Sikap Seorang Kyai kepada Santrinya

SIKAP SEORANG KYAI KEPADA SANTRINYA

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Beberapa waktu lalu melihat video ceramah almukarram Mbah Yai Musthafa Bisri tentang keistimewaan almarhum almaghfurlah Mbah Yai Marzuki Dahlan Lirboyo yang tahu keinginannya mengambil tebu beliau.

Kemaren sore, setelah jamaah ashar, di cegat senior alumni yang kemudian menceritakan ketaklukannya pada almarhum Mbah Yai desa kami. Katanya, dia hanya di guyur air “kehidupan” subuh jika malamnya begadang tapi cuma ngobrol nggak jelas, namun jika malamnya mentelaah kitab, waktu kawan lainnya keguyur, ia selamat, dan itu berulangkali!. 

$ads={1}

Selain itu, yang aneh katanya, waktu menghafal nadzam alfiyyah kurang sebelas bait malah disuruh berhenti, kata Mbah Yai: “Kamu hafalkan kitab Taqrib saja! Sebab besok yang berguna dirumahnmu ya Taqrib itu!”. Ternyata betul, dirumah ia jadi pengampu kitab Taqrib di pengajian desanya. Dan terakhir di doakan, “Kalautoh kamu tidak ngalim, kudoakan anak-anakmu cerdas”. Benar juga kedua putrinya mulai kelas satu SD hingga jenjang sekolah tinggi, langganan juara satu!

Belum lagi kisah yang katanya Mbah Yai desa kami tahu ketika dia sakit pas pulang kerumah, sembuh. Dan kamar mana yang berisi jin, padahal dengan telinga sendiri saya mendengar beliau berkata: “Akui kalah karo mantuku sing iso nyuwuk! Aku gak iso”. Serta setelah kewafatannya, Mbah Yai sering mengunjungi para alumni dalam mimpi mereka dengan berbagai petuah dan teguran.

Hamba yang di critani hanya manggut-manggut diam, sembari sesekali tersenyum, namun fikiran melayang kemana-mana. Apalagi kata alumni itu: “Abah pernah langsung berpesan kepada saya: Tidak usah tirakat aneh-aneh. Tirakate wong golek ilmu iku, ngaji, belajar!”

“Lhaiya”, batinku kemaren, “Sejak zaman dahulu kala sudah sunnatullah kalau berjuang dalam agama kudu punya beberapa kemampuan; ilmu, pengaruh, ketajaman hati, dan ruuhul jihad. Entah berapa kali Kanjeng Nabi shallallahu alaihi wasallam menampakkan mukjizat guna mengislamkan para sahabat, selain keindahannya menutur dan mengamalkan Firman Allah Ta’ala. Kata orang jawa: Nek pingin dadi Kyai ampuh, minim kudu nduwe telung perkoro iki; Ilmu ateges iso moco kitab kuning ples ngamalke, apal Qur’an Hadis, njur jadug! Nek mung iso salah siji, yo dadi Kyai, tapi kurang ampuh! 

Namun, dizaman Mbah Yai desa kami masih hidup, apakah santri manut semua?! Tidak! Itu terpampang jelas dalam ingatan saya; Ada yang tidur di guyur seember air untuk shalat, tapi hanya ganti baju dan pindah tempat lain. Ada yang membuat beliau menangis hebat. Bahkan ada yang terpaksa di keluarkan dari pondok karena pacaran dan ndak mau di kasih solusi menikahi kekasihnya. Apakah masyarakat sekitar baik semua?! Tidak juga. Ada yang baik, pun pula sebaliknya. Apakah santri banyak?! Kalau dibanding sekarang, jika di total keseluruhan sampai pondok cabang, malah banyak sekarang. Bangunannya? Megah sekarang, apalagi pondok putri!”

Lalu, kadang kuberfikir: “Yang berat itu mengikuti tindak lampah beliau, walau beberapa prosen! Shalat jamaah aktif, bermasyarakat interaktif, tak lekang baca Qur’an-hadis-ngaji, sedekah, zakat, bergumul santai dengan pejabat, dan tenang menghadapi gelombang massa yang masif. Tapi yang membuat sedikit lega. Semerosot apapun seorang penerus. Gusti Allah Ta’ala tetap memberinya jalan, karena Agama ini di jagaNya”

$ads={2}

Sebab semua orang punya medan perjuangan sendiri. Semua orang punya cara menyelesaikan masalahnya sendiri. Kita boleh kagum dengan orang dahulu dan meneladaninya. Tapi, tabu! Kalau sampai mencaci penerusnya yang dalam pandangan mata seakan tidak sama dengan mereka. E, jangan-jangan kalau kita hidup di masa beliau-beliau yang ampuh itu, bukan jadi penguatnya, tapi malah motor penggerak kehancurannya.

Ingat sekali Mbah Yai desa kami pernah berkata: “Santri kui rezeki, nek ono di openi sak kuate. Okeh balaku sing luweh alim tapi ra diparingi rizki santri”.

Oleh: Ustadz Robert Azmi

Demikian Artikel " Sikap Seorang Kyai kepada Santrinya "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama