Sejarah, Dalil, Kesunnahan dan Pertanyaan mengenai Maulid Nabi

SEJARAH, DALIL, KESUNNAHAN DAN PERTANYAAN MENGENAI MAULID NABI

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Setiap memasuki bulan maulid yakni bulan Rabiul Awal pasti ada saja kelompok anti maulid yang menyebarkan flyer dan artikel berisikan penolakan bahkan fitnah kepada kaum muslimin yang merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Secara sederhana, arti maulid Nabi itu sendiri adalah memperingati hari kelahirannya Nabi Muhammad SAW. Rasulullah SAW merayakan hari lahirnya dengan berpuasa di hari senin, di mana hari senin adalah hari di mana Nabi Muhammad SAW dilahirkan. begitupun para pengikutnya, mereka yang senang atas lahirnya Nabi Muhammad SAW juga berpuasa pada hari senin. namun itu pada "hari" nya saja bukan pada bulan dan tahun lahirnya.

Kelompok yang menolak perayaan Maulid Nabi ini, mereka menolak karena diperingati setiap tahun saja. mereka berhujjah, jika ingin merayakan kelahiran Nabi, maka berpuasalah setiap hari senin. Padahal hal itu tidak perlu diberitahupun juga kita memahami dan menjalaninya, sebab kenapa Rasul berpuasa pada hari senin kami pun mengetahui asbabul wurudnya. seakan-akan apa yang disampaikan kita tidak memahami hakikat puasa pada hari senin, sungguh sombongnya kelompok islam tersebut.

Kenapa Perayaan Maulid Nabi tidak hari Senin?

Sebenarnya melaksanakan maulid boleh kapan saja. Rasulullah bersabda:

" Maka Allah mengasihani seseorang yang menjadikan hari kelahirannya sebagai hari raya (untuk mensyukuri_ agar menjadi penyakit yang parah bagi orang yang di hatinya terdapat penyakit". Kelahiran Nabi Muhammad merupakan kelahiran yang istimewa karena pada bulan ini tidak ada perayaan lain selain kelahirannya.

Sementara kalau kita lihat bulan lain terdapat banyak keistimewaannya. Oleh karena itu ini menunjukkan bahwa keagungannya secara Istiqlaiiyah atau terkhusus kepada beliau saja.

$ads={1}

Siapa yang merayakan Maulid Nabi Pertama kali?

Abu Lahab adalah sosok pertama yang merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Di setiap hari Senin, Abu Lahab diringankan siksanya, karena ia senang atas kelahiran Nabi SAW, bahkan Abu Lahab memerdekakan budak perempuannya, Tsuwaibah al-Aslamiyyah untuk menyusui Nabi.  Dalam Shahih al-Bukhari disebutkan:  

“Urwah berkata, Tsuwaibah adalah budak Abu Lahab. Ia dimerdekakan oleh Abu Lahab, untuk kemudian menyusui Nabi. Ketika Abu Lahab meninggal, sebagian keluarganya bermimpi bahwa Abu Lahab mendapatkan siksa yang buruk.

Di dalam mimpi itu, Abu Lahab ditanya. Apa yang engkau temui? Abu Lahab menjawab, aku tidak bertemu siapa-siapa, hanya aku mendapatkan keringanan di hari Senin karena aku telah memerdekakan Tsuwaibah.” 

Hadits ini disebutkan diberbagai kitab oleh para alim ulama. Meski merupakan hadits mursal, namun hadits ini tetap dapat diterima riwayatnya.

Apakah Sahabat Nabi merayakan Maulid Nabi?

Jika para sahabat radhiyallahu anhum tidak merayakan maulid Nabi, itu dikarenakan Nabi telah ada di dalam hati mereka. Perjumpaan mereka yang intensif dengan Sang Nabi, membuat memori dan hati mereka dipenuhi figur Sang Nabi. Tidak ada cinta lain di dalam hati mereka selain cinta kepada Sang Nabi. Kuatnya kecintaan itu membuat mereka rela mati demi Sang Nabi. Setelah Sang Nabi wafat, ingatan dan kesan terhadap Sang Nabi tidak ikut mati di dalam hati mereka. Bahkan mereka masih menganggap Sang Nabi masih hidup bersama mereka. Sikap itu merupakan buah dari ucapan Sang Nabi: 

فَإِنَّ الْأَنْبِياَ أَحْيَاءٌ فِي قُبُوْرِهِمْ

Para nabi itu hidup di alam kubur mereka

تُعْرَضُ عَلَيَّ أَعْمَالُكُمْ

(Setelah aku wafat nanti) diperlihatkan kepadaku semua amal kalian 

(Riwayat al-Baihaqi)

Demikian pula dengan generasi sesudah mereka, para tabi'in dan atba'ut tabi'in. Sang Nabi telah mendoakan keberkahan bagi mereka melalui ucapannya; 

خير القرون قَرنِي ثُمّ يَلُونَه ثُمَّ يَلُونَهُ ثُمَّ يَلُوْنَهُ

Sebaik-baik masa adalah masa di mana aku hidup, lalu setelahnya, lalu setelahnya dan setelahnya..

Jaminan keberkahan masa itu tidak Nabi berikan kepada generasi akhir zaman. Namun bukan berarti umat akhir zaman ini diam tidak melakukan apapun untuk menggapai dzauq (cita rasa) kecintaan kepada Sang Nabi. Mengamalkan sunnah Sang Nabi jelas merupakan kewajiban. Tapi kewajiban itu tidak terasa manis jika tidak diungkapkan ke dalam sebait syair yang membangkitkan perasaan rindu dan cinta kepada Sang Nabi. 

Hati umat akhir zaman ini telah dikuasai oleh kerak kemewahan dunia yang dilaknat. Ungkapan sholawat dan pujian kepada Sang Nabi dibutuhkan untuk mengikis karat dunia yang begitu tebal. 

وَلَنَا الْبُشْرَى بِسَعْدٍ  مُسْتَمِرٍّ لَيْسَ يَنْفَد

اِذْ حَبَانَا بِوُجُوْدِ      المصطَفَى الْهَادى محمد

Kegembiraan dan kebahagiaan yang langgeng

Terlimpah bagi kita

Yaitu ketika Allah menunjukkan cinta-Nya kepada kita dengan kehadiran sang terpilih yang membawa petunjuk, Nabi Muhammad...

Oleh: KH. Abdi Kurnia Djohan

$ads={2}

Apakah Imam Mazhab, Imam hadits merayakan Maulid Nabi?

Para Imam Mazhab dan Imam Hadits tidak pernah menolak perayaan Maulid Nabi SAW. mereka tak melakukannya bukan karena tak suka atau anti terhadapnya, tapi karena hal semacam ini tak terpikirkan di masa itu. Oleh sebab itu tidak bisa menyimpulkan bahwa para imam mazhab dan hadits anti maulid, sedangkan Maulid Nabi SAW saja belum ada di zaman itu.

Amalan Apa yang dilakukan di acara Maulid Nabi?

Pada Acara Maulid Nabi Muhammad SAW. Tidak ada sedikitpun amalan yang bid'ah. Bahkan isinya adalah amalan-amalan Sunnah Nabi SAW. Seperti Membaca Sholawat, Sirah Nabi, Berdzikir, Doa bersama, Silaturahmi dan amalan lainnya. Jadi jika hal tersebut dianggap bid'ah maka sesungguhnya orang itu telah membid'ahkan perkataannya sendiri.

Karena Nabi dan Para Sahabat tidak mengerjakanBerarti Maulid Perbuatan Bid'ah?

Tidak ada dalil yang mengkhususkan Maulid bukan berarti BID'AH. jadi harus paham dulu apa itu BID'AH sendiri!

Apa itu Bid'ah?

Imam asy-Syafi’i berkata:

كل ما له مستند من الشرع فليس ببدعة ولو لم يعمل به السلف

“Setiap yang memiliki sandaran dari syariat maka itu tidak bid’ah meskipun tidak pernah diamalkan oleh salaf.”

Imam Abu Abdillah at-Tilmsani dalam kitab Miftah al-Wushul berkata: 

ويلحق بالفعل فى الدلالة الترك ، فإنه كما يستدل بفعله على عدم التحريم يستدل بتركه على عدم الوجوب

“Sama dengan perbuatan (fi’il) dalam hal ini adalah at-tark (sesuatu yang ditinggalkan). Sebagaimana perbuatan Nabi dijadikan sebagai dalil bahwa perbuatan itu tidak haram dilakukan, demikian juga dari peninggalan Nabi juga dijadikan dalil bahwa perbuatan itu tidak wajib dilakukan.”

Imam Abu Said ibnu Lubb, seorang ulama Ushul, ketika membantah pendapat yang memakruhkan berdoa selesai shalat, berkata :

غاية ما يستند إليه منكر الدعاء أدبار الصلوات أن التزامه على ذلك الوجه لم يكن من عمل السلف ، وعلى تقدير صحة هذا النقل فالترك ليس بموجب الحكم فى ذلك المتروك إلا جواز الترك وانتفاء الحرج فيه ، وأما تحريم أو لصوق كراهية بالمتروك فلا ، ولاسيما فيما له أصل جملي متقرر من الشرع كالدعاء 

“Alasan yang digunakan oleh orang yang mengingkari doa setiap selesai shalat adalah ‘merutinkan hal ini dalam bentuk tertentu tidak pernah dilakukan oleh salaf’. Meskipun penukilan ini benar (bahwa para salaf memang tidak pernah melakukan hal tersebut) namun ‘meninggalkan’ (at-tark) tidak memberikan dampak apa-apa terhadap perbuatan yang ditinggalkan kecuali bahwa perbuatan itu boleh ditinggalkan. Adapun memberi label haram atau makruh pada perbuatan yang ditinggalkan tersebut, ini tidak bisa. Apalagi untuk perbuatan yang memiliki dasar secara umum dalam syariat seperti masalah doa.”
Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa melakukan shalat sunat dua rakaat sebelum Maghrib hukumnya makruh. Ini karena Abu Bakar, Umar dan Utsman radhiyallahu ‘anhum tidak pernah melakukannya. Pendapat ini dibantah oleh Ibnu Hazm dalam kitab al-Muhalla. Ia berkata:

لو صح لما كانت فيه حجة لأنه ليس فيه أنهم رضي الله عنهم نهوا عنهما

“Kalaupun benar mereka tidak pernah melakukannya namun hal ini tidak bisa menjadi hujjah, karena mereka pun juga tidak melarang itu dilakukan.” 

Kesimpulan

Jika menyimpulkan secara menyeluruh. Maka Maulid Nabi Muhammad SAW bukanlah perbuatan yang baru ataupun bid'ah dalam agama ini. Apalagi kegiatan acara ini isinya adalah amalan-amalan Sunnah yang dapat mengenalkan kepada orang awam bagaimana kepribadian Rasulullah SAW, bagaimana Sikapnya dan tentunya untuk membangkitkan rasa mahabbah kita kepada Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam.

Semoga penjelasan mengenai " Sejarah, Dalil, Kesunnahan dan Pertanyaan mengenai Maulid Nabi " bermanfaat dan dapat dipahami dengan baik oleh kaum muslimin.

Ditulis dan dirangkum oleh: Hendra, S

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama