Antara Islam dan Pemikiran Islam

ANTARA ISLAM DAN PEMIKIRAN ISLAM

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Di antara tema yang sering muncul dalam kancah keilmuan adalah "Fikru Islam (pemikiran Islam)" dan tokoh-tokohnya yang digelari "Pemikir Muslim". Tema dan gelar ini muncul pada pertengahan, abad 19 M dan masih segar hingga sekarang. Banyak dari pengkaji, menulis seputar tema ini. Seperti judul buku Fikri Islami (pemikiran Islam), Sejarah Pemikiran Islam, Perkembangan Pemikiran Islam, Kritikan Terhadap Pemikiran Islam dan tema-tema lain yang tidak jauh dari inti "Pemikiran Islam". Para ulama mencoba melacak asal-muasal tema ini, karena tema tersebut tidak pernah ditemukan sebelum runtuhnya Khilafah Utsmani. Sudah pasti, tema ini muncul tidak secara tiba-tiba, pasti kemunculannya memiliki sebab (asbabul wurud-nya).

Kelompok yang pertama kali mengusung tema ini adalah Orientalis, khususnya para Orientalis yang mengkaji dunia pemikiran Islam. Mereka mengakui bahwa Islam sangatlah luas secara pemikiran, berbagai macam sekte ada dalamnya. Jika dihidupkan kembali, Islam pasti akan menemukan kejayaannya untuk kedua kalinya. Maka, yang pertama kali menghidupkan turats Mu'tazilah adalah mereka, kaum Orientalis. Hal ini disambut dengan baik oleh sebagian tokoh muslim, banyak tokoh muslim yang mencoba mengkampanyekan kembali turast Mu'tazilah, dengan alasan Daulah Abbasiyah dulu kala maju secara peradaban, kebudayaan, keilmuan, karena menganut paham  Mu'tazilah, namun secara tidak langsung pandangan seperti ini seakan menganggap Asya'irah sebagi biang keladi dalam kemunduran umat Islam. Tokoh Liberal Indonesia juga sering mengkampanyekan ini. 

$ads={1}

Tulisan ini hadir bukan untuk mengonter waham ini, tapi lebih menitik fokus pada efek dari tema ini yang sudah sangat sering diasungkan oleh beberapa tokoh. Di antara efeknya adalah banyak orang mengenal Islam dewasa ini hanya sebagai pemikiran yang saling kontradiksi. Orang-orang akan menganggap Islam hanya seputar pemikiran yang boleh diterima juga boleh ditinggalkan. Ya, karena hanya sekedar pemikiran manusia, siapa saja boleh berpikir. Tak hanya itu, gagasan model begini juga membuat orang bingung, Islam itu yang mana sih? Asya'irah, Mu'tazilah, Qadariyah atau Murji'ah kah?

Efek ini bukan sebatas dugaan belaka, tapi realita lah saksinya. Tema "Pemikir Islam" atau "Kajian Pemikiran Islam" dan sejenisnya (yang di dalamnya juga termasuk Asya'irah dan Maturidiyah) menyebabkan tertutup dan hilangnya esensial Islam itu sendiri. Sebab tema ini menampilkan seolah-olah Islam lahir dari badai perdebatan seputar akidah, khilafah, dll. Padahal, Islam telah lahir sebelum badai pergulatan itu dimulai. 

Islam adalah ajaran yang turun dari langit, kemudian disampaikan kepada Sahabat, dan pemahaman Sahabat seputaran akidah satu saf, tidak ada yang berbeda. Kemudian dilanjutkan oleh penerusnya Tabi'in dan Tabi' tabiin yang bertransformasi dalam naungan ahli Kitab, ahli Hadits dan ahli Tazkiyah. Maka, saat badai pergulatan akidah dan sebagainya muncul, mayoritas umat tidak ikut dalam pergulatan itu, malah umat dilarang untuk bersentuhan dengannya. Jadi, akidah seperti Mu'tazilah, Qadariyah dan Jabariyah hanya menyentuh bagian permukaan umat saja, tidak masuk jauh ke dalam, karena saat itu umat terlindungi dengan para Fukaha, ahli Hadits, dan ahli Tazkiyah.

Hingga akhirnya, lahirlah dua tokoh yang menghadapi badai pertengkaran ini, yaitu Abu Hasan al-Asy'ariy dan Abi Mansur al-Maturidi.  Tugas dua tokoh ini bukan menciptakan pemahaman baru, sebagaimana anggapan tetangga sebelah. Tapi, dua tokoh ini hanya menyuarakan dan menyiarkan kembali pemahaman Salaf dalam pergolakan saat itu. Jadi, jelas sangat fatal kalau akidah dua Imam ini dimasukkan dalam tema pemikiran islam. Dan inilah penyebab sebagian ulama enggan diberi gelar sebagai "Mufakkir". Sekian.

Oleh: Muhammad Zulfa

Demikian Artikel " Antara Islam dan Pemikiran Islam "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama