Biografi Syaikh Said Ramadhan Al Buthi dan Nasihatnya

BIOGGRAFI SYAIKH RAMADHAN AL BUTHI DAN NASIHATNYA

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Saat ketibaan saya di Damaskus, ada dua ulama besar sempat saya ketemu dan duduk di majlis taklimnya namun hanya beberapa kali saja, karena tidak lama setelah itu mereka berpulang ke rahmatullah. Pertama Syeikh Mulla Ramadhan al-Bouti, ayahanda Syeikh Dr. Muhammad Said Ramadhan al-Bouti, diajak oleh akhi tercinta almarhum Ust. Nurhasan Amsar MA,  dan kedua Syeikh Husein Khattab, alim rabbani,  syeikh Qurra belad Syam, diajak akhi Dr. Ahmad Lutfhi Fathullah yang sekarang sedang sakit –semoga Allah swt segera mengangkat penyakitnya. Kebetulan saya, almarhum Nurhasan Amsar dan Ahmad Lutfhi Fathullah pernah satu kamar di asrama mahasiswa Universitas Damaskus. Saya anggap mereka seperti kakak kandung saya sendiri, disamping mereka lebih tua dari saya dan lebih dahulu tiba di Damaskus.

Seperti saya pernah ungkapkan pada postingan sebelumnya bahwa saya suka posting ulama, tak lain karena cinta kepada mereka yang merupakan waratsatul anbiya. Ulama yang alim dan amil, keilmuan dan akhlaknya diakui, sehingga mereka menjadi teladan dan pemicu semangat belajar, mengajar dan berdakwah di jalan Allah bagi umat (kita). Kali ini kita mampir sejenak bersama Syeikh Mulla Ramadhan alBouti -rahimahullah ta’ala-.

Biografi Syekh Muhammad Said Ramadhan Al Buthi

Syeikh Mulla Ramadhan bin Umar alKurdi, alBouti alDimasyqi, lahir pada tahun 1888 di desa Jilka, di daerah jazirah Boutan atau disebut jazerah Ibn Umar, masuk wilayah Anatolia, Turki (perbatasan dengan Suriah dan Irak, wilayah terdapat aliran Sungai Tigris (Dajla). Kemudian ia menuntut ilmu keagamaan terutama Fiqih Syafi’I, Tafsir dan lainnya, termasuk tariqat Naqsyabandi dengan para ulama di daerah sekitarnya.

$ads={1}

Kemudian, dikarenakan penindasan brutal rejim Ataturk Turki, beliau hijrah ke Syam (Damaskus) dan situasi yang sangat sulit dengan seorang istri dan tiga anaknya yang masih kecil, dua perempuan dan satu laki-laki (Dr. Muhammad Said Ramadhan yang waktu itu baru berusia 4 tahun)). Setibanya di Damaskus, mereka tinggal di daerah Akrad, Ruknuddin, , kawasan tempat dimana saya menulis postingan singkat ini.

Dengan modal seadanya Syeikh Mulla bekerja dengan menjual buku-buku yang ia beli dari Damaskus dan ia jual ke daerah Boutan yang mayoritasnya warga Kurdi dan membeli dari Boutan barang-barang yang ia bawa ke Damaskus begitulah seterusnya. Kehidupan mereka sangat sederhana, apa adanya. 

Syeikh Mulla Ramadhan pernah bergabung dalam Ikatan Ulama Damaskus dalam kegiatan keislaman tapi akhirnya lebih mengutamakan beruzlah, dengan tetap berhubungan dengan ulama dan tetap mengajar di masjid atau di rumahnya di derah Akrad. 

Beliau sangat zahid dan wara’ tidak pernah makan sesuatu yang ia anggap meragukan. Ibadah khususnya pada akhir-akhir malam sudah merupakan kebiasaaannya disertai tangisan dalam zikir dan munajat, namun siang hari tetap berdakwah dangan mengajar sesuai waktu yang ia mampu.   

Syeikh Mulla mempunyai 3 (tiga) anak yaitu Zainab, Muhammad Said dan Ruqayyah, tetapi kedua putrinya wafat saat masih kecil, tinggalah Muhammad Said anak satu-satunya. Beliau sangat perhatian dengan pendidikan untuk anak satu-satunya itu, terutama pendidikan agama. Setelah anaknya memasuki usia menjelang remaja lalu dibawa ke Ma’had al-Taujih al-Islami, pimpinan almarhum Syeikh Hasan Habanake. (menurut Dr. Bouti waktu ia tiba disana Ma’had al-Taujih al-Islami belum didirikan), sewaktu Syeikh Mulla membawa Dr. Bouti kecil ke Ma’had untuk menuntut ilmu.

Hari-hari tua ia tetap dapat mengajar hingga mencapai usia lebih dari 100 tahun, hingga pada 20 Syawal 1410 H/15 Maret 1990 beliau dipanggil Allah swt, Ribuan warga Damaskus menyalatkan dan mengantarkan almarhum Syeikh Mulla Ramadhan ke peristirahatan yang terakhir.

Biografi Syeikh Mula masih panjang, yagn ingin tahu lebih banya lagi tentangnya, dapat merujuk kitab Hadza Walidi, karya putranya,  Dr. Muhammad Syeikh Ramadhan alBouti, disitu banyak kisah beliau rahimahuLlhu ta’ala. 

Syeikh Mulla adalah seorang wali Allah, saya tidak ingin menyampaikan kisah-kisah kewaliannya, khawatir ada pihak-pihak yang tidak percaya dengan karomat awliya akan menjadikan bahan tertawa dan ejekan. Saya akan menukil sejumlah wasiat beliau yang ditulis saat sakit untuk anaknya yang masih balita, karena khawatir ia meninggal dan tidak dapat membimbing putra satu-satunya itu maka ia menulis wasiat, [mohon maaf agak panjang sedikit, inipun sudah saya potong] diantara wasiatnya sbb:

- Wahai anakku, jika kamu dengan tulus mengabdi kepada Allah, maka terlebih dahulu kamu harus belajar menuntut ilmu, sebagaimana riwayat: "Allah tidak akan menjadikan wali yang jahil, dan jika dia menjadikan, maka ia akan mengajarkannya." Dan Baginda Rasulullah SAW bersabda: “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim”.

- Anakku, jika kamu ingin belajar, maka bersungguh-sungguhlah pada hari-hari belajarmu, waspada dan jauhkan diri dari segala dosa/maksiat, dan jangan seperti sebagian siswa zaman kini yang kurang menghargai waktu, hingga terkadang mengikuti hawa nafsu mereka pada hari-hari libur, seperti hari Jum'at dan malamnya. Mereka tidak mengetahui bahwa karena banyak bermain, akhirnya terhalang dari kemuliaan dan keutamaan hari itu, tanpa disadari.

- Anakku, ayahmu mewasiatkan untuk mengikuti Kitabullah dan Sunnah Nabi shalallhu alyhi w sallam dalam segala gerakan dan keheninganmu, dan tinggalkan segala yang berbau bid’ah. Berniat secara ikhlas saat kamu belajar, mengajar, atau melakukan apa pun, dan jangan pernah kamu lengah kepada Allah setiap saat.

- Anakku, sucikan dirimu dari segala keburukan dan penyakit hati, seperti amarah, kebencian, iri hati, kesombongan, kemunafikan, ujub, keinginan duniawi, keserakahan, kikir, dan egois. Karena itu sudah merupakan kewajibanmu untuk mengetahui hal itu dan mengetahui sebab-sebab serta pengobatannya.

- Anakku, jika kamu mengetahui penyakit hati, penyebab dan pengobatannya, yang juga kewajiban individu pada setiap mukmin untuk mengetahui hal ini, maka kamu harus berusaha keras untuk membersihkan hatimu dari segala penyakit tersebut dan dari segala bisikan setan dan selanjutnya kamu harus banyak diam, karena Rasulullah, sallallahu alaihi wa sallam, bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam”

- Anakku, jadilah penjaga pintu hatimu, agar tidak ada yang masuk ke dalamnya, maka  perbanyaklah berdzikir kepada Allah dengan hati dan lisanmu, dan beristighasah dan tawassul kepada Rasulullah saw (istighah/tawassul maksudnya seperti ucapan “ya Allah saya beristighasah/tawasul dengan Rasul tercintaMu, agar...), cintai Rasulullah saw dan perbanyak selawat dan salam untuk Baginda.

- Anakku, rajin-rajinlah mentaati Tuhanmu dengan raga dan harta, dan berdoalah kepada-Nya di waktu-waktu doa seperti malam sebelum subuh, setelah shalat wajib dan ketika berbuka puasa dan sepuluh hari terakhir Ramadhan, dan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, khususnya hari Arafah, malam pertama Rajab dan malam pertengahan Sya'ban, dan malam Mi’raj, dan dua malam Ied (Iedul Fitri dan Iedul Adha) dan siangnya, dan hari-hari Tasyriq.

$ads={2}

- Anakku, lakukan shalat dua rakaat shalat Duha atau lebih, juga lakukan shalat Tahajjud, sibukan hati dengan Tuhan, bukan dengan dunia, jika tidak, maka tidur lebih baik. Juga lakukan puasa hari-hari al-Biidh, lakukan dengan pelan-palan (berangsur-angsur) dan bangun untuk shalat tahajud, dan teruskan sampai kamu terbiasa, dan juga pekerjaan lain, dan kerjakan sedikit demi sedikit (namun rutin).

- Anakku, lakukan ini semua seperti yang saya wasiatkan hingga ajal menjemputmu. Tuhan sangat Pemurah, tak akan mengecewakan hamba-Nya yang meminta. Rajin-rajinlah membaca al-Qur’an dan dzikir-dzikir yang menjadi sebab mengantarkanmu kepada husnul khatimah.

- Alhamdulillah ala al-iman wa al-itmam, wa ala sayidina Muhammad afdhal as-sholat wa as-salam [DAT 06 07 2021]

Oleh: Ustadz Amiruddin Thamrin

Demikian Artikel " Biografi Syaikh Said Ramadhan Al Buthi dan Nasihatnya "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama