Dahulukan Tata Krama Sebelum Mengenakan Pakaian Sunnah

 

DAHULUKAN TATA KRAMA SEBELUM MENGENAKAN PAKAIAN SUNNAH

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Di zaman saat ini, mungkin kerap kali kita melihat ada kaum muslimin yang fakir ilmu terhadap agama, namun ia telah menggunakan surban, jubah dan lain-lain layaknya orang alim. Mereka mengatakan bahwa pakaian yang mereka kenakan untuk menjalankan sunnah Nabi Muhammad SAW. Padahal ada sunnah yang lebih diperioritaskan dibandingkan pakaian sunnah yang dikenakannya, yakni tata krama/adab dan akhlak.

وقد روي عن النبي صلعم انه امر اصحابه ان لايقوموا اذا مر بهم. فمر يوما بحسان رضي الله عنه فقام وانشد: قيامي للعزيز علي فرض وترك الفرض ماهو مستقيم عجبت لمن له عقل وفهم يرى هذا الجمال ولا يقوم. وقد اقره المصطفى صلعم على ذلك.وفيه حجة لمن قال: ان مراعاة الادب خير من امتثال الامر. (اعانة الطالبين ج 3 ص 305)

Salah satu aturan syariat yang tidak baku adalah tentang bagaimana tatacara menghormati orang-orang yang harus kita hormati dan bagaimana model berpakaian. Yang ada adalah perintah wajib menghormati dan bertatakrama terhadap orang tua, guru, para ulama dll. Tanpa ada perincian baku bagaimana kita melakukannya.

Demikian pula masalah berpakaian. Yang ada adalah kewajiban menutupi aurat yang perinciannya disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Semisal aurot saat sholat, dihadapan orang yang bukan mahrom dll. Tidak ada aturan tentang bagaimana modelnya.

$ads={1}

Satu sisi Rosulillah SAW adalah pribadi yang sempurna, sehingga segala perintah dan yang dilakukan seremeh apapun tetap patut ditaati dan ditiru, karena beliau adalah uswatun hasanah bagi umatnya.

Lalu bagaimana jika prilaku atau perintah Rosul SAW belum dilakukan justru berlawanan atau melanggar adab dan tatakrama didaerah dimana kita tinggal ?

Jawabnya adalah kita tetap menjaga adab dan tatakrama itu, sekalipun tidak sesuai dengan perintah atau yang diajarkan Rosul SAW.

Seperti:

1. Rosul SAW (sesuai tatakrama di Arab) mengajarkan makan dengan cara jigang (duduk dengan salah satu lutut berdiri tegak), dimana cara seperti ini justru tidak beretika di Jawa, apalagi dihadapan ortu/orang yang mulia. Sehingga afdlolnya tetap duduk bersila.

2. Dalam berpakaian Rosul SAW dan para sahabat nabi RA mengajarkan pakai Jubah dan Surban. Dimana hal ini justru berlawanan dengan etika dan adab berpakaian kita orang Jawa, kecuali Ahlulfadli (Orang Alim dalam kapasitas tertentu). Apalagi yg memakai adalah orang-orang awam dan dihadapan orang-orang Alim. Yang afdlol adalah tetap disesuaikan dengan tatakrama, misal kita orang Jawa afdlolnya pakai Kemeja, Baju taqwa, sarung dll. Asalkan sesuai dengan standar menutup aurot. Hal ini seperti yang diajarkan sebagian wali songo penyebar Islam di Jawa.

$ads={2}

Hadits diatas menjadi salah satu hujjah tentang pilihan kita. Dimana dalam hadits tersebut Rosul SAW mewanti-wanti para Shohabat (karena tawadlu'nya) untuk tidak berdiri saat beliau lewat. Namun apa yang dilakukan Shohabat Hissan RA saat Rosulillah hadir/lewat untuk tetap berdiri memberi hormat (sekalipun mengabaikan perintah beliau), ternyata sangat dipuji oleh Rosul SAW. Dari hadits ini sehingga ulama menyimpulkan "Menjaga adab dan tatakrama lebih utama dibanding mengikuti perintah (Jika perintah itu melanggar tata krama)". 

Kalau begitu, masihkah kita mau mengikuti atau paling tidak simpati pada orang-orang awam yang dengan pede berjubah dan bersurban dengan alasan meniru Nabi dan para sahabatNya?

Wallohu al-Musta'an.

(Kyai Zahro Wardi, PP Darussalam, Sumberingin, Trenggalek / Rumah Muslimin)

Demikian Artikel " Dahulukan Tata Krama Sebelum Mengenakan Pakaian Sunnah "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah - 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama