bagi yang malas berpikir dan menganalisa, tapi ia adalah penghinaan dan pengabaian bagi yang terbiasa berpikir menggunakan otak sendiri (bukan otak orang lain), dan ingin agar pendapatnya dihargai dan didengar. Wallahu a'lam

(renungan pagi di Perak-Malaysia sebelum pembukaan camp tahfizh).

Oleh: Ustadz Yendri Junaidi

Demikian Artikel " Pidato Seorang Tokoh Mengatasnamakan Bangsa dan Umat "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah - 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama