Tingkatan-tingkatan Hamilul Qur'an

TINGKATAN-TINGKATAN HAMILUL QUR'AN

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Imam Abu Bakar bin Mujahid (Ulama yang pertama kali mengkodifikasikan Qiraat Sab'ah) mengklasifikasikan para Hamilul Qur'an (dari segi kualitas bacaan dan kelayakannya mengajar Al Qur'an) menjadi 4 tingkatan ;

1. Seorang mu'rib (yang tahu varian-varian i'rab kalimat-kalimat Al Qur'an), juga menguasai ilmu Qira'at, menguasai ilmu lughoh atau tata bahasa Arab dan tahu makna Kalam Al Qur'an, seorang 'alim yang tahu dengan teliti setiap cacat bacaan lafadz yang tidak sesuai dengan riwayat.

Ini namanya Hamilul Qur'an sejati, yang harus menjadi rujukan bagi semua huffadz.

$ads={1}

2. Orang yang bisa mengi'rab Al Qur'an dan bacaannya juga tidak ada yang lahn/ salah, tapi hanya dua itu saja yang ia kuasai (artinya ia tidak menguasai wajah-wajah qira'at). Ia ibarat orang Arab Badui yang hanya bisa membaca dengan lughoh mereka sendiri, ia tidak mampu mengubah logat lisannya, karena sudah menjadi tabiat kalam mereka.

3. Orang yang hanya membaca sesuai apa yang telah ia pelajari dan riwayatkan dari gurunya, karena hanya itu yang ia tahu. Ia tidak paham tentang ilmu i'rab, tidak tahu tentang ilmu qira'at, tidak juga tahu maknanya. Ia murni Hafidz, penghafal saja. Orang seperti ini beresiko salah-salah bacaannya seiring berjalannya waktu karena tertukar-tukarnya harakat-harakat i'rab tanpa ia sadari sebab ia tidak menguasai ilmunya, apalagi ia juga tidak paham maknanya, ia hanya mengandalkan hafalan dan apa yang pernah ia dengar saja. Kesalahan yang tanpa ia sadari seperti itu akan semakin berbahaya jika ia sudah kadung dipercaya oleh orang awam lainnya dan mereka mengaji kepadanya. 

Maka orang dengan kriteria seperti ini sudah seharusnya tidak dijadikan guru mengaji Al Qur'an.

4. Orang yang menguasai ilmu i'rab, tahu makna Kalam Al Qur'an, juga pandai ilmu gramatika bahasa Arab, akan tetapi ia tidak tahu ilmu Qira'at, tidak tahu varian-varian Qira'at, dan tidak tahu bacaan-bacaan ghorib, (karena tidak pernah mengaji kepada ulama ahli bacaan Al Qur'an, sedangkan belajar Al Qur'an tidak bisa dengan hanya otodidak). Orang seperti ini bisa saja bacaannya memang tidak menyalahi kaidah bahasa Arab, akan tetapi kadang tidak sesuai dengan kaidah ilmu Qira'at, karena ternyata tidak ada Imam Qira'at yang meriwayatkan seperti yang ia baca, sehingga ia berarti telah berbuat bid'ah.

$ads={2}

Syech Abu Muhammad Al Qoisiy berkata : "Seorang pelajar Al Qur'an tidak selayaknya belajar membaca Al Qur'an pada orang yang demikian itu kriterianya."

Dari kitab Ar Ri'ayah, Imam Makki Abi Thalib Al Qaisi.

Kitab Ar Ri'ayah adalah diantara kitab tajwid yang pertama kali ditulis oleh ulama. Karya Imam Makki. 

Oleh: Ustadz Ahmad Atho

Demikian Artikel " Tingkatan-tingkatan Hamilul Qur'an "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama