Kalimat Dzikir 'Huwa' di berbagai Thariqah

KALIMAT DZIKIR 'HUWA' DI BERBAGAI THARIQAH

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Dalam tradisi di berbagai thariqah, terutama Thariqah Samaniyah, Naqsyabandiyah dan Shathariyah, ada dzikir yang hanya mengucapkan "huwa" (هو) atau biasa disukunkan wawunya sehingga terucap "huw". Kalau diartikan harfiahnya adalah "Dia" dengan arti mudzakar mutakallim. Bagi yang belum akrab tentu mendengarnya seperti aneh, lucu dan salah-salah dianggap khurafat. Padahal "Huwa" itu termasuk Asmaul Husna.

Imam Qusyairi menerangkan bahwa "هو" adalah isim maudhu' (kata ganti) yang menunjukkan suatu dzat. Dalam tradisi ulama sufi, kalimat tersebut menggambarkan puncak ketetapan dan eksistensi, bisa juga mengisyaratkan kepada Yang Maha Wujud. "هو" disebut sebagai salah satu ekspresi pengagungan dan menunjukkan tingginya derajat sesuatu di antara sesuatu yang lain. Maka dalam Al Qur'an sering disebut "laa ilaaha illa huwa..", untuk menegaskan Maha Tingginya derajat Gusti Allah. 

$ads={1}

Seperti misal lagunya Anji yang cuma menyebut "Oh Tuhan, kucinta dia" untuk menunjukkan ekspresi kekaguman dan kecintaan kepada seseorang. Saking hormatnya, hingga mulut yang hina ini serasa tidak pantas menyebut namanya langsung. Sehingga bisa disimpulkan bahwa makna dzikir "هو" merupakan suatu ekspresi cinta yang mendalam dan sifatnya sangat personal. 

Kalimat "هو" ini juga bermakna Yang Maha Awal dan Yang Maha Akhir. Dijelaskan oleh Imam Abu Bakar Ibnu Fauruk, "هو" ini terdiri dari huruf ha' dan wawu. Ketika kita mengucapkan "hu", kita mengeluarkan suara dari pangkal mulut atau kerongkongan yang bermakna akhir dari setiap penciptaan. Sedangkan ketika mengucapkan "wa", suara berasal dari mulut yang bermakna awal dari setiap penciptaan. Sehingga "هو" ini adalah representasi dari makna hanya dari-Nya permulaan segala ciptaan dan kepada-Nya pula akhir dari segala ciptaan, namun Dia tidak bermula juga tidak berakhir.

Baca Juga: Ijazah Dzikir ketika Berada dalam Suatu Musibah

Dan semua itu seperti dawuh Gusti Allah sendiri ketika mensifati dzat-Nya, "huwal awwalu wal aakhiru". Huwal awwalu menunjukkan ke-Maha Dahulu-an dzat-Nya. Huwal aakhiru menunjukkan ketidak mungkinan ketiadaan diri-Nya. 

Nah, masih panjang penjelasan tentang "huwa" ini dalam Syarah Asmaul Husna Lil Imam Qusyairi. Semua menunjukkan bahwa "huwa" ketika dinisbatkan kepada Gusti Allah, maka bisa digolongkan dzikir yang bermakna sangat dalam sekali. Untuk bisa mencicipi kedalaman rasa dan meresapi maknanya, tentu harus dengan bimbingan guru secara langsung, mbah. 

Mugi manfaat

Oleh: Fahmi Ali N H

Demikian Artikel " Kalimat Dzikir 'Huwa' di berbagai Thariqah "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama