Biografi Syekh Muhammad Zahid Kautsari

BIOGRAFI SYEKH MUHAMMAD ZAHID KAUTSARI

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Di tulisan ini, saya tertarik untuk memulainya dengan perkataan seorang Adib besar Mesir, Muhammad Rajab al-Bayumi mengenai sosok Syekh Zahid, "Jika seorang yang banyak menghafal syair-syair Arab disebut 'Rawiyah', kenapa orang yang banyak membaca, mengajari dan memberi komentar terhadap kitab-kitab turats Islam bahkan sanggup meneliti manuskrip-manuskrip Islam baik yang bahasa Arab atau non Arab tidak digelari demikian?" Ini adalah bentuk kekaguman beliau terhadap Zahid Kautsray.

Jika kita ingin menemukan seseorang yang begitu mencintai agama, mendedikasikan hidupnya untuk ilmu dan agama, yang mutakhassis di berbagai macam ilmu syariah, mulai dari Fikh, Ushul Fikh, Hadits, bahkan Akidah, Mantik, Filsafat dan bahasa Arab, dan bukan hanya sekedar membaca atau menelaah, tapi beliau mampu mengeluarkan permata-permata yang tertanam dalam turats ulama-ulama tersebut, memberi komentar seakan ia langsung bertemu dengan penulisnya, itulah Syekhul Islam Zahid Kautsary. Ilmu baginya bukanlah perantara untuk mencapai tujuan, tapi ilmu itu sendiri adalah tujuannya, karena beliau tahu bahwa mempelajari ilmu adalah bentuk ketaatannya kepada Tuhan, hingga bisa sampai kepada keridhaan-Nya.

$ads={1}

Jika kita juga ingin tahu seperti apa sosok yang pantas disebut Imam, Mujaddid atau Syekhul Islam, Syekh Zahid Kautsary salah satunya. Maka tak ayal jika ulama sekelas Abu Zahra sangat mengaguminya dan mengatakan secara terang-terangan bahwa Zahid Kautsary adalah sang Mujaddid hakiki, bukan kata Mujaddid yang sering diumbar-umbar saat ini, yaitu orang yang menciptakan hal baru dalam agama dan meninggalkan hal-hal yang diajarkan Nabi. Mujaddid hakiki yang dimaksud adalah orang yang memurnikan kembali ajaran Islam dengan menghilangkan segala syubhat dan bid'ah, sehingga inti Islam tetap seperti yang diajarkan oleh Nabi. Dan inilah yang dilakukan oleh Syekh Zahid Kautsary, beliau mencoba mempertahankan ajaran Islam sebenarnya di saat-saat Islam mulai kehilangan jati dirinya ketika simbol Islam imperatur Ottoman runtuh di awal abad 20 dan orang-orang mulai memploklamirkan diri sebagai Mujaddid. 

Memang makna sebuah atsar " ulama warisan para nabi"  yang sering kita dengar terbukti dalam diri syeh Zahid, warisan tersebut bukan berarti hanya kemuliaan saja sehingga ia bisa berbangga dan lebih mulia dari orang-orang lain, tapi warisan tersebut adalah ilmu, akhlak, dan jihad dalam mengumandangkan Islam, menjauhkan syubhat-syubhat dari agama dan mengajari pada manusia hakikat Islam sebenarnya. 

Kelahiran dan Kisahnya

Syekh Muhammad Zahid Kaustasry, nama lengkapnya adalah Muhammad Zahid bin al Hasan al Hilmi. Beliau lahir pada hari Selasa 27/28 Syawal tahun 1296 H atau 14 Oktober 1878 M di desa al-Haj Hasan Efendi dekat daerah Duzga, sebelah timur agak jauh dari Istana. Beliau adalah seorang yang bermazhab Hanafi. Di masa kecilnya, Syekh Zahid mempelajari mabadi-mabadi ilmu dari masyaikh di Duzga, beliau juga belajar di Jami' al Fatih, salah satu instutusi pendidkan Islam terbesar di Turki Ustmani dengan beberapa masyaikh, seperti Syekh Ibrahim al Hakki al ayayyni. Jika ingin mengetahui tentang guru-gurunya lihat saja di kitabnya"at tahrir al wajiz".

Setelah mendapatkan ijazah ilmiyah di tahun 1325 H, beliau pun mengajar di Jami' al-Fatih, dan kemudian diangkat menjadi wakil Syekhul Islam yang mengurusi jalannya pendidikan di Turki Ottoman hingga awal-awal perang dunia 1.

Memang tidak ada yang meragukan kealiman sosok Zahid Kautsary, Bagaimana tidak? Kitab yang masih berbentuk manuskrip yang seharusnya hanya risalah kecil, bahkan tidak bisa disebut kitab, tapi ta'likan atau komentar yang ditulisnya terhadap kitab tersebut bisa dijadikan sebuah kitab lain. Sungguh mengagumkan! Hal ini lah yang membuat Abu Zahra terheran-heran. Penelitian dan telaahnya benar-benar luas, pemahamannya sangat dalam. Dan salah satu kebiasaan uniknya ketika menulis atau mentahkik sebuah kitab dalam tugas resminya di pemerintahan Turki, beliau tidak pernah menuliskan namanya sendiri, sehingga membuat orang yang membacanya tercengang-cegang dan mereka akan berpikir bahwa penulis kitab ini adalah orang Arab bukan Ajam.

Coba saja kita baca kitab-kitabnya, seperti al-Imam Zahid Kaustari: Wasimatuha fi Ilmi wa al-Isnad dan kitabnya Maqalat dan Muqaddimat Kaustary. Makalatnya adalah kumpulan artikel-artikel seputar agama yang isinya sangat jarang kita dapatkan. Wallahi! kita akan dibuat tercegang, dari mana sosok syeh zahid membaca hal-hal seperti ini? Belum lagi kitab Muqaddimatnya yang merupakan kumpulan kata pengantar dan komentarnya terhadap kitab-kitab yang beliau tahkik. Cukup dua kitab itu membuat kita jatuh cinta terhadap sosok ini. Ini masih mengenai ilmunya lho, belum mengenai jihadnya dan budi pekertinya serta sikap tegasnya.

Mengenai tekad dan perjuangannya dalam agama, tentu tak terlepas dari keadaan Turki Ustamani saat itu, Impreatur Turki Ustmani simbolnya Islam Sunni dunia yang telah berdiri berabad lamanya sedang sekarat dan hampir mencapai titik keruntuhan. Para kaum revolusi sudah bermain di pemerintahan, mereka mencoba mengubah kesultanan yang Sunni menjadi Sekuler dan menyebarkan budaya-budaya Barat. Di antara hal yang mereka lakukan adalah memasukkan sistem pendidikan dan kurikulum Barat ke dalam pendidikan negara Turki Ustamani, yang sebelumnya thalib harus menyelesaikan semua mapel selama 15 tahun dan mereka sendiri yang memilih gurunya masing-masing, diubah menjadi 8 tahun dan guru ditetapkan oleh sekolah bukan oleh murid. Tentu saja ini ditentang keras oleh Syekh Zahid, mana mungkin waktu 8 tahun cukup untuk mempelajari semua ilmu, karena sebelum mempelajari ilmu-ilmu maqashid para pelajar harus memahami dulu ilmu bahasa Arab, lebih-lebih dengan ditambahnya kurikulum Barat akan membuat waktu semakin singkat. Jadinya, Syeh Zahid malah diturunkan dari jabatannya.

$ads={2}

Tak sampai di sini, ujian untuk membela agama semakin keras menghadang Syekhul Islam kita, saat tokoh-tokoh Islam sekuler mulai menggerogoti dunia pemerintahan dan ingin mengambil alih kesultanan. Tentulah Syekh Zahid menjadi penentang keras terhadap hal tersebut, hingga membuatnya dihadapkan oleh tiga pilihan. Memilih dipenjara seumur hidup, berarti ia harus menghentikan pengajaran ilmunya dan memadamkan api keilmuannya. Atau ia setuju dan bergabung dengan orang-orang sekuler, pilihan ini seperti menyakiti diri sendiri. Atau pun ia harus memilih hijrah dan meninggalkan tanah airnya ke tempat yang mungkin ia bisa hidupkan kembali lentera ilmu agama, karena bumi Allah sangatlah luas.

Syehk Zahid pun memutuskan untuk hijrah ke Mesir dengan hanya modal pakaian yang dipakainya, meninggalkan anak istrinya. Tapi, sepertinya ujian Tuhan belum cukup menguji hamba yang disayanginya, ia harus bersabar atas meninggalnya anak-anaknya.

Syekh Zahid Hijrah ke Mesir, sebelum akhirnya pindah ke Damaskus. Yang jelas di mana saja tempat ia berada di situl ah bersinarnya lentera ilmu, baik di Mesir atau Damaskus. Orang-orang akan datang padanya untuk melihat seperti apa keilmuan sosok zahid kautsary sang wakil syekhul Islam yang dibicarakan banyak orang. Pelajar yang hadir padanya bukan sekelas penuntut ilmu pemula, tapi memang benar benar penuntut ilmu hakiki. Mungkin kita kenal dengan sosok Abu Fattah Abu Guddah yang banya menulis kita mengenai semangat penuntut ilmu, beliau adalah salah satu muridnya zahid Kautsary, bahkan beliau mencoba mengnisbahkan diri kepada Kautsary sangking fanatik dan cintanya. Semua thalib yang benar-benar mencintai ilmu saat itu pasti bermimpi untuk belajar padanya.

Kewafatan Syekh Muhammad Zahid Kautsari

Beliau wafat hari Ahad, setelah Ashar, 19 Dzul Qaedah 1371 H atau 11 Agustus 1952 M.

Dan Ini saja sepenggal kisah tentang sang Mujaddid, salah satu imamnya umat Islam, Syekh Zahid Kautsary. Sungguh ironis rasanya jika kita mengatakan diri seorang pencinta ilmu atau seorang yang semangat beragama tapi tidak mengenal sosok seperti ini. Sosok zahid kautsary adalah sosok yang harus kita impikan untuk menajdi sepertinya. Semoga ridha Tuhan selalu menyertainya. Dan semoga kita dianugerahkan ilmu, akhlak dan semangat sepertinya.

Oleh: Maulizal Akmal Muhammad 

Demikian Artikel " Biografi Syekh Muhammad Zahid Kautsari "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama