Menghindari Takdir Buruk Karena Takut

MENGHINDARI TAKDIR BURUK KARENA TAKUT

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Bagi yang shubuhannya pake qunut mungkin tidak terlalu aneh jika sering berharap dihindarkan dari taqdir buruk. Dalam doa qunut :

وقنا شر ما قضيت

"Ya Allah lindungi kami dari buruknya sesuatu yang Engkau taqdirkan"

Namu jika dicermati dari sisi ilmu tauhid, ini menimbulkan pertanyaan. 

"Bukankah Allah telah memutuskan taqdir kita sesuai kehendakNya sejak zaman azali, dan keputusan Allah tidak perlu dirubah atau diralat sebab Allah maha bijaksana sehingga tidak mungkin memutuskan sesuatu kurang tepat hingga butuh diralat. Taqdir baik maupun buruk tetap akan terjadi."

ان تؤمن بالقدر خيره وشره من الله تعالى

Taqdir baik maupun buruk itu dari Allah.

Dalam sebuah hadits yang populer di kitab kecil Arbain Nawawi :

رفعت الاقلام وجفت الصحف

."Qolam (pencatat taqdir) telah diangkat dan shuhuf (yang di sana terdapat catatan taqdir) telah kering"

Nah, di sini nampak ada kontradiksi antara doa dan keyakinan. 

Padahal jika dicermati dari lafal doa, hal itu tidak terjadi. Mungkin sedikit kurang teliti saja memaknai doa.

وقنا شر ما قضيت

"Lindungi kami dari buruknya sesuatu yang telah engkau taqdirkan"

Perhatikan, artinya bukan "Lindungi kami dari datangnya taqdir buruk"

Syaikh Nawawi Albanteni memberi penjelasan makna doa seperti ini :

اي احفظني وامنعني فساد ما يترتب ويتسبب على القضاء من السخط وعدم الرضاء بالقضاء والقدر

"Artinya lindungi dan hindarkan kami dari dampak buruk yang disebabkan karena kami tidak ridho atas qodho qodarmu"

Sebagaimana kita tahu, taqdir apapun yang ditimpakan oleh Allah kepada kita, wajib kita terima dengan ridho (rela) tanpa mengeluh apalagi menyalahkan Allah. Tidak rela atas taqdir (Assukht) termasuk dosa batin.

$ads={1}

Makna ini didukung dengan kelanjutan doa qunut 

فلك الحمد على ما قضيت

"Ya Allah, terimakasih atas segala sesuatu yang telah engkau taqdirkan".

Taqdir baik bisa berdampak buruk jika kita salah menyikapi. Sebaliknya taqdir buruk bisa menjadi kebaikan jika sikap kita benar. Kesalahan dalam menyikapi taqdir inilah yang kita doa kepada Allah agar dihindarkan darinya.

Imam Alghazali dalam Minhajul Abidin mengklasifikasi taqdir berdasarkan cara menyikapinya ada empat :

1. Taqdir nikmat : wajib kita rela dan bersyukur

2. Taqdir syiddah (tidak enak) : wajib rela dan sabar

3. Taqdir thoat : wajib rela dan menyadari ketaatan kita adalah anugerah Allah kepada kita, bukan hadiah kita kepadaNya

4. Taqdir maksiyat : wajib rela dan taubat saat itu juga.

Satu lagi, tulisan ini ditaqdirkan lewat di beranda, dan terlanjur sudah panjenengan baca. Maka sikap setelah membaca dan memahami, itulah yang akan dinilai.

Kok panjang ya? Baca dikit aja kalo kepanjangan.

Stttt sudah qunut hari ini?

Oleh: Gus Najih Ibn Abdil Hameed

Demikian Artikel " Perlunya Setiap Muslim Memperkuat Pondasi dan Dasar Bacaan Mereka "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama
close