Jangan Mendahulukan Kepentingan Pribadi daripada perintah Masyayikh

JANGAN MENDAHULUKAN KEPENTINGAN PRIBADI DARIPADA PERINTAH MASYAYIKH

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Salah satu yang paling saya sesali dalam hidup adalah mendahulukan kepentingan pribadi daripada perintah Masyayikh. Itu satu kali. Tapi membekas di hati hingga kini. Ya, Allah.

Iya, waktu itu ada sidang pondok yang menghadirkan Masyayikh dengan undangan terbatas. Santri yang membantupun juga dipilihi hanya beberapa orang, salah satunya adalah hamba.

Ndilalah, waktu sidang berbarengan dengan acara kawan sekelas. Pikiran cupet saya hampir duapuluh tahun lalu adalah: “Kalau sidang dengan masyayikh, repot; gak bisa santai. Beda dengan rombongan bersama kawan-kawan; bisa lepas, hura-hura, tertawa pun tak ada yang melarang, ngemil-ngrokok, loshhh!” Dan keputusan akhir, hamba bergelanyutan di bis, terbahak dengan teman seangkatan.

$ads={1}

Setelahnya, sidang penting seperti itu yang menghadirkan Masyayikh, saya sama sekali tak di undang, satu kalipun!

Padahal sejak dahulu saya selalu mengedepankan: Mikir sebelum bertindak. Walaupun katanya  kesalahan-kesalahan bisa mendewasakan seseorang. Namun, sesekali jika teringat, terasa perih, seperti tergores sembilu. Ngapunten ingkang kathah almukarramun Masyayikh dan guru-guruku.

Lahumul Faatihah …

Dan percaya atau tidak, semua yang dulu pernah saya lakukan, kembali menghantam diri ini satu persatu ples “bunganya” hingga sekarang, yang semoga menjadi pelebur suul adab ini. Amin.

أدب الدنيا والدين - (ج 1 / ص 75) أبو الحسن علي بن محمد بن محمد بن حبيب البصري البغدادي، الشهير بالماوردي (المتوفى: 450هـ)

اعْلَمْ أَنَّ لِلْمُتَعَلِّمِ تَمَلُّقًا وَتَذَلُّلًا فَإِنْ اسْتَعْمَلَهُمَا غَنِمَ, وَإِنْ تَرَكَهُمَا حُرِمَ لِأَنَّ التَّمَلُّقَ لِلْعَالِمِ يُظْهِرُ مَكْنُونَ عَمَلِهِ, وَالتَّذَلُّلَ لَهُ سَبَبٌ لِإِدَامَةِ صَبْرِهِ. وَبِإِظْهَارِ مَكْنُونِهِ تَكُونُ الْفَائِدَةُ وَبِاسْتِدَامَةِ صَبْرِهِ يَكُونُ الْإِكْثَارُ. وَقَدْ رَوَى مُعَاذٌ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: لَيْسَ مِنْ أَخْلَاقِ الْمُؤْمِنِ الْمَلَقُ إلَّا فِي طَلَبِ الْعِلْمِ. وَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: ذَلَلْت طَالِبًا فَعَزَزْت مَطْلُوبًا. وَقَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ: مَنْ لَمْ يَحْتَمِلْ ذُلَّ التَّعَلُّمِ سَاعَةً بَقِيَ فِي ذُلِّ الْجَهْلِ أَبَدًا.

Kata Imam Mawardi (W. 450 H.): “Ketahuilah! Bagi pelajar --kepada gurunya--, seyogjanya mempunyai sifat tamalluq (merayu, memuji berlebihan, menyanjung, membujuk, mengambil muka, menjilat) dan tadzallul (merendahkan diri, menghinakan diri. Al Jami’ Lil Ma’ani). Ketika dia mempraktekkannya, niscaya akan mendapat jarahan --ilmu--, dan jika meninggalkan keduanya, akan di halang-halangi --keberkahan ilmu--. 

Karena sifat tamalluq pada guru akan menampakkan simpanan amal pengajarnya itu. Tadzallul menjadi sebab kesabaran gurunya terus-menerus. Dengan menampakkan simpanan amalnya, akan muncul berbagai macam faidah. Dan dengan kesabaran yang terus menerus, akan memperbanyak ilmu yang di peroleh dari gurunya.

$ads={2}

Sungguh! Sahabat Mu’adz RA. meriwayatkan dari Baginda Nabi shallallahu alaihi wasallam yang bersabda: “Tamalluq, bukan akhlaq mukmin, kecuali dalam masalah mencari ilmu”

Sahabat Abdullah bin Abbas RA. bekata: “Rendahkanlah diri kalian waktu menjadi pelajar, niscaya kelak kau akan mulia nan di cari --para pelajar setelahmu--“.

Sebagian ahli hikmah berkata: “Yang tidak sanggup menahan sejenak kerendahan diri waktu mencari ilmu, maka akan terperangkap dalam keterpurukan sifat bodoh, selamanya!”

Wallahu A’lam bis-Shawaab

Jum’ah Mubaarakah.

Oleh: Ustadz Robert Azmi

Demikian Artikel " Jangan Mendahulukan Kepentingan Pribadi daripada perintah Masyayikh "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama